Judul Buku : Manifesto Khalifatullah Penulis : Achdiat K. Mihardja

 Pengantar : Yudi Latif

 Penerbit : Arasy, Bandung

 Cetakan I : Maret 2005

 Tebal : 219 halaman

 
Biasanya, ketika seseorang memasuki usia senja, ada banyak harapan dan penyesalan bercokol di benaknya. Harapan untuk menikmati sisa usia dengan hati khusyuk atau khusnul khotimah saat maut menjemput adalah dua di antara sekian harapan tersebut. Begitu juga dengan penyesalan, biasanya para lansia itu akan berujar; “Sayang sekali. Seandainya aku bisa kembali muda, maka aku akan melakukan ini…itu.” Seolah benar apa kata pepatah bahwa penyesalan selalu hadir di belakang.

Melalui novelet (kispan) bertajuk Manifesto Khalifatullah ini, kita dapat menyimak apa saja yang sedang menjadi harapan seorang kakek renta bernama lengkap Achdiat Karta Mihardja yang telah genap berusia 94 tahun (1911-2005). Menakjubkan! Suatu angka usia yang melampaui rata-rata usia manusia di dunia. Tidak hanya itu, semangatnya untuk tetap produktif menulis menyiratkan suatu pesan bahwa; “fisik boleh kalah dengan yang muda, namun semangat pantang menyerah!”

Dalam kispan ini, baik kisah maupun tuturan yang disampaikan semula berangkat kegelisahan si empunya novel Atheis dalam merespons kondisi masyarakat dunia yang carut-marut di abad 21. Secara garis besar, persoalan yang dibidik tertuju pada isu sekularisme serta dampaknya terhadap praktik sosial maupun keberagamaan. Achdiat mencontohkan betapa imbas sekularisme yang masuk ke Australia dan Indonesia telah membawa agama pada pergeseran paradigma (shifting paradigm) yang cukup signifikan.

Pengarang yang telah lebih dari empat puluh tahun tinggal di Australia dan semasa remaja sempat aktif dalam tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah ini memandang perlunya manusia menyehatkan kembali otaknya yang sudah sakit. Maka, dia pun menghadirkan gagasan bahwa yang dibutuhkan dunia masa kini adalah kehadiran manusia yang mau menyadari jati dirinya. Bagaimanapun, manusia adalah wakil Tuhan atau Khalifatullah di muka bumi. Sebagai wakil Tuhan, manusia seharusnya menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya seperti telah digariskan oleh Tuhan.

 

Dalam novelet yang terbagi menjadi tiga bagian (Prolog, Fantasi Cerah Menembus Gelita Jahiliah Modern, dan Manifesto Khalifatullah) ini, Achdiat menciptakan tokoh ‘Aku’ yang sedang menapaki proses pencarian makna hidup. Si ‘Aku’ dengan sendirinya menjadi akrab dengan tokoh-tokoh besar produk Eropa yang pernah mengubah sejarah dunia, antara lain: Friedrich Nietszche, Karl Marx, Engles, dan lain-lain.More…

 

Si ‘Aku’ juga dipertemukan dengan tokoh produk Asia semacam Sidharta Gautama, atau produk dalam negeri (Indonesia) seperti penyair Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan lain-lain. Namun, dari sekian dialog yang dilakukan dengan sejumlah nama-nama besar itu, ternyata si ‘Aku’ justru lebih tertarik pada gagasan-gagasan seorang kiai nyentrik bernama Abah Arifin.

 

Persekawanan yang dibangun antara si ‘Aku’ dengan Abah Arifin semakin memantapkan batinnya, bahwa konsep manusia sebagai wakil Tuhan bukanlah konsep yang sepele. Manusia perlu merefleksikan jati dirinya. Dunia sudah semakin tua. Semakin sempit! Bahkan kian gila-gilaan.

