<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Islam Saja</title>
	<atom:link href="http://islamsaja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamsaja.wordpress.com</link>
	<description>Nggak Neko-Neko</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Apr 2008 12:38:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='islamsaja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ed4ff85a0144b13ab399dbdf7e3fa612?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Islam Saja</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Gerakan Fundamentalisme dan Represi Negara</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/gerakan-fundamentalisme-dan-represi-negara/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/gerakan-fundamentalisme-dan-represi-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/gerakan-fundamentalisme-dan-represi-negara/</guid>
		<description><![CDATA[

Oleh Ismatillah A. Nu’ad
Gerakan fundamentalisme Islam, khususnya di Indonesia dengan stigma              seperti literalis, radikalis dan ekstremis yang pernah menghiasi              soal-soal kebangsaan pasca-Tragedi 11 September agak mulai meredup.   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=28&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><b><font face="Arial" size="4"><br />
</font></b></p>
<p><font face="Arial" size="2">Oleh Ismatillah A. Nu’ad</p>
<p>Gerakan fundamentalisme Islam, khususnya di Indonesia dengan stigma              seperti literalis, radikalis dan ekstremis yang pernah menghiasi              soal-soal kebangsaan pasca-Tragedi 11 September agak mulai meredup.              Begitu pula, wacana-wacana opini publik dan pemberitaan media              seputar gerakan fundamentalisme kurang mendapatkan perhatian. Namun              apakah fenomena itu menjadi pertanda bahwa gerakan-gerakan semacam              itu sudah berakhir?<br />
Pada 29 Juli 2004 Jaringan Islam Liberal (JIL) mengadakan diskusi              dengan tema ”gerakan fundamentalisme dan radikalisme di              negara-negara Islam” dengan menghadirkan pembicara Ihsan Ali-Fauzi,              mahasiswa doktoral Ohio University dan Khursid Ahmed seorang              intelektual muslim-liberal asal Pakistan. Salah satu kesimpulannya              mengungkapkan bahwa gerakan fundamentalisme dan radikalisme di              Indonesia akan kembali memanas. Meredupnya gerakan itu saat ini              karena tergeser oleh isu-isu politik, terutama di masa pemilu              legislatif/presiden.</font><span id="more-28"></span><br />
<font face="Arial" size="2">             Nanti setelah pemilu selesai, gerakan fundamentalisme sudah dapat              dipastikan kembali menghiasi dalam wacana kebangsaan, terkait belum              selesainya agenda krusial mereka seperti hendak memperjuangkan              isu-isu syari’at Islam, penegakan khilafah dan sebagainya. Bertolak              dari fenomena itu, posisi negara terhadap gerakan fundamentalisme              kemungkinan besar bersikap represif. Konflik sosial-kebangsaan              antara ”negara vis-a-vis gerakan fundamentalisme” tak terelakkan              lagi.<br />
Ada beberapa tesis mengapa negara akan represif terhadap gerakan              fundamentalisme. Pertama dari segi internal, karena kepentingan              negara yang berbau-bau ”sekularisasi”, liberalisasi dan sebagainya              akan direcoki dengan gerakan fundamentalisme yang menolak secara              mentah-mentah kepentingan negara. Gerakan fundamentalisme menganggap              negara harus mengakomodasi sebesar mungkin kepentingan umat Islam              (jika perlu ditegakkannya syari’at Islam semi otonom) dengan              penafsiran Islam versi mereka. Kedua secara eksternal, yaitu karena              negara berhadapan dengan ‘kompromi’ kekuatan-kekuatan kapitalisme              dan liberalisme global yang mengharap negara domestik dapat meredam              aksi-aksi gerakan fundamentalisme yang merugikan dan membahayakan              bagi kepentingan kekuatan kapitalisme-liberalisme.</p>
<p>Islam-Indonesia Bercorak Moderat<br />
Yang terakhir disebutkan, setidaknya fenomena-fenomena seperti              penahanan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba’asyir,              kemudian banyak penafsiran mayoritas dengan pretensi bahwa negara              telah terkooptasi dengan kepentingan asing.<br />
Begitu pula dengan ”represifnya” negara (atau dalam hal itu diwakili              oleh aparat keamanan) terhadap gerakan-gerakan seperti Front Pembela              Islam (FPI), kelompok ”Jema’at Islamiyah” yang disinyalir sebagai              jaringan fundamentalisme dan teroris di Asia Tenggara, dan              sebagainya.<br />
Menurut Khursid Ahmed, selain gerakan fundamentalisme ini dituangkan              dalam ekspresi ‘gerakan radikalisme’ seperti fenomena MMI, FPI atau              JI itu. Gerakan ini juga menuangkannya dalam dua aspek penting              lainnya, yaitu ke aspek dakwah dan politik.<br />
Sebagai contoh, fenomena munculnya gerakan dakwah seperti Hizbut              Tahrir yang membentuk opini publik supaya negara mempertimbangkan              tatanan pemerintahan khilafah di mana isu-isu syari’at Islam ada di              dalamnya tentu saja sudah menjadi bagian dari gerakan              fundamentalisme.<br />
Begitu pula fenomena Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang              memperjuangkan Islam untuk masuk dalam wilayah keputusan dan              kebijakan negara lewat cara-cara seperti yang diistilahkan Bill              Liddle bersifat rigid, puritan dan naif, itu pun juga termasuk dalam              kategori gerakan fundamentalisme.<br />
Dua fenomena itu menurut Khursid Ahmed, juga terjadi di negaranya              Pakistan. Dalam dataran itu, gerakan ini menghendaki supaya Islam              sebagai agama dijadikan sebagai tatanan kenegaraan dan kebangsaan.              Begitu pula, Islam dianggap oleh gerakan ini sebagai jalan keluar              (way of life) atas kondisi persoalan-persoalan absurd yang              dihasilkan negara, tentu saja dengan penafsiran Islam yang literal,              ortodoktif, dogmatis, sakral dan sebagainya.<br />
Menurut Imdadun Rahmat, warna keberagamaan (Islam) yang ”khas” dalam              masyarakat Indonesia tengah menghadapi gugatan dengan hadirnya              gerakan fundamentalisme ini.<br />
Pemahaman keagamaan mainstream yang dianut mayoritas muslim dinilai              bukan merupakan pemahaman Islam yang benar, karena telah              mengakomodasi dan berakulturasi dengan budaya dan sistem              sosial-politik lokal.<br />
Mainstream keagamaan yang dianut secara mayoritas itu juga dianggap              berbeda dengan Islam yang ideal. Pendeknya menurut gerakan              fundamentalis, otentisitas Islam di Indonesia hilang, dan oleh              karenanya perlu purifisme Islam, sistem Islam (nizam al-Islam) dan              sebagainya.<br />
Fenomena Muslim Kota<br />
Sebaliknya menurut Imdadun, gerakan fundamentalis pun bukan tradisi              asli keberislaman di Indonesia, karena Islam-Indonesia bercorak              moderat, toleran dan sebagainya. Maka darinya, perlu ada              reinterpretasi terhadap keberislaman lokal apa yang kemudian disebut              dengan ”Pribumisasi Islam”. Islam pribumi menurut Imdadun mempunyai              karakteristik seperti kontekstual dalam menafsir Islam, menghargai              tradisi, progresif dan membebaskan, dan sebaliknya muslim-pribumi              tidak menggunakan cara-cara kekerasan, toleran, pluralis dan              sebagainya. (M. Imdadun Rahmat et al., Islam Pribumi: Mendialogkan              Agama Membaca Realitas, 2003).<br />
Dalam beberapa asumsi, gerakan fundamentalisme ternyata merupakan              fenomena muslim kota, yang pemahamannya tidak diresapi sebagaimana              kalangan santri di pedesaan yang bergelut hampir setiap hari dengan              tradisi intelektualitas Islam, sehingga Islam bukan sesuatu yang              unik dan asing. Muslim kota pada dasarnya memahami Islam pada              batas-batas tertentu dalam dataran simbolitas-identitas privat              semata. Sementara dalam kesehariannya jarang bersentuhan secara              intens dengan dunia intelektualitas Islam, seperti membincang              persoalan fiqh. Islam muncul ke permukaan di wilayah muslim kota              setelah wacana-wacana religiositas yang ditawarkan lewat dakwah tv.<br />
Disadari atau tidak, lambat laun semua fenomena itu memunculkan              potensi-potensi seperti dogmatisme-literalisme, radikalisme dan              ekstremisme yang akhirnya mencuat ke permukaan. Fenomena itu lahir              dari gerakan fundamentalisme dengan geneologi yang disebutkan.              Secara tidak langsung gerakan ini pada akhirnya akan mengusik              ”ketenangan” otoritas negara. Posisi negara bagaimanapun akan merasa              gerah dengan pertumbuhan gerakan ini, baik secara struktural atau              apalagi secara kultural.<br />
Negara akan menganggap bahwa bagaimanapun republik ini berdiri di              atas kepentingan banyak orang. Dan oleh karenanya, keinginan komunal              yang hendak mengkooptasikannya ke dalam kepentingan universal              apalagi dengan cara-cara radikal atau ekstrem, berarti akan              berhadapan dengan negara itu sendiri. Dengan demikian, tak syak lagi              gerakan fundamentalisme ke depan akan berhadapan dengan represifnya              negara.</p>
<p>Penulis adalah editor Islamic Millennium Forum for Peace and Social              Justice, Mahasiswa Jurusan Teologi dan Filsafat UIN Syarif              Hidayatullah, Jakarta.</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=28&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/gerakan-fundamentalisme-dan-represi-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fundamentalisme dalam Kacamata Seorang Fundamentalis</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalisme-dalam-kacamata-seorang-fundamentalis/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalisme-dalam-kacamata-seorang-fundamentalis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalisme-dalam-kacamata-seorang-fundamentalis/</guid>
		<description><![CDATA[Mu’adz D’Fahmi
Belakangan ini, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktifitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Pembunuhan perdana menteri Yitzak Rabin, tragedi 11 September di Amerika, bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=27&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Mu’adz D’Fahmi</span></p>
