Thursday, 13 March 2008

Oleh: Fadhli Yafas

Sekularisme jika diyakini dan diterapkan, akan dapat menghancurkan konsep Islam yang agung, yaitu Khilafah. Jadi sekularisme bertentangan dengan Khilafah. Sebab sekularisme melahirkan pemisahan agama dari politik dan negara.

Ujungnya, agama hanya mengatur secuil aspek kehidupan, dan tidak mengatur segala aspek kehidupan. Padahal Islam mewajibkan penerapan Syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, seperti aspek pemerintahan, ekonomi, hubungan internasional, muamalah dalam negeri, dan peradilan. Tak ada pemisahan agama dari kehidupan dan negara dalam Islam. Karenanya wajarlah bila dalam Islam ada kewajiban mendirikan negara Khilafah Islamiyah. Sabda Rasulullah SAW:

“…dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” [HR. Muslim]

Dari dalil yang seperti inilah, para imam mewajibkan eksistensi Khilafah. Abdurrahman Al Jaziri telah berkata: “Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad) –rahimahumulah( telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam (Khalifah)…” Maka, sekularisme jelas bertentangan dengan Khilafah. Siapa saja yang menganut sekularisme, pasti akan bersemangat untuk menghancurkan Khilafah. Jika sekularisme ini dianut oleh orang Islam, maka berarti dia telah memakai cara pandang musuh yang akan menyesatkannya. Inilah bunuh diri ideologis paling mengerikan yang banyak menimpa umat Islam sekarang. Padahal, Rasulullah SAW sebenarnya telah mewanti-wanti agar tidak terjadi pemisahan kekuasaan dari Islam, atau keruntuhan Khilafah itu sendiri. Sabda Rasulullah : “Ingatlah! Sesungguhnya Al Kitab (al-Qur`an) dan kekuasaan akan berpisah. Maka (jika hal itu terjadi) janganlah kalian berpisah dengan al Qur`an!” [HR. Ath Thabrani].

Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu. Maka setiap kali satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan dengan simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah pemerintahan/kekuasaan. Sedang yang paling akhir adalah shalat.” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim].

Sekularisme dan Kerusakan Akibat Dominasinya

Usaha bangsa Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah kaum muslimin baru terealisir setelah Perang Dunia 1. Perancis, Inggris, Italia dan Rusia mulai menduduki wilayah-wilayah kaum muslimin. Hingga tahun 1920 hanya empat wilayah kaum muslimin yang masih tetap medeka dari berbagai bentuk pemerintahan non-muslim yaitu Turki, Arab Saudi, Iran dan Afghanistan[45], walaupun memang pemerintahan-pemerintahan tersebut(dengan segala model koneksinya(tidak lepas dari pengaruh bangsa Barat.

Penjajahan terhadap negeri-negeri muslim, sebenarnya adalah model dari respon bangsa Barat terhadap keberadaan Peradaban Islam. Islam, sebagaimana yang dinyatakan Huntington, adalah satu-satunya peradaban yang mampu membuat Barat selalu berada dalam keraguan antara hidup dan mati, dan ia (peradaban Islam-pen) telah melakukannya setidak-tidaknya dua kali[46]. Penjajahan ini merupakan sebuah bentuk dari upaya Barat untuk memenangkan kontestasi antar peradaban dan agama, peradaban dan agama Islam disatu sisi dan peradaban Barat dengan agama Kristennya di sisi lain. Kontestasi (atau konflik dalam bahasa Huntington) fundamental antara dua peradaban besar dan dua way of life ini akan terus terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana pernah terjadi empat belas abad yang lalu[47].