Satu cerita menarik dari Abah Arifin adalah ketika suatu malam ia dan isterinya berada di suatu pesta dansa. Abah Arifin minta supaya musik yang menghenak ruangan itu dimatikan. Kontan hal itu menimbulkan caci-maki dari hadirin. Namun, dengan santainya kedua pasangan itu-masing-masing membawa stetoskop-menempelkan alat pendengar denyut jantung ke dada masing-masing hadirin.

Setiap Abah Arifin dan isterinya menempelkan stetoskop ke dada orang-orang itu, mereka berdua menggelengkan kepala. “Tetapi dari pentas,” kisah si ‘Aku’, “sepasang lelaki dan perempuan itu hanya tersenyum tenang dan kata-kata tegar meluncur ke bawah, masuk ke dalam setiap hati sanubari hadirin. “Kami hanya sekedar rindu akan lagu merdu yang hilang dalam kekacauan meraung-menyalak-nyalaknya serigala-serigala keserakahan, kemunafikan, dusta, kerakusan bendawi, dan kerakusan kekuasaan duniawi. Demi nafsu egois-egosentrisme ingin menjadi manusia yang paling jago dalam segala-galanya di dunia.” (hlm. 124-125)

Kisah lainnya yang juga menarik adalah saat ‘Aku’ berkunjung ke rumah Abah Arifin. Abah bercerita bahwa semalam ia dan isterinya kedatangan dua orang tamu. Mereka berterus terang bahwa mereka adalah kapitalis-kapitalis Barat yang berusaha mempraktikkan ajaran filosof-filosof sekuler semacam Adam Smith di bidang ekonomi dan Francis Bacon di bidang ilmu pengetahuan. Pada intinya, mereka berdua berasumsi bahwa Tuhan itu idak ada; atau kalaupun ada, tidak berarti apa-apa bagi manusia. Sebab, manusia untuk bertahan hidup di dunia harus melaksanakan beberapa prinsip duniawi-bendawi. Knowledge is power, demikian kata Francis Bacon. Jadi, bukan Tuhan yang berkuasa (?) (hlm. 134-135)

Setelah menyimak fragmentasi kisah-kisah pertemuan si ‘Aku’ dengan beberapa nama besar tersebut, barulah si ‘Aku’ menggiring imajinasi pembacanya dan mengajak kita menyimak langsung ‘khutbah’ yang disampaikan oleh Abah Arifin, yang dikenal dengan Manifesto Khalifaullah.Salah satu butir manifesto itu berbunyi; “Nah, sadarlah wahai manusia khalifatullah! Sadarlah bahwa kaum sekularisme itu bisa ditunggangi oleh iblis untuk menggagalkan tugas kita sebagai khalifatullah! Hadapilah kaum sekularisme Barat itu dengan cara yang tegas, tetapi bijaksana. Tegasnya, terimalah hasil otak brilian mereka yang baik dan bermanfaat bagi kepentingan, kemajuan, keselamatan, dan kebahagiaan umat manusia. Tetapi, tolaklah segala hasil otak mereka yang telah menjadi pinter, tetapi keblinger itu….”Pada akhirnya, karya ini menjadi menarik dan memiliki relevansi dengan realitas dunia masa kini. Betapa banyak hal telah terlupakan oleh kita sebagai manusia, sebagai wakil Tuhan, tetapi banyak yang kepincut menjadi wakil setan. Sehalus apa pun tamparan Achdiat terhadap sekularisme dalam karya mungil ini tetap saja terasa sakitnya. Namun, ada jurus penangkal yang telah dipersiapkan Achdiat dan sangat ampuh, yakni dengan menyisipkan kejenakaan.Di samping itu, penyampaian masalah-masalah seputar isu-isu global dengan gaya bercerita seperti ini tergolong masih jarang dilakukan. Karenanya, diharapkan karya ini mampu memberi inspirasi bagi para penulis muda berbakat lainnya.

fahmi amrulloh