Turki Bersiap Hadapi Pemilu

Istanbul – Rakyat Turki tengah bersiap menghadapi pemilihan umum (pemilu) anggota parlemen yang akan berlangsung, Minggu (22/7) esok.
Pemilu kali ini terasa istimewa karena akan menentukan masa depan Turki, apakah tetap menjadi negara yang sekuler atau berubah menjadi negara yang mulai menerapkan Syariah Islam. Itu karena dalam beberapa bulan terakhir, rakyat di negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut mengalami perdebatan terkait dengan prinsip-prinsip sekulerisme.
Salah satu contoh yaitu apakah kaum muslim perempuan diperbolehkan mengenakan jilbab saat berada di acara resmi maupun di kantor-kantor pemerintah. Namun, perdebatan atas pemakaian jilbab tersebut menyebar ke isu yang lebih luas. Hal tersebut terlihat beberapa bulan lalu saat kaum sekuleris marah atas proposal dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) – partai Islam yang sedang berkuasa di parlemen – yang mencalonkan Menteri Luar Negeri Abdullah Gul sebagai kandidat presiden baru Turki.

Masalahnya, istri Gul terbiasa memakai jilbab saat bepergian dan menurut kalangan oposisi hal tersebut bertentangan dengan prinsip sekulerisme yang telah dianut sejak dekade 1920-an. Bagi kalangan oposisi, akan menjadi hal yang memalukan bila istri Gul menjadi Ibu Negara dan tinggal di kediaman presiden yang pernah dihuni oleh mendiang Mustafa Kemal Ataturk – bapak pendiri Turki modern yang menjadikan negerinya sebagai negara sekuler dari kehancuran Kekaisaran Ottoman.
Akhirnya, kalangan oposisi yang sekuler memboikot mekanisme pemilihan presiden di parlemen tersebut. Sikap oposisi tersebut didukung oleh sebagian rakyat Turki yang hampir setiap akhir pekan menggelar demonstrasi massal di beberapa kota. Pemerintah pun dipaksa mencabut pencalonan tunggal Gul dan menyerukan diadakannya kembali pemilu parlemen pada 22 Juli.
Larangan memakai jilbab pertama kali diterapkan di kampus-kampus tak lama setelah kudeta militer tahun 1980 oleh sejumlah perwira. Sejak saat itu mahasiswi dilarang memakai jilbab saat masuk kampus. Aturan serupa diterapkan di kantor-kantor pemerintah. Partai AKP sendiri selama ini tidak mengampanyekan diperbolehkannya pemakaian jilbab dan menyatakan berkomitmen mendukung prinsip-prinsip yang sudah berlaku di Turki. Namun, sikap AKP – yang menguasai parlemen sejak 2002 – tetap mengundang kecurigaan dari kalangan oposisi yang sebagian besar mendukung sekulerisme.

Dijagokan Menang
Sementara itu, sejumlah survei mengungkapkan bahwa Partai AKP pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dijagokan kembali memenangi pemilu parlemen. Namun, kemenangan tersebut tidak akan mutlak seperti pemilu sebelumnya. Dalam wawancara di suatu stasiun televisi, beberapa waktu lalu, Erdogan menyatakan partainya akan mengkaji kontroversi pemakaian jilbab dan prinsip-prinsip sekulerisme. Dia juga menekankan pentingnya “konsensus institusional” untuk meredam konflik tersebut. (ap/ren)  

Copyright © Sinar Harapan