Sumber : Harian Kompas(Kamis, 10 Mei 2007)
Penulis: Ayang Utriza NWAY (Mahasiswa PhD Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris)
Menjelang pemilihan presiden di Turki 2007, ada pemandangan luar biasa, yaitu bertemunya dua kekuatan pendukung: Islam dan sekulerisme. Ini mengingatkan kita hubungan negara, Islam, dan sekulerisme.
Bagaimanakah hubungan Islam dan sekulerisme? Harus diakui ini merupakan pertanyaan anakronik karena sekulerisme adalah istilah dan fenomena modern. Sementara umur Islam lebih tua ketimbang sekulerisme.
Menghadapi masalah ini, kata Daryush Shayegan, mantan Profesor Studi India dan Filsafat Perbandingan di Universitas Teheran, Iran, dalam buku Le Regard Mutilé, Pays Traditionnels Face à la Modernité, (Paris, L’Aube, 1996, khususnya Bab II), kita mencoba untuk tidak melakukan, yang dalam istilah Perancis disebut, placage, yaitu upaya yang sering tak-disadari, di mana kita menyambungkan dua dunia (Islam dan sekulerisme).
Dua kata ini, Islam dan sekulerisme, ialah contoh konotasi semantik dua istilah yang saling bertentangan. Dari dua kata itu—Islam dan sekulerisme—mana yang lebih aktif dan menentukan? Apakah agama yang menciptakan sekulerisme dan mensakralkannya? Atau, sebaliknya, sekulerisme yang memengaruhi dan membuat sejarah agama menjadi sekuler sehingga agama terlibat proses sekulerisme? Jika demikian, agama menjadi ideologi sekulerisme?
Kita bisa terjebak upaya placage yang beroperasi dalam dua hal berbeda, tetapi hasilnya sama: kita bisa meletakkan wacana modern (sekulerisme) di atas latar lama (Islam), atau sebaliknya, mengambil wacana lama (Islam) diletakkan di atas latar baru (sekulerisme). Jika demikian, kita akan mengalami fenomena distorsi, karena latar yang ditanamkan di atasnya apakah wacana baru atau lama, tetapi merupakan campuran. Ini disebut un regard mutilé, cara pandang terpotong- potong, cacat, dan tak utuh.
Islam tidak pernah mengalami proses sekulerisasi. Islam berbeda dengan sejarah Kristen. Kristen mengalami reformasi internal yang terjadi di Eropa. Sekulerisme adalah hasil dari gugatan terhadap dominasi gereja yang luar biasa. Gereja pada Abad Pertengahan ingin memaksakan kekuasaannya terhadap kekuasaan sipil. Masyarakat sipil menolak kekuasaan absolut gereja. Dalam pandangan mereka, wewenang gereja telah terlampau jauh. (lagi…)