Istilah sekular berasal dari kata Latin, saeculum, yang menunjuk pada masa kini atau waktu ini. Dalam pengertiannya yang luas, sekularisme dikaitkan dengan pemisahan antara agama dan non- agama, seperti politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan.

Praktik sekularisme di berbagai negara tidak pernah sama, melainkan bersifat kontekstual, sesuai dengan kondisi sosial budaya suatu masyarakat. Di Malaysia, misalnya, kata tersebut dewasa ini mempunyai citra buruk dan disejajarkan dengan korupsi, penyelewengan kekuasaan. Pengenalan dan penerapan nilai modern dan sekular yang diikuti terciptanya rezim tidak demokratis membuat konsep tersebut mempunyai kesan negatif dan ditolak.

Buku ini menyajikan sembilan kajian sekularisme di beberapa negara Asia, seperti Indonesia, Jepang, Pakistan, dan Thailand. Empat di antaranya pernah diwacanakan dalam seminar “The Future of Secularism” di Yale University tahun 2004, termasuk karya Goenawan Mohamad.

Satu-satunya tulisan yang khusus dipersembahkan untuk buku ini adalah karya Siti Musdah Mulia, doktor di bidang pemikiran politik Islam, yang menyoroti posisi perempuan dalam arus sekularisme. (THA/Litbang Kompas)