RepublikaKamis, 11 Maret 2004

Oleh : Mohammad Safari

Presiden Megawati bersuara keras di dalam International Conference of Islamic Scholars Februari lalu. Ia menolak pendudukan AS atas Irak dan pelarangan jilbab di Prancis. Ia mengecam ketidakadilan negara-negara besar terhadap Islam. Bahkan kita merasa, Barat menempatkan Islam dalam posisi sangat dilematis, sebagai pendukung dan pelaku terorisme global.

Namun, kita khawatir, perasaan tak nyaman yang dialami kaum Muslimin ini bisa saja semakin memicu konflik dan ketegangan-ketegangan. Kegagalan membuktikan keterlibatan Irak dalam skandal senjata perusak massal justru meningkatkan ketidaksukaan warga dunia atas arogansi kekuasaan hegemonik yang dipertontonkan dua aliansi strategis, AS dan Inggris. Kebohongan itu membuktikan motif sebenarnya dari invasi, yaitu motif kapitalisme untuk menguasai sumber-sumber minyak Irak.

Di wilayah Barat lain, yakni Prancis, kita juga menyaksikan tragedi kemanusiaan dari sekularisme radikal. Ia secara jelas memperlihatkan wajah aslinya dalam melawan keyakinan asasi bagi setiap orang, termasuk hak kaum Muslimah untuk memakai jilbab sebagai wujud dari realisasi perintah agama. Bila kita cermati, kapitalisme dan sekularisme radikal itu sebenarnya lahir dari etos Protestanisme yang kini membentuk dua arus utama peradaban Barat yang mendominasi dunia.

Konsekuensi historisnya dalam mengembangkan dua pilar peradaban tersebut dilakukan melalui infiltrasi total terhadap Islam selama berabad-abad, mulai dari intervensi militer, penyusupan intelijen, kontrol politik, pengendalian ekonomi, sampai dominasi kebudayaan. Runtuhnya Imperium Otoman menandai pudarnya potensi-potensi dunia Islam yang memiliki weltanschaung politik berupa sistem kekhalifahan dan tauhid dan sekaligus menciptakan ”batas-batas” yang berdarah.

Kapitalisme global

Ini bermula dari akhir abad ke-18. Kekacauan dan dinamisasi terjadi di Eropa. Revolusi sosial dan pergolakan itu mengubah pandangan manusia dari keyakinan kepada Tuhan menuju penyembahan alam materi yang sekularistik. Peran agama dipisahkan dari fungsi agama. Akibatnya, komersialisasi dan industrialisasi kehidupan, revolusi sains, dan visi keduniaan berubah dari persoalan moral dan keyakinan kearah kapitalisasi kehidupan, pasar bebas, peluang-peluang hedonisme, dan free-sex yang meluas.

Pelaku-pelaku utama dan penguasa dominannya adalah para bankir, pemilik perusahaan multinasional, dan para elite politik sekuler. Semangat atheisme ”hidup dan biarkan hidup” merupakan etos dominan yang menyertai visi kehidupan ini. Di tangan politisi, visi ini menciptakan konflik-konflik historikal secara vertikal maupun horizontal. Korban-korban bergelimpangan, kebanyakan dari kaum tertindas dan Muslim. Semangat merkantilisme yang melahirkan kolonialisme klasik itu akhirnya berhasil memecah belah bangsa-bangsa Muslim ke dalam dominasi politik Negara-negara Misi (Katolik) dan Zending (Protestan).

Kekuasaan Barat menaklukkan kekuasaan bangsa-bangsa Muslim. Sehingga, kontrol sumber daya global ini dirancang melalui aneksasi, invasi militer, pengaruh politik, kolaborasi, dan hegemoni kapitalisme global. Pusat dominasi dan kekuasaan bergeser dari London ke Paris, lalu berpindah ke Washington. Pascaperang dingin, struktur kekuasaan internasional berubah secara radikal. Munculnya hegemoni unipolar AS-Anglo-Saxon telah menciptakan suatuketidakseimbangan kekuatan-kekuatan militer dan secara relatif, penguasaan ekonomi di tangan kapitalisme.

Bila abad ke-19 merupakan abad Eropa, maka abad ke-20 menjadi sebuah abad Atlantik, yang dikuasai aliansi AS-Inggris. Tapi, konsolidasi dan dinamisasi berbagai kekuatan strategis masih terjadi. Satu sama lain dari kuasa-kuasa besar itu (great powers) masih memperebutkan batas-batas strategis dari kekosongan geopolitik dan perubahan geo-ekonomi. Negeri-negeri di Balkan, Kaukasia, Asia Tengah, dan Timur Tengah adalah region utama di mana konfrontasi-konfrontasi strategis ini terjadi.