<p class="excerpt"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/KINSYS/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" align="left" height="109" width="75" /><!--[endif]-->Belakangan ini, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktifitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Pembunuhan perdana menteri Yitzak Rabin, tragedi 11 September di Amerika, bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya datang dari beragam kepercayaan, mereka memiliki satu karakteristik umum: over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.</p>
<p><!-- EXTENDED MENUS -->Judul : Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi Judul Asli : The Battle for God Penulis : Karen Armstrong Penerbit : Serambi dan Mizan Cetakan : I, Agustus 2001 Tebal : xx + 641 halaman</p>
<p>Karen Armstrong merupakan salah seorang pengkaji agama terkemuka asal Inggris. Setelah mengabdi selama tujuh tahun sebagai biarawati Katolik Roma yang pada akhirnya gagal menemukan &#8220;Tuhan&#8221; dalam kesalehan sistem Papal, Armstrong meninggalkan gereja tahun 1969 dan meneruskan studi di universitas Oxford. Beberapa karyanya tercatat sebagai best seller versi New York Times. Di antaranya: The Gospel According to Woman (1987), Holy War (1991), Muhammad; A Biography of the Prophet (1992), dan A History of God (1993).<span id="more-27"></span></p>
<p>The Battle for God (Berperang Demi Tuhan) adalah kelanjutan dari karya Armstrong sebelumnya: A History of God (Sejarah Tuhan). Kedua karya ini saling memiliki keterkaitan. Dalam Sejarah Tuhan, Armstrong mencoba mendeskripsikan usaha pencarian Tuhan oleh para pemeluk agama sawami selama lebih dari 4.000 tahun. Sedangkan Berperang Demi Tuhan memaparkan fenomena fundamentalisme dalam tiga agama monoteistik: Kristen, Yahudi, dan Islam. Penelusuran Armstrong terhadap sejarah ketiga agama besar ini sepanjang perubahan yang dimulai dari masa pencerahan Eropa (renaissance, Aufklärung) menunjukkan bagaimana fundamentalisme pada akhirnya muncul sebagai reaksi logis yang melawan ide-ide modernisme.</p>
<p>Belakangan ini, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktifitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Pembunuhan perdana menteri Yitzak Rabin, tragedi 11 September di Amerika, bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya datang dari beragam kepercayaan, mereka memiliki satu karakteristik umum: over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.</p>
<p>Fundamentalisme merupakan salah satu fenomena abad 20 yang paling banyak dibicarakan. Fundamentalisme selalu muncul di dalam setiap agama besar dunia. Tidak hanya Kristen dan Islam, fundamentalisme juga terdapat pada agama Hindu, Budha, Yahudi, Konfusianisme.</p>
<p>Belum ada definisi yang jelas mengenai istilah &#8220;fundamentalisme&#8221;. Pada mulanya, istilah ini dipakai oleh kaum protestan Amerika awal tahun 1900-an untuk membedakan diri dari kaum protestan yang lebih liberal. Sajak saat itu, istilah &#8220;fundamentalisme&#8221; dipakai secara bebas untuk menyebut gerakan-gerakan purifikasi (pemurnian ajaran) yang terjadi di berbagai agama dunia. Kendati demikian, semua gerakan fundamentalisme memiliki pola-pola tertentu. Fundamentalisme merupakan mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang muncul sebagai reaksi atas krisis yang mengancam (Martin E. Marty dan R. Scott Appleby, 1991)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Karakter utama buku ini adalah klasifikasi Armstrong atas dunia ke dalam dua dikotomi: mitos-logos dan konservatif-modern.</p>
<p>Manusia mengembangkan dua cara berpikir dan memperoleh pengetahuan. Dalam buku Devotional Language, Johannes Sloek menyebutnya dengan mitos dan logos. Mitos adalah pengetahuan yang bersifat mistis, memiliki obyek abstrak-supralogis, tidak berdasarkan fakta, dan ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa. Mitos tidak bisa ditunjukkan dengan bukti-bukti rasional. Sedangkan logos sebaliknya. Ia adalah pemikiran rasional, pragmatis, dan ilmiah. Logos terkait dengan fakta-fakta dan realitas eksternal sehingga dapat dibuktikan secara empirik.</p>
<p>Menurut Armstrong, dahulu agama menggunakan kedua elemen, baik mitos maupun logos untuk menciptakan struktur sosial kehidupan masyarakat yang lengkap. Mitos dan logos sama-sama penting. Tidak ada yang lebih dominan dari dua hal yang saling melengkapi ini. Logos ada dalam hukum dan kepemerintahan, sementara mitos memenuhi tiap sudut relung jiwa manusia. Kendati demikian, mitos dianggap lebih utama karena berkaitan dengan sesuatu yang abadi.</p>
<p>Tapi, semenjak renaissance, logos mulai mendominasi mitos. Pencapaian luarbiasa dalam bidang sains dan teknologi merubah pikiran orang-orang Eropa. Euforia kesuksesan sains menyingkirkan mitos dan menjadikannya hanya sebagai takhayul belaka. Pada akhirnya rasionalitas menjadi satu-satunya sarana mencapai kebenaran.</p>
<p>Dengan kematian mitos, agama menjadi tak bermakna. Dan para agamawan tenggelam dalam kehampaan spiritualitas. Ruang kosong yang ditinggalkan mitos melahirkan fundamentalisme yang notabene adalah pemberontakan &#8220;hantu&#8221; mitos terhadap agresivitas tanpa kenal batas yang dilakukan logos.</p>
<p>Dikotomi kedua, konservatif versus modern. Kesimpulan menarik diungkapkan oleh Issa J. Boullata. Menurutnya, kekuatan tradisi, atau &#8220;semangat konservatisme&#8221; dalam bahasa Karen Armstrong, berorientasi ke arah masa lampau dengan mengacu kepada model internal. Kejayaan bagi kaum konservatif dapat diraih jika mengambil uswatun hasanah (preseden baik) dari pengalaman terdahulu karena masa lalu memberikan jaminan kesuksesan yang telah terbukti.</p>
<p>Di lain pihak, kekuatan modernitas yang berorientasi ke arah masa depan, menggunakan model eksternal sebagai rujukannya. Kemajuan diraih melalui upaya kreativitas dan progresivitas yang dilandaskan pada nilai-nilai rasional.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Kim Allen mencatat, kesalahan paling fatal dari dikotomi Armstrong terletak pada logika yang ia gunakan. Armstrong menyimpulkan sains sebagai murni logos, murni modern. Ia memuji orientasi ke depan sains dan penerimaannya akan ide-ide baru. Pada tahap ini, Armstrong benar. Tapi, hanya seorang peneliti yang naiflah yang mengabaikan kenyataan bahwa sains memiliki komponen konservatif yang kuat, yaitu pandangan adanya kebenaran mutlak yang abadi, tak berubah, dan telah sempurna semenjak awal penciptaan (Kim Allen, 2000). Sains bersandar kepada aturan-aturan matematis yang kaku dan tidak dapat diinterpretasikan kembali seiring perjalanan waktu.</p>
<p>Armstrong memaksa sains memainkan peran stereotipikal yang secara diametris bersifat oposan terhadap agama. Sebelumnya, agama dan sains merupakan dua komponen utama yang tak terpisahkan dalam kepercayaan masyarakat. Baru beberapa abad kemudian, orang-orang mulai mengklaim bahwa sains dan agama bertentangan—yang menurut sebagian orang, pernyataan seperti itu adalah salah kaprah.</p>
<p>Dikotomi Armstrong sendiri menempatkannya pada posisi dilematis. Armstrong menjelaskan bahwa pencerahan Eropa melatarbelakangi perpindahan paradigma dari konservatif ke modern sekaligus menghapus mitos dari sistem sosial masyarakat Barat. Dengan membagi dunia ke dalam dua dikotomi, Armstrong menghabiskan berlembar-lembar halaman bukunya hanya untuk &#8220;mengeksploitasi&#8221; sejarah agar sesuai dengan asumsinya semula. Maka tidak mengherankan jika penjabaran Armstrong terkesan &#8220;terlalu dipaksakan&#8221;. Menyingkirkan sebagian besar fakta sejarah dengan tujuan untuk mendukung pendapatnya tentang dikotomi mitos-logos dan konservatif-modern.</p>
<p>Usaha Armstrong ini justru menunjukkan bahwa dirinya sendiri adalah seorang fundamentalis. Tidak ada seorang fundamentalis yang tidak tertarik kepada dikotomi seperti ini. Problemnya bukan pada dunia, melainkan terletak pada kategorisasi Armstrong. Agama dan sains adalah dua hal yang sangat kompleks. Meskipun dalam beberapa aspek terdapat perbedaan, keduanya sama-sama merupakan sesuatu yang terlalu sederhana jika dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Dalam komentarnya, An Ex-Nun in Search of God; but Biblically Non The Wisher, profesor Arthur Noble mengkritik sikap tidak fair Armstrong. Pemikiran Armstrong cenderung bias meskipun telah melepaskan statusnya sebagai seorang biarawati. Kontribusi terakhirnya dalam perdebatan keagamaan ini, Berperang Demi Tuhan, justru mendukung image tentang infalibilitas (ke-ma’shum-an, kondisi tidak bisa bersalah) Gereja Katolik Roma. Keberhati-hatiannya ketika menjelaskan bagaimana fundamentalisme berakar dan berkembang pesat dalam banyak agama besar dunia tidak disertai dengan usaha mengkritik infalibilitas kelompok fundamentalis Katolik Roma.</p>
<p>Armstrong memang mengutuk kaum fundamentalisme Kristen di Amerika yang melontarkan makian sangat tajam terhadap Gereja Katolik Roma. Secara khusus, Ia menyorot gerakan fundamentalisme &#8220;televangelis&#8221;, kelompok puritan, dan calvinisme, tetapi mengapa ia justru mengabaikan sejarah kelam gerejanya sendiri dan bahkan melukiskan image tentang almamater-nya itu (Gereja Katolik Roma) dengan gambaran yang positif sepanjang buku ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p>Terlepas dari kekurangan yang terdapat didalamnya, Berperang Demi Tuhan layak untuk kita apresiasi. Tema besar fundamentalisme yang diusungnya memakai semangat dan sudut pandang baru. Secara cermat dan brilian, Karen Armstrong menunjukkan kepada kita bagaimana dan mengapa kelompok-kelompok fundamentalis muncul dalam berbagai agama dunia, serta apa sesungguhnya tujuan mereka.</p>
<p>Dengan begitu kita bisa mencoba bersikap lebih obyektif terhadap kaum fundamentalis. Tidak sekedar melihat mereka sebagai gerakan ortodoksi, puritan, atau revivalis an sich, melainkan memberi penilaian sebagaimana Armstrong lakukan. “Fundamentalisme ternyata merupakan gerakan yang kompleks, inovatif, dan modern.”</p>
<p>Jakarta, 21 Maret 2002</p>
<p><i>Mu&#8217;adz D&#8217;Fahmi. Mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Presidium Fascho Learning  Center, IMM Cabang Ciputat</i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=27&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalisme-dalam-kacamata-seorang-fundamentalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/KINSYS/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fundamentalis Kristen Merebak Kuat</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalis-kristen-merebak-kuat/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalis-kristen-merebak-kuat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:36:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalis-kristen-merebak-kuat/</guid>
		<description><![CDATA[24/03/2002
Sekarang ini, istilah fundamentalisme menjadi momok baru di dunia terutama Amerika dan sekutunya pasca 11 September 2001. Dan istilah ini selalu diidentikkan dengan Islam. Padahal fundamentalisme merupakan fenomena atau sebuah gerakan yang ada pada semua agama, termasuk agama Kristen.