Adalah penting bagi Barat untuk memastikan kelumpuhan permanen kekuatan Islam. Penjajahan secara fisik hanyalah babak awal dari periode penguasaan Barat terhadap kaum muslimin. Tahap pertama penjajahan bangsa Eropa, setelah para tentara dan birokrat, masuklah kaum misionaris. Seperti yang dinyatakan Esposito, kolonialisme Eropa memberikan ancaman ganda, kekuasaan dan salib[48]. Hal berikut yang diinduksi penjajah Eropa adalah nasionalisme. Menurut Esposito nasionalisme adalah produk abad westernisasi[49]. Nasionalisme terutama diajarkan kepada para elitis yang belajar di negara-negara Barat. Esposito menyebutkan[50] :

Banyak diantara tokoh-tokoh yang memimpin gerakan nasionalis dan kemerdekaan hasil didikan Barat dan dipengaruhi oleh keyakinan dan ideal nasionalis liberal Revolusi Perancis dan khususnya lembaga-lembaga dan nilai-nilai politik Barat modern seperti demokrasi, pemerintahan konstitusional, peraturan parlemen, hak-hak individu dan nasionalisme.

Berbeda dengan ideal Islam tradisional yang mengajarkan loyalitas dan solidaritas politik dalam ummat Islam transnasional yang berdasarkan kepercayaan yang sama, nasionalisme modern mengajarkan gagasan komunitas nasional yang dasarnya bukan agama tetapi bahasa, wilayah, ikatan etnis dan sejarah yang sama.

Tokoh-tokoh ini yang kemudian menularkan ide-ide produk Barat ini ke tanah airnya. Mereka adalah orang-orang serupa Kemal Pasha Attaturk(salah seorang tokoh dibalik makar terhadap kekhilafahan Islam(yang memandang bahwa peradaban Barat adalah solusi untuk kebangkitan. Dari merekalah kemudian anak-anak di negerinya belajar ideide Barat seperti nasionalisme, sekularisme dan demokrasi. Seperti yang diungkapakan Soekarno, salah seorang tokoh pergerakan di Indonesia[51]:

Maka oleh karena itu, menurut pemimpin-peminpin Turki, justru buat kesuburan Islam itu, maka Islam dimerdekakan dari pemeliharaan pemerintah. Justru buat kesuburan Islam, maka khalifat dihapuskan, kantor komisariat syariat ditutup.

Kode (Undang-undang) Swiss sama sekali diambil oper buat mengganti hukum famili yang tua, bahasa Arab dan huruf Arab yang tidak dimengerti oleh kebanyakan rakyat Turki diganti dengan bahasa Turki dan huruf latin.

Secara sadar ataupun tidak mereka telah mengajarkan ide-ide yang telah mengganti identitas keislaman dengan identitas kebangsaan. Ini bisa terlihat dari pola perubahan perjuangan, dari jihad melawan orang-orang kafir, menjadi sekedar perlawanan melawan penjajah asing. Penguasaan bangsa Eropa terhadap kaum muslimin memasuki fase berikutnya, penguasaan secara ide-ide. Memang secara umum negeri-negeri Islam(yang kemudian Barat menarik diri dari sana(tidak memaklumkan sekularisme sebagai asas sebagaimana yang dilakukan di Turki.

Namun secara efektif berbagai model struktur sistem Barat yang sekular diterapkan secara konsisten, seperti UU atau konstitusi yang sekuler, sistem pemerintahan parlementer, trias politica dan sebagainya. Apakah itu menghasilkan kemajuan sebagaimana yang diimpikan? Sejak pertengahan abad 20, ketika para elit penguasa mulai menerapkan produk ide Barat, hingga saat ini apakah ada yang betul berubah dari kondisi kaum muslimin? Secara jujur, gambaran yang lekat dalam kondisi muslimin adalah sebuah gambar yang lusuh. Inilah sebuah ironi kaum yang pernah menguasai dunia dan disegani semua negara di bumi ini, hidup dalam ketergantungan dan kepatuhan yang keterlaluan terhadap bangsa Barat. Negeri-negeri kaum muslimin identik dengan kemiskinan, keterbelakangan dan banyak hutang.

