Prof. Mark Juergensmayer:

31/07/2003

Datang ke Indonesia atas undangan Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Islam Negeri, Jakarta, dan Netherlands Cooperation in Islamic Studies, peraih penghargaan National Grawemeyer Award itu didaulat sebagai pembicara dalam seminar internasional tentang ‘Gerakan Islam Militan di Asia Tenggara’.

AGAMA dihinakan dan karenanya kaum penganutnya harus bertindak. Ini salah satu kesimpulan yang didapat Profesor Mark Juergensmayer, guru besar Studi Sosiologi dan Agama Universitas California, Santa Barbara, Amerika Serikat, terhadap fenomena munculnya gerakan-gerakan militan keagamaan di banyak sudut dunia, termasuk di Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, ia melakukan studi selama 15 tahun, mengamati dari dekat fenomena kekerasan kelompok agama di berbagai belahan dunia. Mulai dari pembunuhan Indira Gandhi di India, sampai Tragedi 11 September di World rade Center (WTC), New York, Amerika Serikat. Profesor Mark mewawancarai berbagai pelaku kekerasan yang berlandaskan agama, seperti pemimpin Hamas, Syekh Ahmad Yassin. “Saya seperti pemadam kebakaran, di mana ada kekerasan agama di suatu tempat, saya akan datang kesana,” ujarnya sembari tertawa.

Bukunya, Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, menyoroti fenomena ‘Perang Dingin Baru’, di mana westoxifikasi budaya, kebijakan luar negeri dan globalisasi sekulerisme melahirkan persepsi penghinaan dan ketertindasan berbagai kelompok agama. “Ini bukan hanya dirasakan oleh Islam semata,” ujarnya.

Datang ke Indonesia atas undangan Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Islam Negeri, Jakarta, dan Netherlands Cooperation in Islamic Studies, peraih penghargaan National Grawemeyer Award itu didaulat sebagai pembicara dalam seminar internasional tentang ‘Gerakan Islam Militan di Asia Tenggara’. Tempo News Room berkesempatan melakukan sebuah perbincangan khusus pada Rabu (23/7) siang di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Berikut petikannya. Mengapa Anda mengatakan, dalam buku Anda, saat ini telah tercipta ‘Perang Dingin Baru’? Saya melihat bangkitnya kesadaran keagamaan di banyak belahan dunia. Dalam beberapa dimensi, seperti membangkitkan kenangan perang dingin dulu, di mana tercipta persepsi bahwa pihak yang di seberang itu jahat. Di dunia Islam, banyak tercipta persepsi bahwa Amerika Serikat dan Barat itu jahat dan di Barat juga terdapat persepsi bahwa Islam agama yang penuh dengan kekerasan. Yang berbeda dari persepsi Samuel Huntington adalah bahwa konsepnya tidak sesederhana ada Islam di satu pihak dan Barat di pihak lain. Ini perang yang diciptakan oleh persepsi. Ada introduksi konsep perjuangan agama dalam menjawab masalah sosial. Sebuah pertarungan kosmik antara kebaikan dan kejahatan, benar dan salah, agama dan sekulerime.

Jadi, menurut Anda, ini bukan perang Islam versus Barat? Betul. Pengeboman gedung Federal di Oklahoma oleh gerakan Kristen militan juga sebenarnya memiliki pola yang sama dengan pengeboman di Bali. Pendekatan studi yang saya lakukan mencoba memahami ‘pandangan dunia’, bagaimana sebenarnya kelompok-kelompok ini memandang dunia. Bukan sekedar mengetahui, apakah mereka memandang dunia dalam persepsi dunia sedang dalam keadaan perang, tetapi mengapa. Setelah berbicara dengan banyak pelaku, saya menemukan tumbuhnya sikap ketidaknyamanan makro akibat globalisasi dan perubahan sosial. Ada banyak luapan kekecewaan dan kemarahan yang hadir di berbagai belahan dunia, bukan hanya dunia Islam, akan serangan westoksifikasi. “Serangan” budaya barat terhadap nilai spiritual yang mendominasi setiap pemandangan di depan mata, di media massa seperti majalah dan televisi. Dominasi politik dan ekonomi AS dan Barat, dengan bauran persepsi ini, kemudian juga menjadi sumber kemarahan baru. Ada fenomena menentang globalisasi dan modernisme yang seakan hendak mengendalikan dunia. Reaksi kekerasan pun akhirnya menjadi pilihan.