Untuk mengulas tema fundamentalisme di agama Kristen, Kajian Utan Kayu minggu ini menghadirkan Bapak Trisno Susanto, seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=26&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h6>24/03/2002</h6>
<p class="excerpt" style="text-align:justify;">Sekarang ini, istilah fundamentalisme menjadi momok baru di dunia terutama Amerika dan sekutunya pasca 11 September 2001. Dan istilah ini selalu diidentikkan dengan Islam. Padahal fundamentalisme merupakan fenomena atau sebuah gerakan yang ada pada semua agama, termasuk agama Kristen.</p>
<p><!-- EXTENDED MENUS --></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Untuk mengulas tema fundamentalisme di agama Kristen, Kajian Utan Kayu minggu ini menghadirkan <strong>Bapak Trisno Susanto</strong>, seorang aktivis dari Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA) Jakarta dan juga seorang ahli teologi Kristen. Wawancara ini merupakan hasil transkrip acara “Agama dan Toleransi” yang dipandu oleh <strong>Ulil Abshar-Abdalla</strong> di kantor berita Radio 68H pada tanggal 14 Maret 2002. Berikut petikannya:</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL ABSHAR-ABDALLA: Mas Trisno, seperti Anda tahu bahwa istilah fundamentalisme ini berkembang di agama-agama lain, tidak hanya di Islam. Secara umum, saya akan memulai pertanyaan, bagaimana dengan perkembangan fundamentalisme ini dalam agama Kristen?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->TRISNO SUSANTO: Terima kasih. Saya kira memang satu yang tidak dipungkiri bahwa fundamentalisme menjadi semacam momok untuk setiap orang setelah serangan terhadap WTC itu. Tetapi sesungguhnya kalau kita kembali ke istilahnya yang paling awal, istilah itu berkembang justru di kalangan Kristen awal mulanya. Fundamentalisme itu kata yang kemudian dipakai untuk menyebut serangkaian penerbitan di awal abad 20, antara abad 1909 sampai sekitar 1919 itu ada terbitan brosur yang bernama judulnya itu the fundamentals testimoni of truth, itu istilahnya yang dipakai. Kelompok yang dipakai menerbitkan ini rata-rata adalah para tokoh Kristen, terutama dari kalangan Evangelical dan Protestan konservatif yang berkumpul di sekolah teologi yang dinamakan “Princetown Teological Seminary” di Amerika. Dan istilah fundamentalis pertama kali itu dipakai menurut catatan sejarah sekitar tahun 1920 oleh seorang Kristen baptis bernama Sisilaw. Dia menyebut kelompok yang mendukung program fundamentalisme ini sebagai orang-orang fundamentalis. Jadi itu masalah istilahnya.<span id="more-26"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah fundamentalisme Kristen di Indonesia terutama sekali dikaitkan dengan dua atau paling tiga hal yang berkaitan dengan itu. Yang pertama, sering disebut kelompok Evangelical atau dalam bahasa Indonesianya, Injili. Evangelical sangat menekankan kepada masalah pertobatan yang pribadi sifatnya, jadi kesalehan pribadi, serta percaya penuh bahwa keselamatan itu hanya karena kematian Isa atau Yesus yang mereka imani. Istilah Evangelical sendiri macam-macam. Di Jerman itu dipakai sebagai istilah lain untuk kata Lutheran lawan dari Calvinis, sementara orang biasa menggunakan Evangelical untuk menyebut Protestan pada umumnya. Selain kelompok Evangelical ini, satu fenomena lain yang juga sangat mewarnai fundamentalisme itu adalah Revivalisme. Ini fenomena di Amerika yang berkembang sekitar abad 18-19 yang menekankan kepada kebaktian-kebaktian kebangunan rohani, istilah mereka, yang bersifat masal, besar-besaran. Ada kebaktian kebangunan rohani besar-besaran dan itu dipelopori oleh tokoh-tokoh rohani sepeti Wesley, dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Tanpa harus kita mengorek kedetil-detilnya, apa pandangan pokok yang membedakan antara orang-orang yang disebut sebagai fundamentalis Kristen ini, baik yang Anda sebut sebagai Evangelical atau pun yang Revivalis, dengan orang-orang Kristen yang lain?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Ada beberapa ciri umum, paling tidak kalau menurut saya itu ada tiga. Petama-tama yang paling utama itu menekankan doktrin tentang bahwa kitab suci Kristen, Al-kitab itu tidak salah. Artinya inherensi (tidak dapat salah) dan invalibilitas yang artinya kitab suci Kisten dipahami sebagai sebuah pengilhaman terus menerus, istilah mereka, secara harafiah. Bahkan kata-kata yang dipakai pun itu tidak bisa salah. Ini doktin sangat kuat dikembangkan untuk melawan tendensi masuknya kajian-kajian kritis terhadap Al-kitab, terutama yang berkembang di Jerman.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Tetapi apakah pandangan ini dipunyai oleh kaum fundamentalis saja atau semua orang-orang Kristen umumnya?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Pada jaman sekarang itu dilihat dari perkembangannya, pandangan yang menekankan inherensi dan invalibilitas dari ketidaksalahan kitab suci yang harafiah seperti itu, jarang sekali. Itu hanya ada di kalangan fundamentalis yang sangat ekstrim.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Saya akan masuk kepada isu yang lebih berkaitan dengan kita di sini. Salah satu isu di dalam agama itu yang krusial adalah bagaimana pandangan agama itu mengenai orang lain? Apakah kelompok-kelompok Kristen yang fundamentalis ini punya pandangan yang eksklusif, misalnya memusuhi orang-orang lain, memusuhi orang Islam, misalnya?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Bukan hanya orang Islam, terhadap orang Kristen sendiri pun ya. Artinya, kalau tadi saya mengatakan itu persoalan di dalam kitab suci saja, kita tidak mau peduli dengan soal itu. Itu hanya persoalan doktrin awal. Tapi ini kemudian berimbas karena doktrin ini dipakai sebagai perlawanan terhadap Teologi Kristen yang liberal atau modern, yang mengupayakan studi-studi kritis terhadap kitab suci. Karena itu, ciri umum kedua, kalau saya boleh lanjutkan soal ciri umum dulu, adalah adanya kecurigaan atau bahkan kebencian terhadap teologi yang bersifat modern. Ini kemudian punya akibat pada segi praktisnya, yakni mereka membedakan secara tegas antara yang disebut Kristen sejati, dan Kristen nominal atau Kristen KTP, istilah mereka. Karena mereka mengatakan biasanya itu ada tahap-tahap begini; pertama, ada perasaan di kalangan umat bahwa gereja yang sudah terorganisir itu dingin, tidak hangat, artinya ritusnya sudah menjadi terbiasa. Tidak ada gejolak semangat, emosi. Lalu mereka ketemu dengan pemberitaan injil yang hangat, hidup dan berapi-api. Anda melihat sendiri bagaimana kaum fundamentalis itu berkhotbah penuh dengan semangat luar biasa. Lalu kemudian mereka sampai kepada pertobatan pribadi. Jadi mereka itu menjadi persoalan besar untuk kalangan Kristen, karena mereka mengatakan bahwa umat Kristen pada umumnya adalah Kristennya nominal, belum Kristen betul atau kurang Kristen. Sehingga mereka berusaha mati-matian untuk terus menerus merebut umat sesuai dengan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Apakah usaha mengkristenkan orang lain itu sebagai salah satu prinsip atau doktrin utamanya?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Salah satunya ya, terutama kelompok-kelompok Evangelical Revival itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Apakah semua kelompok Kristen itu begitu doktrinnya? Sebab begini, saya kira yang perlu diketahui oleh para pembaca bahwa sebetulnya dalam Kristen sendiri ada banyak kelompok-kelompok sebagaimana dalam Islam. Bagaimana Anda menjelaskan itu?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Itulah yang tadi saya katakan bahwa problemnya itu bukan hanya dengan kelompok Islam, tetapi di dalam kekristenan sendiri sesungguhnya terjadi pertempuran-pertempuran. Pertempuran dalam artian teologis maupun perebutan umat. Seringkali kelompok-kelompok ini bergerak di kalangan umat. Jadi mereka strateginya adalah mempengaruhi umat satu gereja misalnya, untuk ikut ke kebaktian yang bukan milik gereja itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalangan fundamentalis Kristen ini seringkali jadi masalah di kalangan kekristenan umumnya maupun dalam relasi dengan agama lain. Bahwa sesungguhnya terjadi konflik–konflik itu bukan hanya konflik eksternal, tetapi juga internal antara kalangan Kristen fundamentalis dengan Kristen mainstream, yang gereja-gereja mainstream di Indonesia sebagian besar berlatarbelakang Jerman maupun Belanda. Jadi hasil dari pengabaran Injil di Jerman dan Belanda, termasuk GKM, GPM juga temasuk GKI, HKBP, GPIB, kemudian GMIM di Manado, GMIT di Timor, itu adalah gereja-gereja mainstream yang membentuk inti dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Kelompok-kelompok fundamentalis atau kelompok Evangelical yang revival itu terutama hadir dari Amerika latar belakangnya. Dan ini merebak kuat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Mengapa itu bisa terjadi?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Kalau menurut dugaan saya, hal itu terjadi bersamaan dengan proses modernisasi dan pembangunan yang kita jalani sekitar akhir 70-an, kalau saya tidak salah. Tahun-tahun itulah muncul gerakan-gerakan yang sangat militan, yang sangat mengutamakan misalnya pertobatan pribadi, mereka mengusahakan kebangunan-kebangunan rohani yang masal sifatnya. Jadi kebaktian misalnya dulu di tahun 70-an, kalau kita masih ingat Piligrehem pernah mengadakan kebaktian besar-besaran di Istora Senayan. Dan ini tidak hanya merisaukan kelompok kaum muslim, tetapi juga merisaukan gereja-gereja. Mengapa? Karena kelompok-kelompok ini ibaratnya membentuk, kalau saya ibaratkan para churhces, kekuatan sendiri. Jadi para gereja-gereja ini berdiri sendiri-sendiri di luar struktur PGI. PGI tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk mengendalikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Apakah ada semacam pandangan di kalangan Kristen fundamentalis bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan secara eksplisit atau implisit?