Sehingga kita bisa melihat pergolakan terus-menerus muncul di wilayah pinggiran Eurasia ini seperti Bosnia, Chechnya, Kazakhtan, Afghanistan, Palestina, dan Irak. Hal-hal tersebut di atas adalah fakta tentang kekuatan-kekuatan besar (great powers) yang mempunyai visi berlainan berkaitan dengan masa depan region yang kaya raya dan sensitif ini. Region ini memang tak hanya tulang punggung Eurasia yang strategis, tapi juga suatu area sumber daya geo-ekonomi yang sangat kaya.

Potensi minyak di Azerbaijan dan Afghanistan, sumber-sumber air di timur Turki, dan ladang-ladang minyak di Kirkuk, Irak utara, Iran, dan Kuwait, semua semua diperhubungkan secara strategis ke tiap-tiap satu ke lainnya. Matinya kolonialisme akibat kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah kemudian diganti oleh mekanisme baru untuk mempertahankan hegemoni dan dominasi. Sistem itu dibentuk melalui tatanan dunia pascaperang yang didasarkan atas kontrol ekonomi dan dominasi finansial. Bank Dunia dan IMF diciptakan sebagai pusat kontrol ekonomi dan keuangan dunia.

Prosesnya didasarkan atas bantuan ekonomi dengan tali pengikat yang memastikan berlanjutnya arus-arus keuangan dari negara-negara miskin dan berkembang ke negara-negara kaya dunia, yakni Eropa dan AS. Banyak dari bantuan finansial tersebut hanyalah berupa ikatan untuk penjualan dan pembelian persenjataan dan peralatan perang. Sehingga, bantuan tersebut tidak terpakai untuk membangun bangsa-bangsa Muslim kecuali habis oleh korupsi, pembangunan infrastruktur, dan industri yang salah dan pembelian persenjataan agar kekuasaan dan tekanan-tekanan regional dapat dikontrol.

Konflik Palestina-Israel, Biafra-Nigeria, Zimbabwe, India-Pakistan, Irak-Iran, Chechnya dan Serbia ditandai sebagai wilayah hot spots yang selalu membutuhkan peningkatan persenjataan militer. Memang, kesalahan fatal dari dunia Islam adalah sebuah kegagalan dalam memahami sifat alami dari peradaban barat, yang didasari oleh prinsip sentralitas ekonomi. Misalnya, fakta di Inggris dan negara-negara Barat, kaum feodal selalu memperoleh keistimewaan di dalam pengaturan kekuasaan dan roda ekonomi. Suatu karakter sosial yang hanya menguntungkan segelintir elite.

Hal ini kemudian diadopsi melalui aplikasi teori-teori develomentalis yang cenderung mengorbankan kepentingan rakyat dan keuntungan birokrat dan para elite ekonomi maupun politik saja. Para politikus awal di negara-negara Muslim, mulai dari Jamaluddin Afghani, Mohammed Abduh, Kemal Ataturk, Sukarno, Nasser, para sheikh Arab dan Teluk, gagal memahami karakter Barat. Begitu pun generasi pemimpin berikutnya tetap mempercayai skenario ekonomi-politik yang didesain dan ditentukan oleh negara-negara kapitalis tersebut.

Misalnya, laporan-laporan intelijen tahun 1970-1972 ke Presiden Soeharto tentang bahayanya teori developmentalisme World Bank, ADB, dan IMF ditolak. Kita seharusnya dapat memahami proses globalisasi. Tentu saja semua individu dari peradaban-peradaban tradisional termasuk kaum Muslimin diharapkan mampu bertahan melawan karakter ”tidak berperikemanusiaan” dari struktur hegemonik kapitalisme ini.

Perspektif kita didasarkan pada asumsi bahwa globalisasi merupakan suatu proses langsung dari kekuasaan ”pusat” untuk menguasai dan mendominasi ”pinggiran” (center to pheriphery), berkembang dan meluas dari Eropa dan Atlantikatau sering disebut Anglo Saxonke bagian-bagian lain dunia yang tak berdaya.

Sekularisme radikal

Sejarah mencatat, PD I menghasilkan kekalahan bagi imperium Otoman dan pendudukan militer atas berbagai wilayah strategisnya yang membentang dari pinggiran sampai pusat Eurasia. Sedangkan tanah-tanah Arab dikolonisasi, terkecuali mungkin Iran, Afghanistan, dan Anatolia. Semua wilayah yang ditempati kaum Muslimin akhirnya berada di bawah kekuasaan negara-negara Eropa. Setelah itu, lahir republik sekuler Turki tahun 1924, yang menandai awal dari bencana besar di dunia Islam.