Selama kurang lebih menerapkan sekularisme selama hampir dua abad, berbagai konsep dan ide Barat telah menancapkan kuku yang begitu dalam, dan berdampak begitu nyata dalam kondisi kaum muslimin. Dalam bidang politik, demokrasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari panggung politik di negeri kaum muslimin. Beberapa negeri masih berusaha menolak demokrasi(seperti beberapa negara di Timur Tengah(mendapat tekanan dari Amerika. Demi untuk menyenangkan Amerika, beberapa negara Teluk mulai membentuk parlemen dan mengadakan pemilihan umum.

Konsekwensi dari penerapan demokrasi adalah bahwa hukum dan undang-undang dibuat bukan merujuk kepada Al Quran dan As Sunnah, tapi kepada pendapat-pendapat manusia. Misalnya yang terjadi di Indonesia. Pada awal tahun 2006 ini ramai dibicarakan mengenai UU anti pornografi. Dan bahan-bahan untuk UU anti pornografi bukan digali(oleh parlemen(dari sumber-sumber hukum syara’, tapi dari pendapat para seniman, aktivis feminis, budayawan bahkan penyanyi dangdut yang sering tampil tidak senonoh. Sempurna, inilah wujud demokrasi yang sesungguhnya, pendapat manusia untuk hukum dan undang-undang. Demokrasi bagi beberapa kalangan(termasuk aktivis Islam(menjadi suatu realita yang tidak terubahkan, keagungannya bahkan melebihi ajaran Islam. Ketika beberapa kalangan merancang dan menyerukan perubahan hukum Islam, nyaris tidak ada yang menuntut untuk merubuhkan demokrasi. Demokrasi telah serupa ajaran suci dimana semua konsep lain(termasuk Islam(harus tunduk dan mengadaptasi diri. Demokrasi, dengan demikian, telah menjadi sebuah ide panutan (qiyadah fikriyah) bagi kebanyakan kaum muslimin saat ini. Dan bahkan secara keterlaluan beberapa kalangan aktivis Islam (?) dengan berani dan bangga mengatakan bahwa tidak ada dikotomi antara demokrasi dan Islam. Padahal kalau mau dipelajari lagi, sungguh terdapat perbedaan yang mendasar dan terlalu kasat mata antara demokrasi dan Islam, perbedaannya seperti langit dan bumi. Namun inilah kenyataan yang dialami oleh dunia Islam secara dominan saat ini. Atas pengaruh dan penyebaran demokrasi yang begitu luasnya dan tidak menyisakan ruang bagi konsep politik ideologi lain(termasuk Islam(tidak heran Francis Fukumaya menyebutkan masa depan politik dunia adalah kemenangan bagi demokrasi.

Kondisi politik lain yang begitu mencolok saat ini adalah rendahnya posisi tawar kaum muslimin dihadapan negeri-negeri Barat. Banyak perilaku “kurang ajar” pihak Barat yang diterima secara “qanaah” oleh para penguasan di negeri kaum muslimin. Yang terbaru adalah berbagai kasus penghinaan terhadap beberapa nilai pangkal keimanan kaum muslimin, yaitu Al Quran dan Nabi Muhammad SAW. Pelecehan terhadap Al Quran terjadi di penjara Guantanamo Kuba, tempat dimana banyak muslim yang ditahan tanpa proses peradilan dengan dalih terorisme. Di tempat ini Al Quran dijejalkan kedalam WC oleh tentara Amerika. Sementara pelecehan terhadap Nabi Muhammad dilakukan oleh harian Denmark Jylland Posten Denmark, dimana sosok Rasulullah dikartunkan secara brutal oleh para kartunis Denmark, sebagai sosok yang bersorban bom dan beringas sebagai laiknya nenek moyang orang Denmark yang kejam, bangsa Viking. Namun segala penghinaan yang sangat prinsipil ini ditanggapi dengan respon laiknya para banci penakut oleh penguasa kaum muslimin. Mereka cuma bisa protes dan menghimbau, tidak lebih. Bahkan untuk sekedar memutus hubungan “silahturahmi” alias hubungan diplomatik dengan negara-negara kafir itu saja mereka tidak berani. Ketergantungan yang keterlaluan terhadap bangsa Barat(terutama dalam bidang perekonomian dan teknologi(yang bercampur dengan rasa inferioritas akut yang dialami para penguasa ini membuat mereka bersikap seperti ini. Bahkan seandainya massa kaum muslimin tidak bergolak terhadap penghinaan ini bisa jadi mereka juga ikut-ikutan membiarkan penghinaan terjadi dan kemudian berlalu seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara para penguasa di Eropa, justru mereka saling menguatkan dan semakin bersatu ketika massa kaum muslimin bereaksi keras terhadap penghinaan ini.