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Saya rasa bukan di luar gereja. Itu istilah yang dipakai di kalangan Katolik. Istilah yang lebih tepatnya di luar kristus, di luar Yesus tidak ada keselamatan. Itu sebuah doktrin dasar sekali dan dimiliki oleh semua umat Kristen. Tetapi yang kemudian menjadi masalah adalah bagaimana mengartikan keselamatan. Apa artinya itu berimplikasi. Implikasinya apa? Dari kelompok fundamentalis atau Evangelical yang sebagian besar dari Amerika, seperti yang tadi saya katakan, itu sangat menekankan arti harafiah sehingga orang yang harus diselamatkan adalah orang yang sudah ditobatkan, istilah mereka, dijadikan Kristen. Baru orang itu namanya selamat mendapatkan jaminan masuk sorga. Tetapi di kalangan gereja-gereja mainstream sekarang ini sudah ada reinterpretasi terhadap kata keselamatan. Misalnya gereja Katolik melalui konsili Vatikan sudah menekankan itu, bahwa keselamatan itu juga hadir di dalam agama-agama lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Dan saya kira itu perkembangan yang cukup positif untuk hubungan antar agama di Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Karena itu, saya sebagai seorang yang aktif di dialog antar agama, melihat bahwa seringkali persoalan-persoalan konflik yang disebut konflik antar agama itu sebetulnya yang terjadi antara kelompok fundamentalisme satu agama melawan satu kelompok fundamentalisme agama yang lain. Jadi Islam dengan Kristen itu bukan Islam dan Kristennya yang berkonflik, tetapi aspek fundamentalisme di dalam Islam dengan aspek fundamentalisme di dalam Kristen. Dan ini kemudian tergantung militansi. Kita tidak bisa menggeneralisir. Ini masalah militansi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, kita harus menegaskan bahwa yang konflik itu bukan konflik antar agama. Yang konflik adalah orangnya. Berkaitan dengan itu, saya mau cerita ketika saya dihubungi oleh Pak Johan Effendi yang masih menjabat sebagai Litbang Departemen Agama. Pak Johan mengeluh kepada saya bahwa dia menemukan brosur-brosur penginjilan, semacam kristenisasi yang beredar di lingkungan pesantren. Ini meresahkan umat. Lalu dia tanya pada saya, apakah PGI yang melakukan penyebaran brosur itu. Saya terus terang katakan kepada Pak Johan waktu itu bahwa PGI tidak mampu melakukan itu. Karena kelompok-kelompok ini, yang saya istilahkan, para pengecer ini, kelompok-kelompok kecil para churches ini, dia bergerak di luar struktur, di luar institusi jangkauan PGI. Mereka tidak terlibat, tidak termasuk di dalam PGI. Mereka berdiri sendiri, sehingga akibatnya sulit sekali pengendaliannya. Mereka memiliki jaringan sendiri, dan jaringan ini bersifat internasional, bersifat global.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Menurut Anda, bagaimana cara efektif mengatasi persoalan-persoalan itu?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Mengatasi yang efektif itu adalah kampanye. Kampanye di dalam masing-masing agama untuk menyadarkan, itu pertama. Menyadarkan bahwa bukan itulah pesan utama agama. Pesan utama kekristenan itu bukan di situ. Bukan persoalan orang itu masuk atau tidak masuk Kristen. Masalah itu Tuhan saja yang tahu. Tetapi masalah utamanya adalah bahwa keselamatan itu berarti Tuhan mencintai seluruh umat manusia. Keselamatan bukannya persoalan di sorga. Ini yang pertama yang harus disadarkan kepada kelompok-kelompok di dalam dan ini adalah masalah internalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Masalah kedua adalah kampanye kepada agama lain untuk mengatakan bahwa Kristen atau Islam itu tidak monolitik. Ada kelompok-kelompok yang berbeda-beda tafsirannya, dan kita bisa dengan cukup cerdik dan baik menjalin relasi-relasi yang sesuai. Hanya dengan cara itulah, pengaruh-pengaruh kelompok fundamentalis, kelompok Evangelical revival ini bisa kita hadapi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Jadi Anda ingin mengatakan bahwa sebetulnya tugas para agamawan di semua agama itu adalah meluruskan pandangan agama di dalam masing-masing umatnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Betul. Itu terpulang kembali kepada bagaimana para agamawan kemudian mengembangkan paham-paham pandangan keagamaan yang inklusif, dialogis dan mau terbuka kepada yang lain. Sikap-sikap ini merupakan tuntutan jaman sekarang. Arus deras pluralisme itu tidak bisa dihindarkan lagi oleh agama mana pun juga.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Menurut Anda apakah usaha-usaha itu sudah dilakukan baik dari kalangan Kristen sendiri, terutama PGI sebagai organ resminya gereja-gereja Kristen?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Menurut saya sudah. Saya kira pertentangan di kalangan Kristen itu sudah sampai pada tahap yang kadang-kadang merisaukan juga. Tapi memang mungkin karena Kristen yang jumlahnya sedikit sehingga tidak melebar keluar. Tetapi pertentangan di dalam itu sangat keras.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>ULIL: Tapi semua agama saya kira mengalami hal yang sama.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">TRISNO: Dan ini adalah sebuah upaya yang harus dilakukan terus menerus mendidik kembali umat mengenai pandangan keagamaan yang benar. Misalnya saya mengambil contoh berdirinya Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta yang di jalan Proklamasi. Itu merupakan suatu usaha dari kelompok mainstream, gereja-gereja mainstream, untuk mempertahankan pandangan yang lebih terbuka tadi. Terbuka baik kepada kajian-kajian kritis ilmu pengetahuan maupun terhadap agama-agama lain, membuka dialog, dan sebagainya. Dan STT Jakarta di kalangan gereja-gereja, para churches itu dituduh sudah terlalu liberal. Itu contoh bagaimana pergulatan di dalam kekristenan itu sangat beragam.</p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">ULIL: Jadi pesan yang ingin Anda sampaikan adalah marilah semua agamawan dari berbagai agama berusaha bersama-sama bergandeng tangan untuk mengatasi masalah fundamentalisme ini. Tidak semua fundamentalisme itu mengandung hal yang negatif, tetapi ada beberapa di dalamnya yang negatif yang harus diakui dan itu harus diatasi bersama-sama oleh kaum agamawan. Jadi marilah kaum agamawan, Barsatulah menghadapi ini.</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> [] </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=26&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/fundamentalis-kristen-merebak-kuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Gejala Fundamentalisme</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/memahami-gejala-fundamentalisme/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/memahami-gejala-fundamentalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/memahami-gejala-fundamentalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Fundamentalisme sering mempunyai citra negatif. Peristiwa          bunuh diri massal David Koresh dan pengikutnya, yang dikenal          sebagai kelompok fundamentalis Kristen &#8220;Davidian Branch,&#8221;          pada pertengahan April lalu, hanya memperkuat citra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=25&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Fundamentalisme sering mempunyai citra negatif. Peristiwa          bunuh diri massal David Koresh dan pengikutnya, yang dikenal          sebagai kelompok fundamentalis Kristen &#8220;Davidian Branch,&#8221;          pada pertengahan April lalu, hanya memperkuat citra bahwa          kaum fundamentalis adalah orang-orang sesat. Di tempat          kelahirannya, Amerika Serikat, fundamentalisme punya makna          pejoratif seperti fanatik, anti intelektualisme, eksklusif          yang sering membentuk cult yang menyimpang dari praktek          keagamaan mainstream.</p>
<p>Mempertimbangkan perkembangan historis dan fenomena          fundamentalisme Kristen, sementara orang menolak penggunaan          istilah &#8220;fundamentalisme&#8221; untuk menyebut gejala keagamaan          semacam di kalangan Muslim. Tapi terlepas dari          keberatan-keberatan yang bisa dipahami itu, ide dasar yang          terkandung dalam istilah fundamentalisme Islam ada          kesamaannya dengan fundamentalisme Kristen; yakni kembali          kepada &#8220;fundamentals&#8221; (dasar-dasar) agama secara &#8220;penuh&#8221; dan          &#8220;literal&#8221;, bebas dari kompromi, penjinakan, dan          reinterpretasi.<span id="more-25"></span></p>
<p>Dengan mempertimbangkan beberapa karakteristik dasar itu,          maka fundamentalisme Islam bukanlah sepenuhnya gejala baru.          <a href="http://media.isnet.org/islam/Etc/Wahab.html">Muhammad bin &#8216;Abd al-Wahhab</a> dengan          kaum Wahhabiyyah bisa dikatakan sebagai gerakan          fundamentalisme Islam pertama yang berdampak panjang dan          luas. Gerakan Wahhabi muncul sebagai reaksi terhadap kondisi          internal umat Islam sendiri; tidak disebabkan faktor-faktor          luar seperti penetrasi Barat.</p>
<p>Banyak ahli dan pengamat menilai di masa kontemporer          fundamentalisme menggejala jauh lebih kuat di kalangan kaum          Muslim dibandingkan di kalangan penganut agama-agama lain.          Hal ini tentu saja kontras dengan kenyataan bahwa          masyarakat-masyarakat Muslim, yang termasuk ke dalam Dunia          Ketiga, dalam beberapa dasawarsa terakhir telah dan sedang          menggenjot proses modernisasi. Modernisasi, menurut banyak          sosiolog, pada gilirannya menimbulkan sekularisasi. Dengan          kata lain, dalam masyarakat modern yang bersifat          saintifik-industrial, kepercayaan, komitmen dan pengamalan          keagamaan mengalami kemerosotan.</p>
<p>Teori modernisasi-sekularisasi ini nampaknya semakin          kehilangan relevansinya. Harvey Cox misalnya belum lama ini          dalam bukunya Religion in the Secular City: Toward a          Postmodern Theology (1984) terpaksa &#8220;merevisi&#8221; teori          modernisasi-sekularisasinya seperti yang dikemukakannya          dalam The Secular City (1965). Sejauh menyangkut Islam,          Ernest Gellner berpendapat, &#8220;menyatakan sekularisasi berlaku          dalam Islam tidak hanya bisa diperdebatkan. Pandangan          seperti itu jelas keliru. Islam sekarang tetap kuat seperti          seabad lampau. Bahkan dalam segi-segi tertentu, semakin          kuat.&#8221; (Postmodernism and Religion, 1992).</p>
<p>Mengapa Islam begitu secularization-resistant? Menurut          Gellner, hal itu disebabkan watak dasar &#8220;High Islam&#8221;          &#8211;sebagai kontras &#8220;Folk Islam&#8221;&#8211; yang luarbiasa          monotheistik, nomokratik, dan pada umumnya sangat          berorientasi puritanisme dan skripturalisme. Dalam beberapa          dasawarsa terakhir terjadi pergeseran besar dari &#8220;Folk          Islam&#8221; kepada &#8220;High Islam&#8221;. Basis-basis sosial &#8220;Folk Islam&#8221;          sebagian besarnya mengalami erosi, sementara &#8220;High Islam&#8221;          terus semakin kuat. Seperti bisa diduga, &#8220;High Islam&#8221;          menyerukan kepada pengalaman ketat Islam, sebagaimana          dipraktekkan di masa-masa awal Islam. Dengan demikian,          Gellner menyimpulkan, Islam yang puritan dan skripturalis          kelihatannya tidak harus punah dalam kondisi modern. Dunia          modern, sebaliknya malah merangsang kebangkitannya.</p>
