Pada akhir 2006, saya berkunjung ke Turki. Di salah satu media lokal saya membaca kekhawatiran pengamat politik tentang masa depan sekularisme di Turki. Di satu sisi, Turki sedang menyiapkan diri untuk diterima sebagai salah satu negara Eropa, di sisi lain dimensi historis sebagai Dinasti Ottoman, salah satu dinasti Islam terbesar dan terlama, tidak bisa dihapus begitu saja.

Kini kekhawatiran pengamat politik terbuki. Pasalnya, Partai Keadilan dan Pembangunan, partai yang memerintah saat ini mencalonkan Abdullah Gul sebagai satu-satunya calon presiden. Dia tokoh yang didukung PM Recep Tayyib Erdogan dan Menteri Luar Negeri.

Gul dikenal publik sebagai salah satu tokoh muslim dan istrinya memakai jilbab. Bagi kalangan sekuler, bila Gul terpilih sebagai presiden, dikhawatirkan dia akan mengotak-atik sekularisme yang sudah mendarah-daging bagi rakyat Turki.

Karena itu, Panglima Tertinggi Militer Turki menyampaikan pernyataan, jika sekularisme terancam, dia akan mengambil langkah-langkah yang sangat tegas. Kalangan militer akan bertindak sesuai konstitusi yang dibuat di atas fundamen sekularisme.

Publik yang mengimani sekularisme sebagai pilihan ideologi politik juga memberikan reaksi keras. Setidaknya 300 ribu warga yang menghendaki sekularisme tetap bertahan di Turki berdemonstrasi mendukung sikap militer untuk menjaga identitas Turki sebagai negara sekuler.

Di pihak lain, publik yang mendukung inisiatif Erdogan dan pencalonan Abdullah Gul tak tinggal diam. Mereka turun ke jalan untuk mendukung Gul sebagai tokoh yang tepat untuk menjabat presiden Turki. Toh, Erdogan dan Gul berjanji tidak akan membawa misi islamisme ke dalam pemerintahan dan mempunyai komitmen yang kuat untuk mempertahankan sekularisme.

Lalu Apa Masalahnya?

Setidaknya ada dua alasan yang membuat kekhawatiran tersebut berlebihan. Pertama, publik Turki mempunyai trauma sejarah politik yang cukup panjang. Bilamana sekularisme digantikan islamisme, hal tersebut merupakan salah satu kemunduran dalam ranah politik. Mengapa? Sekularisme diyakini telah membawa angin segar bagi perubahan politik yang demokratis. Bagi kalangan sekuler, Turki merupakan satu-satunya negara berpenduduk muslim, tetapi dapat menerima sekularisme sebagai ideologi. Karena itu, bila Gul terpilih sebagai presiden dikhawatirkan muncul upaya-upaya menggoyahkan sekularisme.

Kedua, istri Abdullah Gul adalah seorang muslimah yang taat. Dia perempuan yang memakai jilbab. Dan, jilbab merupakan salah satu ideologi kalangan islamis dan salah satu simbol yang ditolak kalangan sekuler.Bilamana Gul terpilih, istri Gul adalah istri presiden yang pertama menggunakan jilbab. Karena itu, hal tersebut merupakan salah satu kekhawatiran kubu sekuler yang bertahan sejak 1924 hingga sekarang.

Ketiga, istana kepresidenan Turki sejak periode Kamal Attaturk adalah istana yang didiami tokoh-tokoh sekuler. Nah, jika Gul terpilih sebagai presiden, hal itu akan menjadi salah satu preseden buruk bagi kalangan sekuler, karena istana kenegaraan akan ditempati seorang muslim yang identik dengan ideologi islamismenya.

Atas ketiga alasan tersebut, kubu sekuler khawatir Turki akan mengalami kemunduran dalam ranah politik. Publik Turki sadar betul terhadap masalah yang dihadapi sejumlah negara yang mengusung ideologi islamisme. Negara-negara tersebut jauh lebih otoriter daripada negara-negara yang menganut ideologi sekuler, khususnya demokrasi. Islamisme telah menyimpan trauma politik tidak hanya di masa lalu mereka, tetapi juga di masa kini negara-negara lain.

Namun, bila diteliti dengan seksama, kekhawatiran kubu sekuler berlebihan. Kekhawatiran tersebut muncul dari kacamata yang sangat personal, dan karenanya bisa dianggap sangat sempit. Mereka sebenarnya khawatir terhadap sosok Abdullah Gul dan cenderung mengabaikan komitmen Partai Keadilan dan Pembangunan, yang direpresentasikan Erdogan sebagai perdana menteri.

Kendati dikenal sebagai salah satu partai yang beraliran islamis, partai tersebut merupakan satu-satunya partai Islam moderat yang tidak hanya di Turki, tapi barangkali di dunia. Ridwan Sayyed dalam tulisannya di harian al-Hayat mencatat sejumlah keberhasilan selama kepemimpinan Erdogan. Pertama, Erdogan telah menorehkan prestasi dalam bidang ekonomi.

Dalam waktu sekejap, Erdogan mampu mendesain perekonomian Turki menjadi salah satu terminal bagi investor asing, baik yang datang dari Amerika maupun Eropa. Dia menganut pasar bebas dan menekan secara serius pratik kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Kedua, Erdogan mempunyai inisiatif cukup penting untuk mengantarkan Turki menjadi satu negara yang masuk dalam Uni-Eropa. Kendati upaya tersebut belum berhasil, komitmennya untuk menjadi bagian dari Eropa tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ketiga, Erdogan secara politik bisa dikatakan berhasil karena mampu meletakkan politik yang rasional dan objektif. Misalnya, di satu sisi dia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Di sisi lain, dia turut memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina untuk merdeka dan senantiasa mendorong perdamaian di kawasan tersebut.

Dalam peta politik Timur Tengah yang makin kusut, khususnya yang menimpa Iraq dan Iran belakangan ini, Turki merupakan salah satu negara yang mempunyai peran mediasi sangat sentral. Dia bisa menjadi jembatan dan mediator bagi Iraq, Iran, dan Syiria. Begitu pula bagi Amerika dan Eropa. Dia juga telah mengirimkan tentara ke Lebanon dan Afghanistan.

Keempat, Erdogan selama kepemimpinannya membuktikan bahwa Turki merupakan salah satu negara yang aman dibandingkan tahun-tahun sebelum dia memimpin. Dia mampu membuktikan politik yang terbuka dan demokratis, yang dibangun di atas stabilitas ekonomi merupakan keharusan untuk menjadikan Turki sebagai negara yang modern dan maju.

Penulis: Zuhairi Misrawi, analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah.
Jawapos online