Bukan hanya mempengaruhi kondisi sistem dan dan konsep kehidupan, demokrasi pun telah melahirkan personalpersonal dan kelompok pelaku politik yang pragmatis dan oportunis. Fokus perhatian dari golongan ini adalah kekuasaan. Demi kekuasaan apapun akan dilakukan, termasuk bersekutu dan berkoaliasi dengan kelompok yang berseberangan secara keyakinan visi ideologis. Bila diperhatikan gejala ini tidak hanya berlaku bagi partai dan kelompok yang sejak awal menyatakan diri sebagai kelompok sekular, tapi juga kelompok-kelompok yang diawal berdirinya menyatakan berasas Islam. Tengok saja yang terjadi di Indonesia. Beberapa partai yang mengaku berasas Islam(PKS, PBB, PPP(ikut dalam barisan pendukung SBY-Kalla, Presiden-Wapres usungan dari partai sekular, Partai Demokrat dan Golkar. Dan bahkan walaupun SBY-JK menetapkan keputusan yang menyengsarakan rakyat seperti menaikkan harga BBM, parta-partai ini tetap setia mendukung SBY-Kalla

Dalam bidang ekonomi, Identitas pembaratan secara nyata terlihat pula dalam bidang ekonomi. Ini sangat lumrah, mengingat(seperti yang telah nyinyir dibahas diatas(demokrasi dan aktivitas ekonomi kapitalisme (laissez faire namun lebih sering disebut ekonomi pasar bebas) merupakan suatu yang susah untuk dipisahkan. Mengembangkan demokrasi berarti bermakna pula mengembangkan ekonomi pasar bebas. Maka besar sekali kepentingan dari para pelaku ekonomi kapitalisme untuk mensponsori kegiatan demokratisasi. Para kapitalis ini misalnya mendirikan The Center for Democracy and Technology[52], perusahaan yang ada dibelakangnya antara lain American Online, Inc, American Association of Advertising Agencies, American Express, Association of National Advertiser, AT&T, Bell Atlantic, Bussiness Software Alliance, Cellular Telecommunications Industry Association, Coalition for Encryption Reform, Deer Creek Foundation, Disney Worldwide Services, IBM Corporation, Interactive Digital Software Association, Lotus Development Corporation, Markle Foundation, MCA/Universal, MCI WorldCom, Microsoft Corporation, Mindspring, Newspaper Association of America, Novell, Open Society Institute, Time Warner dan lainnya.

Dengan demokrasi maka meluncurlah berbagai kebijakan yang sangat berpihak kepada para kapitalis. Dengan privatisasi, deregulasi dan liberalisasi perdagangan, semakin dalamlah menancapnya kuku-kuku kekuasaan kelompok kapitalis. Peran dominan mereka secara terselubung telah membuat terjadinya pergeseran kekuasaan. Secara de jure memang pemerintahlah yang berkuasa, namun secara de facto korporasilah yang menjadi tuannya.