<p>Dalam segi-segi tertentu orang bisa mempertanyakan          keabsahan teori Gellner. Untuk kasus Indonesia, misalnya,          pergeseran dari &#8220;Folk Islam&#8221; kepada &#8220;High Islam&#8221; dapat          diartikan sebagai terjadinya proses &#8220;santrinisasi&#8221; kaum          Muslim. Tetapi penting dicatat, tidak seluruh mereka yang          mengalami proses &#8220;santrinisasi&#8221; ini kemudian menjadi          fundamentalis. Bahkan bisa dikatakan, hanya sebagian kecil          saja yang bisa dimasukkan ke dalam tipologi fundamentalis;          karena itulah mereka disebut sebagai kelompok sempalan          belaka. Wajah kaum santri yang ramah dan teduh tetap lebih          dominan. Gejala seperti ini agaknya juga dominan di          tempat-tempat lain di Dunia Muslim.</p>
<p>Poin ini penting ditegaskan. Pengamat Barat khususnya,          sering keliru&#8211;apakah sengaja atau tidak&#8211;dengan          mengidentikkan gejala &#8220;kebangkitan&#8221; Islam (atau tepatnya          intensifikasi keagamaan) di kalangan kaum Muslim sebagai          fundamentalisme Islam. Dalam kerangka inilah maka pengamat          Barat secara tidak bertanggungjawab menganggap Islam sebagai          &#8220;ancaman&#8221; vis-a-vis Dunia Barat. Pandangan Barat seperti itu          jelas tidak hanya naif tetapi juga sangat distortif.          Kajian-kajian yang lebih obyektif, adil dan jujur diperlukan          berbagai pihak untuk memahami gejala fundamentalisme Islam          secara lebih baik.</p>
<p>Diambil dari Jurnal Ulumul Qur&#8217;an.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=25&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/memahami-gejala-fundamentalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Negara Sekuler yang Tidak Anti Agama</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/indonesia-negara-sekuler-yang-tidak-anti-agama/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/indonesia-negara-sekuler-yang-tidak-anti-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 27-03-2007 &#124; 00:00 WIB
Oleh: Redaksi Syirah
Seperti biasa, kongkow bareng Gus Dur yang disiarkan oleh kantor berita 68H dan ditulis ulang oleh Syirah Online banyak diselingi guyonan-guyonan segar dari Gus Dur. Banyak tema yang diulas. Pun demikian, SMS dan telpon dari pendengar tak henti-henti masuk ke ruang studio. Mulai dari Pilkada DKI Jakarta, isu bentrokan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=24&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selasa, 27-03-2007 | 00:00 WIB</p>
<p>Oleh: <span class="small">Redaksi Syirah</span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;">Seperti biasa, kongkow bareng Gus Dur yang disiarkan oleh kantor berita <em>68H </em>dan ditulis ulang oleh <em>Syirah Online </em>banyak diselingi guyonan-guyonan segar dari Gus Dur. Banyak tema yang diulas. Pun demikian, SMS dan telpon dari pendengar tak henti-henti masuk ke ruang studio. Mulai dari Pilkada DKI Jakarta, isu bentrokan PKB, pertanyaan tentang aliran LDII, sampai bagaimana memahami sekulerisme dalam konteks keindonesiaa.</span> <!--[if gte vml 1]&gt;                     &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<p>Mengenai sekulerisme itu, menurut Gus Dur, sempat muncul perdebatan apakah Indonesia adalah Negara sekuler ataukah Negara agama (teokrasi). Perdebatan ini kemudian memunculkan pandangan bahwa Indonesia bukan Negara sekuler dan bukan pula Negara teokrasi. Pandangan ini, bagi Gus Dur, adalah pandangan yang tidak berdasar dan lucu. “Bisa-bisa Indonesia adalah Negara yang bukan-bukan,” guraunya.</p>
<p>Dalam pandangan Gus Dur, Indonesia adalah Negara sekuler. Hanya saja, Gus Dur tidak setuju jika sekulerisme Indonesia harus persis seperti di Negara-negara Barat, terutama Prancis yang anti agama. Dalam sekulerisme Indonesia, Negara menjamin keberlangsungan agama-agama, bahkan memberi fasilitas dan dukungannya.</p>
<p>Selengkapnya, ngobrol-ngobrol dalam kongkow bersama Gus Dur, Sabtu lalu, tanggal 24 Maret 2007, bisa dibaca dalam transkrip di bawah ini.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Selamat pagi Saudara. Kita kembali berjumpa dalam Kongkow Bareng Gus Dur di <em>KBR 68H </em>Jakarta. Acara ini disiarkan juga oleh sebanyak 63 jaringan kantor berita radio 68H, dari Papua hingga Aceh di Nusantara. Acara ini juga didukung oleh media <em>Syirah Online</em>. Bagi anda yang hobi berselancar di Internet, silakan membuka transkrip acara ini di <em>www.syirah.com</em>. Dan saudara, pagi ini Gus Dur sudah bersama kita di Kedai Tempo, dan hadir juga beberapa tamu yang sengaja hendak bertemu dengan Gus Dur untuk membincangkan beberapa persoalan bangsa, persoalan-persoalan keindonesiaan yang saat lagi hangat. Saya Guntur Romli sudah diteman Pak Acun (KH. Abdul Wahid Maryanto), juga Bung Ryan di studio atas dan Bung Dedy sebagai teknisi di kedai Tempo ini, akan menemani anda selama satu jam ke depan. Kita sapa dulu Gus Dur. Selamat Pagi Gus?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Selamat Pagi</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Sehat Gus?<span id="more-24"></span><br />
<!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--more--><!--[endif]--><br />
<strong><span style="font-family:Georgia;">Gus Dur: </span></strong><span style="font-family:Georgia;">Sehat.</span></p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Kalau nggak salah, minggu kemarin Gus Dur ke Batam. Ada acara apa itu Gus? kalau boleh tahu.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Saya sekarang ini banyak (melakukan aktivitas) di PKB, sebagai ketua umum Dewan Syura.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Ya Saudara. Di Kedai Tempo juga ada tamu, Bapak Matius Mangentang, rektor juga sekaligus ketua STT (Sekolah Tinggi Teologia) STIA, yang kasusnya sempat diulas di beberapa pertemuan sebelumnya. Juga ada Bapak Suparmin Sunjoyo, beliau ini mantan Duta Besar di Suriname. Mereka berdua akan menemani kita berbincang-bincang satu jam ke depan.</p>
<p>Dan Saudara, anda yang ingin mengirim SMS, silakan mengirim ke 08121188181, dan anda yang diluar kota bisa menelpon ke nomor bebas pulsa 0800-1403-131, nanti Bung Ryan yang akan menyambungkan telpon dan menyampaikan pesan anda. Pak Acun, silakan membacakan beberapa petikan dari kitab <em>Al-Hikam</em>!</p>
<p><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong><em>Bismillahirrahmanirrahim, Ma dumta laka Syai`un mitslu al-Idhthirori, wa la usri’a bi al-mawahib ‘alaika mitslu al-Dzullati wa al-Iftiqari. </em>Anda tak minta sesuatu sebagai halnya keadaan darurat. Dan anda tidak pernah dipercepat pemberian itu seperti kerendahan dan kehinaan. Mohon hikmah dari Ibnu Athaillah ini diperjelas, Gus!</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Ya artinya, Tuhan itu mempersilakan dengan tepat waktu yang disediakan untuk setiap orang. Hal itu tidak pernah lebih cepat dari yang direncanakan, dan tidak pernah lebih lambat.<br />
<strong><br />
Guntur: </strong>Ya, Gus Dur, ada yang mau disampaikan sebelum kita berbincang lebih jauh dengan para tamu kita pagi ini?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Oh iya. Saya kemarin kedatangan tokoh kita, Jenderal Agum Gumelar. Bicara tentang pencalonan untuk menjadi gubernur DKI. Bahwa dia itu tadinya dihubungi oleh Partai Demokrat untuk menjadi calon. Lah kemudian dia bicara dengan keluarganya, dan setelah itu dengan percaya diri dia maju. Eh.. tahu-tahu Partai Demokrat itu mencalonkan orang lain dan disetujui oleh SBY (Susilo Bambang Yudoyono). Lalu, dia ada perjanjian dengan saudara Sarwono (Kusuma Atmaja). Saya nilai Bagus, karena Sarwono Bersih, Agum Gumelar bersih. Nggak pakai main duit seperti yang lain. Ya, kita lihat aja nanti. Antara mereka ada kesepakatan, siapa pun nanti yang dapat suara lebih banyak, yang kalah itu akan memberikan suaranya kepada yang menang. Nah, saya pikir, ini kesepakatan yang bagus. Agreement gentlement yang bagus, maka saya bilang kepada Pak Agum waktu itu maupun dengan saudara Sarwono melalui telpon, bahwa PKB menunggu siapa yang jadi. Karena dua-duanya baik untuk PKB. Adapun Wagub kita sudah punya calon, yaitu saudara Rano Karno. Ya udah gitu aja. Saya sampaikan kepada mereka berdua, <em>nggak </em>usah grogi, memang bagaimana pun Golkar selalu begitu. Iya Golkar itu kan tiba-tiba nakut-nakutin orang lain, seolah-seolah (calon) dari PKS akan jadi, yaitu Adang Darajatun. Wah, semua ketakutan. Termasuk SBY. Megawati juga ketakutan. Akhirnya menyatakan akan mendukung Fauzi Bowo. PKB sih tenang-tenang saja. Sebab kita tahu, nanti akhirnya (koalisi Jakarta) itu akan berantakan sendiri. Nggak usah pusing-pusing kita, sebab masih lama kok. Waktunya paling tidak dua bulan, untuk mengendapkan semua hal.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Terima kasih Gus Dur. Itu tadi pembukaan tentang perkembangan politik di DKI Jakarta, tentang pencalonan gubernur. Di studio juga sudah hadir Pak Matius Mangentang, ketua STT Arasy Tamar, di Kampung Pulo, yang kemarin didemo oleh sekolompok orang yang dibelakangnya ada yang berseragam FPI. Silakan Pak Matius, barangkali ada yang ingin disampaikan kepada Gus Dur dan para pendengar <em>KBR 68H</em> di nusantara. Silakan!</p>
<p><strong>Matius Mangentang: </strong>Terima kasih. Kami atas nama STT STIA mengucapkan terima kasih kepada Bapak bangsa kita, Bapak rakyat, Bapak kemajemukan dan keberagaman kita: Bapak Gus Dur, yang benar-benar menegakkan identitas kebangsaan kita, sehingga kita betul-betul aman di tengah keruwetan-keruwetan bangsa ini. Karena itu, kepada Bapak Gus Dur, terimalah salam kami, karena betul-betul apa yang Gus Dur sampaikan bisa menenangkan rakyat ini. Kita berharap, lebih banyak lagi rakyat yang bisa tertidur, bisa lelap, di bawah pernyataan-pernyataan Gus Dur. Ini yang betul-betul diharapkan di tengah-tengah keruwetan bangsa.</p>
<p>Nah, kepada bapak Gus Dur, kami atas nama sekolah STT menyampaikan bahwa yang dididik di kampus kami adalah anak bangsa dari seluruh penjuru tanah air, yang betul-betul berasal dari keluarga miskin, tidak mampu yang kami didik supaya berguna di kampung halaman. Kondisi asrama betul-betul seperti ikan sarden. Kita mau memban gun (gedung sekolah) supaya bisa membagi-bagi oksigen dalam ruangan. Yaitu dengan harapan Gus Dur bisa berkunjung untuk bisa melihat anaknya sendiri, rakyatnya sendiri.</p>