Globalisasi itu sendiri atau persepsi mengenai globalisasi yang salah? Ini terkait. Kenyataannya, harus diakui, AS dan Barat adalah pihak yang paling diuntungkan dengan globalisasi. Karenanya, menjadi penting untuk mencari cara komunikasi yang menunjukkan globalisasi seharusnya kompatibel dengan upaya membangun nilai religiusitas dan harus juga dicarikan cara agar terbuka akses yang sama untuk menikmati hasil globalisasi

Tapi bagaimana itu bisa melahirkan kekerasan? Adanya perasaan bahwa mereka telah dizalimi dan nilai suci yang dihargai dikesampingkan. Adanya perasaan bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan. Dalam beberapa kasus, hal ini nyata seperti di Palestina. Kasus lainnya, mereka mengidentifikasikan diri dengan pihak lain yang menjad korban kekerasan seperti di Irak atau Afghanistan, misalnya. Akhirnya pilihan yang diambil adalah kekerasan. Semua aksi kekerasan keagamaan adalah respon dari persepsi bahwa komunitas dan nilai-nilai tradisionalnya telah dihina dan dipermalukan. Harus ditemukan cara untuk memulihkan harga diri dan martabat. Saya pernah berdialog dengan Dr. Abdul Azis Al Rantissi, juru bicara Hamas. Ia mengatakan bahwa perang Israel-Palestina bukanlah perang memperebutkan tanah, tapi memulihkan izzah, kemuliaan dan martabat. Pendudukan Israel, bukan merampas tanah, tapi juga menghancurkan harga diri dan martabat. Dan harus dilakukan cara untuk memulihkannya. Ada harga diri dan kebanggaan yang dipulihkan ketika mampu menghadirkan ketakutan kepada musuh.

Adakah cara untuk meminimalisirnya? Yang harus kita luruskan adalah bahwa masyarakat sekuler, yang terdefinisi dalam persepsi masyarakat spiritual, meracuni nilai-nilai tradisional. Yang harus kita beri contoh adalah bahwa dunia sekuler kompatible dengan nilai-nilai religiusitas. Sekulerisme kenyataannya juga melindungi dan memelihara nilai-nilai tradisional.

Tapi kita kesulitan menunjukkan contoh sekularisme yang ramah tersebut. Kebijakan luar negeri AS dan rezim sekuler di negara-negara muslim juga tidak menunjukkan contoh sekularisme yang bermoral? Anda betul sekali. Dan ini kasus yang terjadi di banyak negara Islam lain, seperti di Mesir, Arab Saudi dan lainnya. Rezim sekuler lokal di negara-negara muslim kerapkali, harus diakui, korup, melupakan nilai moral tradisional dan phobia terhadap Islam politik. Tambahan lagi sistem politik tidak merefleksikan kehendak rakyat dan pembangunan ekonomi tidak mensejahterakan dan tidak merata. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Persepsi kaum agamis kemudian menyalahkan sekulerisme. Saya merasa seharusnya hasilnya tidak begitu dan tidak harus seperti itu. Kalaupun terjadi seperti itu, maka problemnya bukan pada konsep sekularisme itu sendiri. Masyarakat yang toleran, yang menjadi prinsip sekulerisme seharusnya sejalan dengan religiusitas. Masyakarat sekuler juga sesungguhnya dapat kompatibel dengan nilai-nilai religiusitas. Masalahnya adalah, manakala muncul aksi kekerasan dengan landasan agama, sulit untuk menghindari masalah yang semakin buruk. Persepsi bahwa sekulerisme memusuhi agama akhirnya semakin terbenarkan.