Dengan konsistensi yang tinggi, para penguasa negara menjaga kepentingan kelompok kapitalis. Kalau dulu sekali para penguasa adalah para pemimpin yang mempertahankan wilayah teritorial yang sifatnya fisik, maka saat ini para penguasa pemerintahan lebih banyak bertarung utnuk memperebutkan saham pasar. Salah satu pekerjaan mereka(menurut Noreena Hertz(berubah kearah penjaminan suatu lingungan yang mendukung untuk pengembangan bisnis dan ranah yang mampu menyedot aliran modal bisnis. Peranan negara saat ini lebih banyak bergeser menjadi semata-semata menyediakan barang-barang dan infrastruktur publik yang dibutuhkan oleh kehidupan bisnis denga ongkos semurah-murahnya sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia[53].

Sayangnya kemudian, dengan segala pengorbanan konyol para penguasa ini yang dihasilkan adalah kerusakan yang masif. Sistem kapitalisme ternyata sangat signifikan menghasilkan ketimpangan sosial. Invisible hand-nya Adam Smith yang dipercaya dalam konsep ekonomi liberal akan menjaga level kesejahteraan pada titik equilibrium tidak berfungsi. Karena memang sejak semula tangan itu tidak pernah ada. Sebagaimana terdahulu telah dibahas, bahwa ide-ide Adam Smith banyak dipengaruhi oleh pengikut Francois Quesnay yang menganggap hukum –hukum alam dapat diterapkan untuk menjelaskan berbagai kondisi sosial. Invisible hand ini sejatinya sangat dipengaruhi pemikiran Newtonian mengenai kesetimbangan mekanis. Yang terlupa oleh Smith adalah sekumpulan manusia berbeda dengan benda-benda pada percobaan mekanis. Benda-benda tersebut tidak memiliki apa yang dimiliki oleh sekumpulan manusia : kemampuan berfikir dan kehendak. Maka yang terjadi kemudian adalah ketimpangan yang keterlaluan. Bayangkan penjualan General Motor dan Ford ternyata melebihi GDP seluruh sub-sahara Afrika. Dan Exxon dapat disamakan tingkat ekonominya dengan kemampuan ekonomi Chili dan Pakistan[54]. Sementara di Indonesia sendiri, geliat ekonomi yang semakin liberal(dengan privatisasi BUMN, liberalisasi pengelolaan sumber daya alam dan berbagai deregulasi yang pro korporat global(ternyata semakin menaikkan tingkat kemiskinan, 36,17 juta jiwa pada 2003 menjadi 40 juta jiwa pada 2005 (BPS 2005). Inilah faktanya, kapitalisme semakin berjaya, akan tetapi hasil rampasannya tidak dinikmati oleh semua orang.

Selain di bidang politik dan ekonomi jejak suram dari sekulerisme juga akan kita dapati pada bidang kehidupan yang lain. Dalam bidang pendidikan, sekulerisme telah menghasilkan manusia didik yang cenderung materialistik dan dangkal secara pemahaman agama. Epistimologi keilmuan yang mengakar pada empirisme membuat anak didik cenderung berfikir pragmatis-materialis dan memiliki orientasi yang sangat lemah terhadap maksud penciptaan manusia; penghambaan kepada Allah. Terbiasa dengan kehidupan yang pragmatis-materialis, maka individualistik menjadi kecenderungan berikutnya dari masyarakat yang mengadopsi sekulerisme. Karakter individualistik merupakan salah satu cacat bawaan dari masyakat sekuler, karena sejak awalnya sekulerisme turut dibangun oleh filsafat individualisme[55].

Ketika empirisme, materialisme dan pragmatisme mempengaruhi bidang pendidikan dan kemudian individualisme membentuk karakter sosial masyarakat, maka dalam pola kehidupan kultural masyarakat sekulerisme dibentuk oleh konsep hedonisme. Hedonisme telah mengarahkan manusia-manusia sekuler untuk menjadikan kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai poros kehidupan. Maka tidak mengherankan dalam masyarakat sekuler berbagai “hal yang menyenangkan” seperti seks bebas, judi dan mabuk-mabukan merupakan hal yang biasa.