<p>Gus Dur: Saya rasa, soal kunjungan saya sendiri, itu gampang lah. Nanti tinggal diatur. Tapi yang terpenting adalah, Undang-undang Dasar sudah menetapkan bahwa kita ini majemuk. Bahwa kita ini multikultural, bahwa kita ini bukan Negara Islam. Adapun adanya kelompok-kelompok itu (yang melakukan penolakan pembangunan sekolah), itu karena ada pejabat yang mendukung mereka. Kalau nggak ada itu, ya beres lah semuanya. Ya mudah-mudahan dalam waktu yang nggak lama lagi, kita habisin semua itu.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>:</strong> Ini kan ada rencana untuk membangun kembali Asrama ya Pak Matius? Bagaimana rencana ke depan? Seharusnya kan ini ada tanggung jawab dari aparat, tentang keamanan dan perlindungan. Sebagai warga Negara, punya hak untuk itu. Kabar terakhir bagaimana Pak Matius, soal pembangunan untuk masa datang? Diteruskan apa tidak itu? atau masih takut sama FPI?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Teruskan saja. Orang sudah dibangun kok. Kenapa sih takut sama FPI?</p>
<p><strong>Matius Mangentang: </strong>Terima kasih Gus. Sebenarnya, Walikota dan Pemda sendiri sudah memutuskan bahwa tidak halangan karena sudah lengkap dalam perizinan. Jadi, kami sudah sangat berharap para aparat mau melindungi rakyatnya yang mau membangun di atas haknya. Kami hanya berkata, seperti orang lain yang punya hak, kami juga punya hak selama itu tidak mengganggu hak orang lain. Karena itu, kami berhak dilindungi.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Garda Bangsa nanti akan jaga terus, sampai jadi. Gampang itu.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>:</strong> Baik. Sudah ada dukungan dari Gus Dur ya Pak Matius. Bung Ryan, apakah sudah ada SMS atau telpon yang masuk?</p>
<p><strong>Ryan</strong>: Ya mas Guntur. Selamat pagi buat semua di bawah sana. Di studio, di lantai dua, saat ini saya berada, cukup banyak SMS yang masuk ini mas Guntur, juga Gus Dur, untuk bertanya banyak hal. Saya ke pesan pendek dulu. Dari Pak Mario di Bekasi. Ini cuma menyampaikan pendapat saja soal persyaratan capres yang harus berijazah S-1, “Ini sangat memalukan. Lihat pak Adam Malik yang piawai dan Pak Agus Salim, grand oldman, yang mampu enam bahasa.” Berikutnya pak Rico di Depok, “Ayo Gus Dur, maju terus. Cuma anda yang berani membela saudara-saudaraku yang bersengketa dengan Lapindo. Dan juga buat KPK, jangan menyerah! sikat terus para koruptor.” Berikutnya, dari Ali di Mampang, <em>“Assalamu’alaikum. Mata’a Allahu fi thuli hayatik</em> Gus. Gus, ada apa sebenarnya dengan Bulog ini?.” Berikutnya pertanyaan rombongan dari Gus Rif di Jakarta, “ Apa komentar Gus Dur soal Lapindo, soal pembelian Laptop DPR 21 milyar dan bentrokan massa PKB di Surabaya kemarin?” Satu penelpon sudah bersama kita, Pak Imron di Bekasi. Selamat Pagi pak Imron. Silakan.</p>
<p><strong>Imron </strong>(Penelpon-Bekasi): Assalamu’alaikum. Waduh pak Kiai. Saya baru bisa ketemu sama pak Kiai ini. Saya ke daerah terus. Ini Pak Kiai. Saya ingin kasih komentar dulu. Nanti tolong Bapak tanggapi. Kalau zaman jahiliyah dulu, banyak orang menyembah patung atau berhala. Tapi pada zaman jahiliyah modern sekarang ini, banyak orang menyembah diri dan otak mereka, alias mempertuhankan diri dan otak. Sehingga nggak percaya dengan apa-apa yang tidak logis, tidak rasional. Yang dipercaya hanya yang logis, yang rasional. Apa itu yang disebut sekuler pak Kiai? Makanya, sebagian besar bangsa ini kaum sekule, yaitu mempertuhan diri dan otak, sehingga Tuhan kasih peringatan terus, dikasih bencana terus-menerus. Terima kasih. Assalamu’alaikum.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Begini ya pak. Sebetulnya dalam Islam itu, pakai otak atau dalil aqli maupun tidak pakai otak, dalil naqli, dua-duanya itu sama-sama penting. Hanya saja pada aplikasinya sering terjadi ketimpangan. Ada pihak yang mengutamakan akalnya dari pada naqlinya. Ya, namanya mengutamakan nggak bisa disalahkan toh. Tapi kalau (menggunakan) akal (namun) nggak pakai naqli terlalu banyak, membingungkan juga. Seperti saya. Saya kalau menggunakan dalil-dalil naqli, tanpa akal dalam masalah (semburan) lumpur Porong, saya jadi bingung. Sangat banyak berita yang datang kepada saya. Begini- begitu, begitu-begini. Bahkan sampai (ada yang mengatakan) bahwa nanti di sana akan terjadi danau dari kali Porong di selatan ke dekat Juanda di utara, sehingga nanti kota Sidoarjo akan tenggelam. Lha begini ini kan saya (jadi) ketakutan. Tapi saya menyatakan, lha itu nggak benar. Jadi (hal tersebut) banyak menimbulkan kesulitan. Jadi kita harus bagaimana menyeimbangkan di antara kedua-duanya.</p>
<p>Soal bencana di Porong itu, ya yang mana aja lah. Menurut saya itu, saya nggak mau ikut yang lain-lain. Semua teriak-teriak silakan. Dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi, pemerintah daerah, semuanya goblok. Kenapa? Lha yang diributin kok Lapindonya, yang diributin kok Porongnya. Sekarang malah dimasukin b ola beton. Padahal sebenarnya, yang harus kita pentingkan itu dua hal. Satu, sertifikasi daerah-daerah bencana. Karena di dalamnya, kata ahli-ahli geologi, ada sumber minyak dan gas di Indonesia. Jangan sampai nanti sertifikatnya kepada orang lain, sehingga rakyatnya nggak punya apa-apa. Dan pada waktu orang akan menambang itu, nggak bayar jadinya. Lalu kedua, pemindahan orang ke daerah baru, <em>resettlement</em>, itu kan membutuhkan biaya. Lha kalau duit yang dihabis-habisin di Porong itu, kan lebih baik untuk daerah baru. Ini intinya. Jadi, saya berbeda dengan teman-teman. Saya berbeda dengan pemerintah. Kita lihat saja deh nantinya. Sekarang ini pemerintah berpikir mau bikin batu bata di Porong. Gubernurnya kan bilang begitu. “Lumpur di Porong itu bagus untuk dibikin batu bata.” Lha terus bagaimana ini kalau gubernurnya begitu modelnya.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Terus soal bentrok PKB di Surabaya?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Ah itu biasa. Nggak masalah apa-apa. Soal kecil saja itu. Yang jelas, PKNU itu nggak punya apa-apa. Siapa pun yang bikin keributan di kantor itu…. Anam, kantor Khairul Anam yang dulunya milik Pemda, uangnya dari Pemda itu. Ya mestinya dikembalikan ke Pemda, bukan dipakai untuk konferensi (pers). Kalau pemerintah daerahnya adil, begitu mestinya. “Jangan dipakai!” Ini kok bisa dipakai orang, lah yo nemen.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Dan PKB Jawa Timur sendiri nggak ada niat untuk mengambil (kantor itu) ya Gus?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Nggak ada. Nggak usah ngambil, (PKB) juga menang.</p>
<p><strong>Ryan : </strong>Mas Guntur, ada sms ini sudah masuk, soal perkembangan penangkapan teroris baru-baru ini di Yogyakarta, Sukoharjo, dan juga Surabaya. Pertanyaannya dari Pak Wandy, “Gus Dur, bagaimana tanggapan anda soal tertangkapnya anak buah Abu Dujana? Apakah ini akan melemahkan kegiatan mereka? Dan sebenarnya apa yang diperjuangkan oleh mereka dengan membuat teror di Indonesia?” pertanyaan yang sama juga disampaikan oleh Pak Tino di Cikarang. Kemudian dari pak Anwar di Cinere, “Bagaimana pendapat Gus Dur dengan aliran Islam LDII? Saya pengagum berat Gus Dur. Terima kasih.” Satu penelpon sudah dengan kita. Pak Samsudin. Sialakan!</p>
<p><strong>Samsudin: </strong>Assalamu’alaikum Gus Dur. Pak Mau Tanya aja pak. Soal Kartu Miskin atau Askin itu pak. Untuk jatah perawatan orang miskin di rumah sakit itu sebenarnya sampai kapan untuk orang tidak mampu. Karena saya mengalami sendiri. Kemarin Istri saya sakit sampai akhirnya meninggalkan saya karena sakit jantung akut. Ketika dirujuk dari rumah sakit al-multazam ke rumah sakit umum Bekasi, belum sempat yang sakit itu diturunkan ke UGD, sudah serta merta dibilang nggak ada kamar kosong untuk perempuan. Saya berkeyakinan, apa karena melihat saya sebagai seorang saja yang nggak bisa ngasih apa-apa, akhirnya ya sudah, saya nggak bisa apa-apa, maka saya bawa pulang saja dan akhirnya Almarhumah meninggal di rumah malam itu juga. Itu saja yang ingin saya tanyakan. Coba sebagai Gus yang giat memperjuangkan hak asasi manusia, coba diluruskan masalah askin itu, sebenarnya jatahnya berapa? Kalau boleh tahu. Terima kasih Gus. <em>Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.<br />
</em><strong><br />
KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong>Yang pertama tadi soal penangkapan teroris. Itu bagaimana?</p>
<p><strong>Gus Dur:</strong> Oh iya. Soal teroris itu memang menjadi kewajiban Polri untuk mengamankan kita, menangkap mereka. Tapi saya berfikir, masih banyak juga teroris di luar yang masih terjadi. wah Nama Noordin bin Top saja nggak ada dalam daftar yang ditangkap itu. Jangan-jangan memang nggak ada dia.</p>
<p>Kemudian (soal LDII), LDII itu sebuah gerakan sempalan di Indonesia yang oleh Golkar dulu dipelihara untuk mengacau yang lain, PPP, PDI Perjuangan, dan seterusnya. Kalau sekarang, nggak tahu saya bagaimana-bagaimananya. Mungkin berubah lagi. Yang jelas, dia itu adalah organisasi yang sering berubah kelamin. Gitu aja.</p>
<p>(Soal keluhan kartu miskin) Ya, kartu miskin itu tergantung dari yang memberikan. Kalau yang memberikan itu diberikan kepada yang berhak (bisa benar). Kalau enggak, ya seperti itu, dimain-mainkan orang. (misalnya) Rumah sakit sini belum ada (kartu miskin itu). kalau ada, tapi nggak ada hak apa-apa. Itu bisa saja. Itu tergantung juga rumah sakitnya. Kalau saya sendiri, terus terang saja, tidak begitu setuju dengan kartu miskin itu. Bagi saya, yang terpenting adalah pemerintah memusatkan segenap perhatiannya kepada peningkatan pendapatan. Kalau pendapatan bisa dinaikkan, maka dengan sendirinya mereka bisa membayar (rumah sakit). Untuk meningkatkan pendapatan, nomor satu (yang harus dilakukan) adalah berusaha menghapuskan atau memerangi korupsi. Ini yang pemerintah nggak mau. Masak dari bawah sampai atas semua (jajaran pemerintah) korupsi.</p>