Bagaimana menunjukkan sebaliknya, ketika kebijakan luar negeri AS juga menjadi sumber masalah? Itulah. Seperti yang saya katakan tadi, ketika terjadi serangan AS ke Afghanistan dan Irak, banyak dunia Islam mengekspresikan kemarahannya. Kenyataannya, kemarahan dan kekecewaan juga dirasakan banyak orang Amerika sendiri, seperti mahasiswa-mahasiswa di kampus saya. Kecaman dan kritik juga mengalir dari seluruh dunia seperti Jerman, Italia, Spanyol, Brasil dan banyak negara non-muslim lainnya. Ini jelas kebijakan luar negeri yang salah.

Tetapi di dunia Islam, label yang terbaca adalah ‘Islam Under Attact’? Anda memberi kalimat yang bagus soal itu. Betul. Permasalahannya ada pada persepsi. Artinya, yang harus kita lakukan adalah mengkoreksi persepsi tersebut. Itulah sebabnya saya tidak setuju terhadap kebijakan menyerang Irak karena justru akan mengobarkan persepsi perang dingin yang sudah ada. Serangan tersebut bisa menjadi legitimasi bahwa persepsi tetang AS sebagai ’setan besar’ ternyata benar. Yang harus kita luruskan adalah bahwa masyarakat sekuler itu kompatibel dengan agama. AS, apabila ingin memenangkan ‘perang’ini, justru seharusnya menunjukkan contoh yang baik. Reaksi berlebihan akan menjatuhkan dengan posisi yang sama jahatnya dengan mereka yang melakukan teror. Ini akan mengancurkan kepercayaan, dan orang akan bertanya, “bukankah Anda sendiri juga teroris?”

Bagaimana agama dapat menjadi solusi? Sikap religius dapat menjadi bagian dari solusi untuk menunjukkan bahwa sekulerisme dapat kompatibel dengan nilai moral. Agama menyediakan saran untuk melakukan kekerasan dan sekaligus menawarkan antidotnya. Agama sebenarnya hanya berfungsi sebagai jalan keluar dalam mengkritik dan memobilisasi kekerasan. Harus dan sudah banyak dibuktikan nilai spiritual yang ingin ditampilan dalam kehidupan publik yang lebih luas juga tidak masalah dalam masyarakat sekuler. Seharusnyalah masyarakat sekuler mendukung agama dan tidak selalu keduanya harus diwarnai dengan konflik.

Kenyataannya dalam Islam, sering dipersepsi tidak ada pemisahan antara politik dan agama. Sebenarnya pemahaman seperti ini juga ada di Kristen, bukan hanya di Islam. Saya pernah bertanya kepada pemimpin agama Islam di Mesir yang juga menyatakan ada berapa perbedaan level harapan umat Islam terhadap penerapan syariah. Yang menjadi kata kuncinya adalah adanya reaksi atas tekanan global yang mengundang kecemasan akan hilangnya hubungan nilai-nilai moral tradisional. Kecemasan ini juga dialami masyarakat AS. Mereka tidak berbeda dengan kelompok Islam di Indonesia. Untuk kasus negara-negara muslim, ada juga ketidakpuasan terhadap dominasi global AS.

Konsep Jihad dalam Islam sendiri? Itu bukan hanya konsep milik Islam. Tidak bisa menyalahkan konsep ini. Dalam Kristen pun ada doktrin yang sama tentang perjuangan untuk menegakkan kebenaran yang harus dilakukan dengan cara perang. Ini ada dalam setiap agama. Agama memberikan pilihan bagaimana memperbaiki penyimpangan dan menegakkan kebenaran. Masalahnya, kebanyakan mereka yang akhirnya memilih kekerasan karena tidak punya pilihan. Baik karena fakta ataupun persepsi tidak adanya pilihan. []