Exploitasi dunia hedonisme bahkan telah menjadikan praktek hedonis sebagai sumber perputaran uang yang tidak sedikit jumlahnya melalui prostitusi, pub dan nite club, casino dan industri minuman keras. Demikanlah wajah suram nan kelam dari sekulerisme beserta ide-ide filialnya. Padanya terkumpul kerusakan, kebobrokan, keharaman dan ancaman kehancuran ketika diadopsi oleh kaum muslimin. Maka adalah kewajiban dari kita bersama untuk melancarkan upaya dekonstruksi terhadap sekulerisme. Dekonstruksi permanen yang membuatnya tidak akan pernah bangun lagi dari kuburnya.

 

Footnote:

[1] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 24, Grolier Incorporated, 1983, hal.510

[2] Ibid

[3] Lihat www.newadvent.org/cathen/136a.htm

[4] Lihat www.newadvent.org/cathen/136a.htm

[5] Ahmad Suhelmi,Pemikiran Politik Barat,Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004

[6] ibid, hal. 115-116

[7] Deisme adalah sebuah ide yang menetapkan bahwa Tuhan yang menciptakan alam dan kemudian memberkati alam

tersebut dengan hukum yang abadi setelah itu alam tersebut berjalan tanpa intervensi dari Tuhan. Lihat The

Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.644

[8] Empirisme merupakan ide yang menetapkan pengetahuan langsung berakar dalam data yang kita alami, yang tidak

kita alami tidak ada, sekurang-kurangnya tidak dikenal (lihat Dick Hartoko, Kamus Populer Lengkap,1986, Rajawali

Pers). Dengan paham ini sebuah keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib seperti malaikat, surga, neraka bisa dikatakan

tidak ada. Inilah kesesatan paham ini menurut Iman Islam.

[9] Skeptisme secara umum ragu dengan apakah pengetahuan itu mungkin. Skeptisme dapat mengambil beberapa

bentuk, sehingga seorang yang skeptis dapat meragukan apakah pengalaman inderawi itu bisa menghasilkan

pengetahuan, atau apakah Tuhan, dunia eksternal dan pikiran-pikiran lain ada (lihat Diane Collinson, Lima Puluh Filosof

Dunia yang Menggerakkan,2001, RajaGrafindo Persada)

[10] Aliran filsafat yang mengajarkan kenikmatan merupakan nilai tertinggi serta tujuan segala perbuatan moral. Dirintis

oleh Aristipos dari Kyrene dan pada abad 18 oleh Lamettrie (lihat Dick Hartoko, op.cit).

[11] Encyclopedi yang disusun beberapa orang filosof perancis pada abad 18 seperi Mostesquieu, D’Alembert,

Voltaire, Rosseau, Buffon, Quesnay dan Diderot. Rosseau sendiri kemudian keluar dari proyek ini kemudian.Lihat

Filsafat Untuk Pemula, Richard Osborne, Penerbit Kanisius.

[12] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.644

[13] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.684

[14] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 206

[15] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 690

[16] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 691

[17] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 690

[18] ibid

[19] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal.316. Dalam bukunya Ahmad Suhelmi menyebutnya prinsip-prinsip demokrasi barat. Tapi

kalau kita pahami lebih dalam lagi penggunaan kata-kata barat setelah demokrasi sebenarnya tidak diperlukan lagi,

karena sudah dimafhumi bahwa demokrasi berasal dari barat (dan sangat khas barat) dan berakar pada filsafat dan

pemikiran barat. Adapun dipakainya demokrasi di beberapa negara bukan barat(dan bahkan di negeri

Islam(tidak kemudian menghilangkan ide-ide yang inherent dengan demokrasi (barat) seperti kontrak sosial,

kebebasan individu dan kedaulatan (pembuatan hukum) di tentukan orang banyak, bukannya Tuhan.