<p><strong>Ryan: </strong>Baik, ini ada SMS yang masuk. Dari Denis Maria di Jakarta, bertanya soal STT STIA tadi, “Gus, mengapa SBY diam saja kalau FPI melakukan kekerasan, mohon tanggapannya.” Berikutnya dari Agus Setiawan di Parung, “Gus, kita sebagai umat beragama menyadari dan tahu diri, jangan mencubit kalau nggak mau dicubit dan jangan suka mengadu domba.” Berikutnya dari Pak Hartono, “Assalamu’alaikum Gus Dur. Saya berpendapat bahwa salah satu kesalahan besar bangsa ini setelah Orde Baru adalah melengserkan presiden. Terima kasih.”</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>SBY membiarkan (kekerasan FPI) karena SBY tidak berani sama sesama jenderal. Kenapa? Itu organisasi yang brengsek itu, semuanya yang bikin ya jenderal juga. Anda tahu nggak? FPI itu yang bikin dua jenderal angkatan darat dan dua jenderal Polisi. Nah, Forum Betawi Rempug itu juga siapa? Dari Kodam juga yang bikin. Yang membunuh Munir itu siapa? Dulu, beberapa tahun yang lalu ada pengrusakan-pengrusakan dan pembakaran gereja Katolik, serta klenteng-klenteng, itu semua yang menjalankan adalah Kodam Brawijaya. Yang melatih juga mereka. (Yang melakukan ada) orang NU memang, tapi yang melatih mereka. (mereka yang dilatih) kan ngomong sama saya. Lha itu lah. Kita nggak bisa apa-apa sebagai rakyat. Juga yang di kirim ke Ambon (itu sama saja). Makanya ada guyon di CIA, di Virgnia Amerika Serikat, di Indonesia sudah tidak ada teroris, karena semua sudah jadi menteri. Dianggap saya ini sinis kan. Padahal ini guyonannya mereka. Mereka melihat kenyataan. Terus apa lagi tadi?</p>
<p><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong>Nanti hal-hal semacam itu dianggapnya mengadu domba</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Yang mengadu domba itu mereka dong. Kita sih tenang-tenang aja. Kita bukan domba kok. Kita ini rakyat.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Iya. Kemudian kasus STT STIA yang ada di Kampung Pulo apa yang bisa Gus Dur sampaikan, juga kepada Pak Matius. Apa ada hubungan dengan rakyat sekitar yang sudah diobok-obok.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Sudah bagus itu. Saya juga punya informasi saya sendiri kan? Jadi bukan dari Pak Matius doang. Saya sudah mendapat informasi cukup, terus saya perintahkan kepada Garda Bangsa, “Jagain tuh STT yang di Halim.” Gitu saja. Kalau perlu kita jagain terus sampai jadi gedungnya.</p>
<p><strong>Ryan: </strong>Baik, ada tambahan soal FPI tadi dari Pak Dedy di Jakarta Utara, “Waktu aliran Ahmadiyah diobrak-abrik oleh FPI dan Mujahidin Indonesia di Mataram, Jawa Barat, dan DKI, plus FBR, sebetulnya ada indikasi ada MUI di belakang mereka.” Dua pendengar sudah bersama kita, Pak Rajabonar di Jakarta Selatan dan Pak Aris di Tangerang. Pak Rajabonar silakan.</p>
<p><strong>Rajabonar </strong>(Pendengar-Jakarat): Selamat pagi Gus Dur, Assalamu’alaikum. Saya ingin menanyakan beberapa hal. Pertama, kita ingin tahu soal pandangan agama Krisnamurti.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong> : </strong>Apa tadi pak?</p>
<p><strong>Rajabonar</strong> (Pendengar-Jakarat): Krisnamurti. Tahu lah Gus Dur (soal) itu. Yang dari India itu. Bagaimana pandangan agama dia itu menurut Gus Dur? Kemudian yang kedua, soal Jamaah tablih di jalan Hayam Wuruk itu. Bagaimana pandangan Gus Dur terhadap hal itu? hal yang kedua yang ingin saya tanyakan adalah apa sih, menurut Gus Dur, keinginan bangsa ini dan juga keyakinan dibalik keinginan bangsa ini, apa yang masih menjadi keyakinan bangsa ini supaya mau maju. Karena teater di bangsa Indonesia itu ternyata persoalan-persoalan yang kita hadapi sekarang. Seperti FPI yang jago-jagoan, beking-bekingan. Terus garda ini, garda sana. Terus untuk apa? Tidak ada follow up ke depan, tidak ada pendewasaan masyarakatnya, menurut saya. Saya kira demikian. Assalamu’alaikum.</p>
<p><strong>Ryan: </strong>Selanjutnya Pak Aris di Tangerang. Silakan Pak!</p>
<p><strong>Aris </strong>(Pendengar-Tangerang): Assalamu’alaikum, Gus Dur. Saya mau nimbrung Tanya ini Gus Dur. Masalah pemilihan legislatif Gus Dur. Apakah ada manfaatnya nanti di pemilihan umum cuma milih legislatif. Kok yang saya rasakan, keputusan-keputusannya nggak ada yang memihak kepada rakyat. Semuanya kalau yang ada hubungannya dengan legislatif, terus langsung. Tapi soal yang kaitannya dengan rakyat, yang saya rasakan, seperi petani soal pupuk, obat-obatan itu nggak pernah ada aturannya. Yang kedua, selama ini kan ekskutif itu ada aturan dua kali tidak (boleh) menjabat lagi, legislatif apa sebaiknya sama, kalau sudah dua periode nggak boleh menjabat lagi. Itu saja. Terima kasih. Assalamu’alaikum.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Krisnamurti itu saya nggak tahu ya saya. Jangan-jangan apa itu Krisnamurti, jadi ada agama yang menamakan dirinya Hare Krishna, Hare Rama, dan sebagainya itu? Kalau itu sih nggak apa-apa. Barang aneh, tapi ya nggak apa-apa. Simple aja. Apa mereka beranggapan bahwa mereka yang boleh masuk surga, yang lainnya enggak, ya urusan mereka. Baru anggapan aja kok pusing-pusing amat. Yang kedua, tentang Jamaah tabligh. Begini ya. Ini ada dua macam persoalan. Satu, jamaah tabligh itu sendiri. Jamaah Tabligh adalah jamaah yang mengikuti pendirinya di Pakistan. Yaitu, mereka tiap tahun, dalam sekian hari, memang harus disediakan untuk tabligh. Jalan deh (mereka). Tanpa dibiaya, harus membiayai dirinya sendiri. mereka ada di Pakistan, India, Malaysia, Singapura dan sebagainya. Di Indonesia, baru tahun-tahun 90-an masuk. Mereka sampai sekarang masih ada. Itu memerlukan pusat. Cuma ini nggak ada masalah. Hanya saja, di sementara tempat, seperti di dekat Ngawi, masuk Magetan ya, (yaitu) di Temboro. Ada Kiai Mahmud, itu setelah menjadi Jamaah Tabligh, itu lalu menganggap yang lain harus dijauhi. Itu saja. Sehingga ada masjid yang bekasnya orang Suni kayak saya ini harus dicuci. Lha ini nggak ada dalam ajaran Islam. Yang ada dalam Islam itu, semua bisa sembayang di masjid yang sama, (baik) sunni, syiah, muhammadiyah, NU, apalagi jamaah tabligh. Ini yang pertama. Sisi kedua, kita harus melihat DKI secara keseluruhan. DKI yang kita kenal dengan Jakarta itu sejak semula dibayang-bayangi para habib. Lima orang yang paling utama. Angkatan pertama, abad ke-16, ada habib (bernam) Ahmad Shiddiq, pangeran Jayakarta. Tempatnya dekat Rawamangun, di Jatinegara Kaum. Kemudian yang kedua, habib Abdul Halim di Marunda sana, dekat Cilincing, nyeberang sedikit, terus jalan kaki. Itu gurunya, (tokoh) yang terkenal sekali di Betawi ini, Si Pitung. Kuburannya bukan di masjid. Di sebelah masjid ka nada kuburan bagus. Bukan di situ (makamnya). Tapi (kuburannya) yang dekat kakus. Hingga kalau kita lagi wiridan di situ, dengar bunyi Ee…, orang ngeden itu. Yang ketiga habib Husain bin Abu Bakar al-Aydrus Luar Batang. Nah, yang keempat inilah habib Ustman Krukut. Kadang disebut Jeruk Purut, seberangnya Gajah Mada Plaza. Nah, yang kelima habib Ali al-Habsyi Kwitang. Kuburannya dekat sungai di Kwitang situ. Jadi kelima itu yang melindungi Jakarta. Saya nggak tahu, sekarang ada gantinya apa enggak? Ya yang ada habib, habib Rizieq. Maka saya dulu bikin pertanyaan, di mana ada Imam melarang Da’i nggak boleh menangkap habib. Karena imamnya, Imam Samudera, da’inya Da’I Bachtiar, Nggak boleh nangkap Habib Rizieq. Itu guyonnya.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Susah Gus ya?</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Nggak susah sebenarnya. Kalau kita bisa bertindak tegas, siapa pun yang melanggar Undang-undang harus mempertanggungjawabkan hal itu.</p>
<p><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: Kemudian </strong>tadi ada pertanyaan dari Pak Aris tentang pemilihan umum mendatang. Bagaimana ini, sekarang kok nampaknya (anggota dewan) hasil pemilihan (umum) tidak berpihak kepada rakyat.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Ya memang. Keseluruhan pemerintahan kita, yang namanya reformasi itu keliru toh? Dulu itu kita mengadakan reformasi dengan mahasiswa mati di Trisakti, di Semanggi, itu kan maksudnya supaya ada reformasi. Cuma salah kita toh, kita serahkan kepada pemimpin Parpol. Akhirnya kepentingan partai-partai itu yang lebih (menonjol). Jadi, bukan sebuah system pemerintahan, tetapi sejumlah system pemerintahan yang kecil-kecil dicopot. Ini mana bisa? Sehingga terjadi penipuan kayak Golkar di DKI itu. Jadi, semuanya salah kita juga. Bagaimana memperbaikinya, ya mari kita rembug yang jelas.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>:</strong> Pak Suparmin, mantan Duta Besar di Suriname akan mengobrol juga dengan Gus Dur, dengan kita semua. Silakan!</p>
<p><strong>Suparmin: </strong>Terima kasih Gus Dur. Pendengar yang saya hormati. Sewaktu Gus Dur masih presiden, berkunjung ke Hanoi, saya menjadi konsultan jendral di Ho chi min city dan membantu kelancaran kunjungan beliau. Sewaktu rombongan Gus Dur sebagai presiden berhadap-hadapan dengan delegasi dari Vietnam, Gus Dur berpidato secara lisan, saya merasa terharu dan bangga sakali, karena beliau (bisa) mengungkapkan persamaan-persamaan Indonesia dengan Vietnam dengan sangat tepat, sangat mengena. Saya sebagai warga Negara Indonesia merasa bangga dengan Gus Dur waktu itu. Kemudian setelah dari Ho Chi Min saya dipindah menjadi Duta Besar di Suriname. Yang ingin saya tanyakan pada Gus Dur, sudah dua hari ini saya menghadiri ulang tahun Jaringan Islam Liberal yang ke-enam. Ada pemutaran film dan diskusi-diskusi yang menarik dengan tema pokok masalah sekulerisme, di dunia dan Indonesia. Yang ingin saya tanyakan kepada Gus Dur adalah bagaimana prospek Sekulerisme di Indonesia? Untuk diketahui bersama, bahwa konstitusi kita memang sekuler. Tidak secara implisit mencantumkan agama. Sehingga itu merupakan jasa yang monumental dari pendiri bangsa ini untuk mengayomi warga negara sesuai dengan keadaan obyektif waktu itu. Tapi dalam perkembangannya kemudian, di arus bawah ada upaya-upaya agama diatur-atur, sehingga kebebasan individu menjadi berkurang. Sehingga golongan-golongan yang minoritas itu tertekan. Sebagai rujukan, kemarin ada pembicara yang baru pulang dari Aceh. Di sana ada isu yang masih hangat, bahwa di salon-salon (wanita) itu hanya mengurusi wanita saja. Sedangkan salon laki-laki ya (khusus) laki-laki. Sebagai guyonannya kemarin, sebenarnya yang menderita adalah golongan laki-laki. Ini sebagai contoh kecil. Kemudian ada yang bernama Ibu Yenny, bahwa RUU APP itu sekarang stagnant, dipending atau dihilangkan pelan-pelan, rupanya dialihkan dengan upaya-upaya mencantumkan dalam rencana KUHP yang baru. Kemarin itu, (ada gagasan) bagaimana kelompok-kelompok kecil seperti JIL ini (ada dukungan), tapi menurut pandangan saya pribadi, kelompok seperti JIL ini nggak usah khawatir. Karena silent majority sangat besar. Seperti saya, terus terang saya akan ikut, karena pandangan dan gagasannya sesuai dengan kondisi obyektif yang ada dan demi kemajuan di Indonesia. Jadi, saya ingin mendapat wawasan, bagaimana pandangan Gus Dur tentang prospek tarik-menarik antara sekulerisme dan religius yang fanatic yang ingin mewarnai percaturan kehidupan di Indonesia. Terima kasih.</p>