Fenomena sekularisme radikal pertama kali dipraktikkan oleh pemerintah Turki dengan membunuh lebih dari 12 ribu ulama Islam, melarang adzan dan jilbab, menghapus bahasa Arab, memberangus kitab-kitab, dan menutup sekolah-sekolah Islam. Pada waktu sekularisme berkuasa, pemerintah Turki cenderung menjalin hubungan sangat akrab dengan Israel melalui aliansi militer dan mengabaikan peristiwa-peristiwa holocaust terhadap bangsa Palestina, yang notabene adalah umat Islam.

Namun, pascaberkuasanya kekuatan Islam di pucuk pimpinan pemerintah melalui kemenangan mayoritas Partai Keadilan dan Pembangunan, Turki mencoba menjalin hubungan baru melalui aliansi dan pertemuan-pertemuan antara Turki dan negara-negara Arab. Perubahan dari kekuasaan sekuler ke kebijakan Islamis berlangsung dinamis di republik ini. Bahkan, Turki berusaha membangun sebuah kebijakan yang lebih seimbang terhadap region ini.

Misalnya, pascainvasi AS ke Irak, PM Turki, Tayyib Erdogan justru mendeklarasikan bahwa agresi Israel di Palestina sebagai sebuah gelombang baru ”pembersihan etnik dan genosid”, seperti apa yang telah terjadi terhadap bangsa Muslim Bosnia. Bahkan Turki juga tetap mengakui Yasser Arafat sebagai pemimpin yang sah bagi Palestina. Berikutnya adalah fakta lain dari kedzaliman sekularisme, yaitu Aljazair.

Kasus Aljazair bisa dijadikan contoh, apakah Barat memang benar-benar demokratis? Awalnya, bangsa ini percaya terhadap slogan demokrasi sampai partai Islam memenangkan pertarungan di dalam pemilihan lokal dan berhasil membangun sebuah infrastruktur sosial-ekonomi di tahun 1980-an. Tapi malang sekali, Barat menunjukkan ambivalensi dan ketidaktoleranannya bagi kekuatan-kekuatan demokratis di negeri tersebut. Politik Barat, khususnya Prancis, akhirnya mendukung kudeta militer untuk membatalkan kekuasaan Muslim dan menceburkannya ke dalam perang sipil paling berdarah dalam sejarah Aljazair.

Dalam konteks ini kita melihat, keyakinan yang luas terhadap sistem Islam tak lagi memperoleh penopang berupa kekuasaan politik. Fenomena demikian terjadi selama 80 tahun. Islam dipinggirkan dari arena politik dan konstelasi strategis. Adapun kekuasaan sekuler berhasil memimpin dominasi politik dan ekonomi. Bahkan memenangkan berbagai front pertempuran militer dan politik, sekaligus membuktikan bahwa filosofi sekularisme sangat tidak demokratis, bahkan antiagama.

Itulah Barat. Standar ganda, ambivalensi, dan sekularisme radikal merupakan tipikal historis karakter kaum barbarian yang kini melandasi peradaban Barat. Karena itu, ketidakadilan dan ambisi penaklukan menjadi ciri khas dari agenda politik Barat, termasuk pelarangan jilbab di Prancis, invasi militer atas Irak dan Afghanistan, ancaman militer terhadap Iran, Libya, dan Suriah, tuduhan kepada Saudi Arabia sebagai biang teroris, dan ditundanya Turki masuk ke Uni Eropa.

Semua itu adalah agenda untuk menguasai dunia Islam, bukan hanya Timur Tengah. Bahkan isu terorisme dan reformasi politik di negara-negara Muslim hanyalah awal dari suatu agenda jangka pendek, bukan ujung sasaran. Hal ini disebabkan, secara geopolitik dan geostrategis, dunia Islam merupakan wilayah paling dinamis di dunia. Wilayah ini mencakup area sepanjang batas-batas internasional dari Afrika ke Asia Tengah.

Kendali dan kontrol terhadap wilayah ini merupakan upaya Barat untuk menghancurkan tumbuh berkembangnya konsolidasi dunia Islam. Kita saksikan, aliansi Tran-Atlantik ini, tanpa peduli, melanjutkan misi besar mereka untuk menguasai seluruh sumber daya geo-ekonomi dan geopolitik dunia hanya demi memuaskan nafsu dan ambisi kapitalisme globalnya. Adapun sekularisme radikal tampaknya cuma salah satu alat politik untuk arogansi kekuasaan melawan Kekuasaan Allah. Pertarungan al-haq dan al-batil sejatinya, memang, akan terus berlanjut sampai al-haq dimenangkan, keadilan ditegakkan, dan rahmatan lil’alamiin dapat diwujudkan. nPeneliti di Center for Middle East Studies (Comes)