[20] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol.5, Grolier Incorporated, 1983, hal. 600

[21] Aplikasinya misalnya terlihat dari kepercayaan ekomomi liberal bahwa dinamika masyarakat selalu menuju

kesetimbangan, ini serupa dengan terori kesetimbangan mekanis pada teori Newton. Dalam ilmu biologi mereka

mengadopsi pemikiran Darwin tentang seleksi alam (survival the fittest), dimana yang terkuatlah yang akan bertahan

dalam kegiatan ekonomi

[22] ibid

[23] ibid

[24] Utilitarianisme menetapkan bahwa yang berguna juga dihalalkan, secara moral dapat dibenarkan. Kegunaan

merupakan tolok ukur bagi moralitas perbuatan manusia. Bagi beberapa kritikus utilarianisme tidak lain adalah

empirisme yang di reproduksi.

[25] Lihat Filsafat Untuk Pemula, Richard Osborne, Penerbit Kanisius

[26] Desacralizing Secularism, www.algonet.se/~pmanzoor/Des-Sec.htm

[27] Secularism, www.newadvent.org/cathen/136a.htm

[28] Niccolo Machiavelli (1469-1527), pemikir politik asal Italia, salah seorang penggerak zaman Renaisance. Merupakan

perintis yang menjauhkan politik dari pengaruh agama.

[29] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 139

[30] William Ebenstein dan Edwin Fogelman, Isme-Isme Dewasa Ini , edisi sembilan, Penerbit Erlangga, 1994, hal.148

[31] Joel Andreas, Nafsu Perang-Sejarah Militerisme Amerika di Dunia, Penerbit Profetik, 2004, hal. 5

[32]Joel Andreas, ibid. Hal. 9

[33] John L. Esposito dan John O. Voll, Demokrasi di Negara-Negara Muslim, Penerbit Mizan, 1999, hal. 22

[34] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 315

[35] Jean Baechler, Demokrasi, Sebuah Tinjauan Analitis, Penerbit Kanisius, 2001, hal.272

[36] Paul Treanor, Kebohongan Demokrasi, Penerbit Istawa-Wacana, 2001, hal. 71

[37] Paul Treanor, ibid, hal. 79

khilafah centre

http://khilafah-centre.com _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 21 March, 2008, 01:50

[38] DR. Muhammad ’Imarah, Perang Terminologi Islam Versus Barat, Robbani Press, 1998

[39] DR. Muhammad ’Imarah, ibid

[40] Dalam kamus Arab-Indonesia Al Munawwir ’ilmaniyah diterjemahkan sebagai faham yang memisahkan

negara dari pengaruh agama.

[41] John L. Esposito, Ancaman Islam, Mitos atau Realitas?, Penerbit Mizan, 1995, hal. 66

[42] ibid

[43] Lihat Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyyah, Penerbit Al-Izzah, 1991

[44] Lihat Wajah Peradaban Barat oleh Adian Husaini, MA. Penerbit Gema Insani Pers, 2005

[45] Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, 2001 , hal. 392

[46] Samuel P. Huntington, ibid, hal. 391

[47] Samuel P, Huntington, ibid, hal. 395

[48] John L. Esposito, op.cit, hal. 64

[49] John L. Esposito, ibid, hal. 75

[50] John L. Esposito, ibid, hal. 75

[51] Adian Husaini, op.cit, hal. 276

[52] Paul Treanor, Kebohongan Demokrasi, penerbit ISTAWA-WACANA, 2001, hal.34

[53] Noreena Hertz, Membunuh Atas Nama Kebebasan, Penerbit Nuansa, 2004, hal. 18

[54] Noreena Hertz, Ibid, hal. 16

[55] Individualisme adalah suatu filsafat yang berpandangan bahwa sifat khusus tiap-tiap orang hendaknya diperhatikan.

Tiap-tiap orang orang mempunyai watak dan sifat yang khas yang dibentuk oleh kemauannya sendiri yang bebas. Ind.

menyangkal keterikatan manusia dan masyarakat. Untuk masalah transendensi, indv. Percaya tiap orang langsung

bertanggung jawab terhadap Tuhannya, maka adalah hak tiap orang utnuk menentukan bagaimana dia berhubungan

dengan Tuhannya, dan menolak intervensi atas individu.