<p><strong>Gus Dur: </strong>Terima kasih pak Suparmin. Saya betul-betul merasa bahwa bangsa kita ini, ketika berdialog apakah Negara ini sekuler atau tidak, itu menggunakan akal secara tepat. Sebab ada yang nggak tepat. Di sebuah seminar tentang Pancasila dimana Mbak Mega itu memaparkan pandangan-pandangannya, baru (kemudian) Pak Tri Strisno. Dia bilang, “Indonesia ini bukan Negara sekuler, juga bukan Negara teokrasi.” Lha ini kita bingung. Kita enggak. Kita langsung bilang bahwa negara ini sekuler. Tentang (pendapat) pak Tri itu saya komentari. (pada acara itu, saya bilang) “Sebelum saya mengungkap pandangan-pandangan saya, saya ingin mengomentari sedikit pandangan pak Tri tadi. Bahwa Indonesia bukan Negara sekuler juga bukan Negara teokrasi. Kalau mengikuti pandangan Pak Tri tadi, bisa-bisa Indonesia bukan Negara yang bukan-bukan.” (pandangan tadi) itu kan doktrin di kalangan TNI.</p>
<p>Menurut saya, silent majority di Indonesia ini meminta Negara sekuler, tapi Negara sekuler jangan seperti di Prancis, yaitu anti agama. Karena itu, di Indonesia semua ditampung dalam sebuah sikap. Sikap ini harus dipelihara baik-baik. Yaitu pemerintah hanya mengakui lima agama. Yang lain silakan hidup, tetapi pemerintah tidak punya duit untuk membantu. Hidup ya nggak apa-apa, Cuma kita nggak punya duit. Kita terbuka saja (mengenai hal itu).</p>
<p>Kemudian, terus terang saja, saya orang yang anti RUU APP. Bukan apa-apa. Karena RUU anti pornografi dan pornoaksi itu membuka lembaran baru pemerintah campur tangan. Padahal kan nggak boleh pemerintah campur tangan. Urusan agama yang merupakan urusan moral, itu urusan masyarakat, bukan urusan pemerintah. Kalau kemudian itu dihilangkan lalu sekarang masuk rancangan KUHP ya biar saja. Lihat saja nanti yang kita perjuangkan. Kita nggak usah merendahkan mereka yang berjuang habis-habisan untuk itu. ada saudari-saudari yang berjuang mati-matian melawan RUU APP yang salah. RUU APP itu, kalau (menurut) saya sih, guyonannya itu RUU Inul. Habis anti ini, anti itu. Padahal sebelum Inul goyang-goyang itu kan nggak ada larangan-larangan seperti itu.</p>
<p><strong>Ryan: </strong>Baik sudah ada dua penelpon, Ibu Noni dan Pak Anis di Banyumas. Silakan bu Noni!</p>
<p><strong>Noni </strong>(Pendengar-Jawa Tengah): Ini Gus, saya mau minta informasi, saya ada kasus, sudah ada putusan dari mahkamah agung. Kalau begitu berarti mempunyai kekuatan hukum yang tetap ya Gus? Jadi kita ini menggugat Kanwil dan BDN. Sudah ada keputusan dari mahkamah agung bahwa Kanwil harus mencabut SK tersebut dan BDN menerbitkan sertifikat atas nama keluarga kita. Nah itu, saya banyak dengar kalau pengadilan PTUN itu macan ompong. Kalau tergugat yang kita gugat ini tidak mematuhi atau menjalankan keputusan mahkamah agung itu sanksinya apa ya Gus? Ataukah kita harus bagaimana? Kayaknya bertele-tele, dilempar sana-dilempar sini. Mohon informasinya Gus. Terima kasih, selamat siang.<br />
<strong><br />
Ryan : </strong>Selanjutnya Pak Anis. Oh.. Pak Anis terputus. Selanjutnya kita bacakan beberapa pesan pendek. Mungkin ini yang terakhir. Dari pak Mamat di Kedoya, “ Gus Dur, sepertinya pemerintah kita sudah kehilangan arah Karena investor-investor asing akan menanamkan modalnya di Indonesia.” Mungkin ini ada kaitannya dengan RUU penanaman modal yang akan disahkan di DPR. Berikutnya dari Ibu Listy di Lubang Buaya, “Gus, gereja Katolik kami di Calfari sampai 15 tahun ini nggak dikasih izin dibangun, padahal umatnay 1500 tiap minggu. Misa di sini pakai gereja bedeng. Kenapa kami nggak boleh membuat bangunan bagus untuk Tuhan? Terima kasih.” Berikutnya dari Pak Lukman di Wonosobo, “Gus, saya menunggu anekdotnya lagi. Dulu sebelum pemilu 2004, saya mengenal anekdot Inul lagi, yang artinya insya Allah NU lagi.” Baik terima kasih.</p>
<p><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong>Tadi soal keputusan MA. Tampaknya Bu Noni tadi ada masalah, apakah PTUN itu memang ompong?</p>
<p><strong>Gus Dur:</strong> Memang begitu lah Bu faktanya. Hukum kita itu, termasuk mahkamah agung, masih menjadi mafia. Ibu masih bagus ada keputusan. Ada teman saya, seorang pendeta, ada tanah sudah turun temurun tanah itu diperolehnya. Lalu diklaim oleh seorang Arab dari Tegal, maka dibawah perkara itu ke pengadilan. Hakimnya itu berpegang kepada sertifikat yang di tip ex. Gila nggak? Dan itu menang. Kan lucu. Saya bilang, “Tenang saja Pak. Yang penting sampeyan catetin saja nama orangnya. Habis itu saya gantung semua.” Apa sih begitu itu. Hukum itu nggak ada artinya di Indonesia, ternyata. Nggak ada artinya, karena kita masih main mafia di pengadilan-pengadilan.</p>
<p><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong>Kalau nggak mau melaksanakan putusan MA bagaimana?</p>
<p><strong>Gus Dur:</strong> Lho ya sama aja. Lah wong nggak ada giginya sama sekali kok. Itu bukan macan ompong Bu, tapi macan nggak punya gigi. Kalau ompong itu kan sangking tuanya.</p>
<p><strong>Guntur</strong><strong>: </strong>Yang dari lubang buaya tadi, soal pembangunan gereja Katolik. Itu bagaimana?</p>
<p>Gus Dur: Kan sama aja kan itu. secara hukum sebenarnya boleh, Cuma walikotanya (mengatakan) nggak boleh. Mestinya, boleh nggak boleh harus ditentukan secara teknis. Bukan secara politis. Itu yang pokok. Jadi kalau secara teknis sudah oke, ya politis harus ikut. Tapi kita mau bilang apa (dengan dunia politis ini)? Wong presiden bisa dilengserkan kok, dengan alasan-alasan politis.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>KH. Abdul Wahid Maryanto: </strong>Pemerintah sekarang kehilangan arah dihubungkan dengan rencana diundangkannya penanaman modal.<br />
<strong><br />
Gus Dur: </strong>Bukan Cuma kehilangan arah. Pemerintah sekarang kehilangan orientasi pembangunan. Mestinya pembangunan itu jelas. Dalam kenyataannya, ketika Bambang Kesowo dijadikan sekneg yang berkuasa secara ekonomis di bawah presiden Megawati Sukarnoputri, padahal dia itu pecinta BUMN. Bahwa ekonomi bisa bangun melalui BUMN. Tapi menjadi nggak jelas juga. Dorodjatun Kuntjorojakti dan Boediono dipakai juga oleh Megawati. Lha akhirnya menjadi bingung. Sekarang juga begitu, bingungi lagi. Menteri BUMN-nya mendapat kekuasaan besar. Menteri ekonominya bingung lagi.<br />
<strong><br />
Guntur:</strong> Waktu sudah habis Gus Dur, terima kasih pak Matius dan pak Suparmin, juga anda yang hadir di kedai Tempo. Terima kasih juga atas telpon dan SMS. Mohon maaf bila ada yang nggak terbaca. Kita akan bertemu kembali pada pekan depan. Wassalam []</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=24&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/indonesia-negara-sekuler-yang-tidak-anti-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam, Sekulerisme dan Nasionalisme</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/islam-sekulerisme-dan-nasionalisme/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/islam-sekulerisme-dan-nasionalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:13:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/islam-sekulerisme-dan-nasionalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Supriyanto 
(Kedaulatan Rakyat, Jumat, 11 Juli 2003) 

AKHIR-AKHIR ini, perdebatan yang menjurus kepada antagonisme antara konsepsi Islam dan sekulerisme dalam sistem politik dan negara kembali muncul ke permukaan dari tingkat wacana sampai pada praktik politik, dari tingkat global hingga berbias ke tingkat nasional dan bahkan lokal. Sejumlah kalangan intelektual muslim berpendapat, bahwa Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=23&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="postbody">Oleh : Supriyanto </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody">(Kedaulatan Rakyat, Jumat, 11 Juli 2003) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">AKHIR-AKHIR ini, perdebatan yang menjurus kepada antagonisme antara konsepsi Islam dan sekulerisme dalam sistem politik dan negara kembali muncul ke permukaan dari tingkat wacana sampai pada praktik politik, dari tingkat global hingga berbias ke tingkat nasional dan bahkan lokal. Sejumlah kalangan intelektual muslim berpendapat, bahwa Islam tidak cocok dengan sekulerisme. Bahkan ada yang sampai pada kesimpulan, sepanjang menyatakan diri Muslim, seseorang tidak bisa menjadi sekularis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">Sedangkan di kalangan intelektual yang dikategorikan sekuler ada perbedaan argumentasi dan perspektif dalam memposisikan agama dalam filsafat politik dan sistem ketatanegaraan. Pertama, bagi sebagian kalangan rasionalis dan atheis menyatakan, agama dan sekulerisme bertentangan satu sama lain. Sekulerisme itu bersifat non religius, jika tidak boleh dikatakan anti agama. Filsafat politik sekuler tidak punya hubungan dengan ajaran atau doktrin agama apapun. Dalam proses legislasi, tidak ada keharusan untuk mempertimbangkan praktik keagamaan, bahkan umat beragama tidak bebas mempraktikkan agama semaunya di depan publik. Model semacam ini dikembangkan di masa kekuasaan komunis di Rusia dan Cina.</span><span id="more-23"></span><span class="postbody"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">Kedua, sekulerisme tidak harus mempertentangkan antara agama dan agama, meskipun kedua terpisah dan mempunyai posisi yang berbeda. Model sekuler Barat yang liberal </span><br />
<span class="postbody">menempatkan agama bukan sebagai sesuatu yang tabu, tetapi juga bukan faktor mendasar terhadap kebijakan negara. Urusan negara dijalankan secara terpisah dari </span><br />
<span class="postbody">pertimbangan agama. Negara-negara Barat lain, kurang lebih mengambil sikap yang sama. Negara tetap independen dari gereja. Pada kenyataannya, gereja dan </span><br />
<span class="postbody">negara merupakan dua domain yang sama sekali berbeda dan tidak saling mencampuri. Sampai batas tertentu, model Barat ini lebih dekat dengan filsafat politik sekuler. </span></p>
<p><span class="postbody">Dunia Islam memiliki ciri khas dan keunikan sendiri. Seperti halnya dalam konteks politik di dunia Barat, dunia Islam juga memperlihatkan keragaman dan tidak homogen. Dalam arti, setiap negara yang mengklaim sebagai negara Islam atau menempatkan hukum-hukum agama sebagai sumber hukum tertinggi dan falsafah negara mempunyai perbedaan yang amat mendasar, meski mayoritas penduduknya beragama Islam. Ternyata </span><br />
<span class="postbody">komunalitas agama tidak dengan sendirinya berarti komunalitas sosial dan tradisi politik. Sebagaimana masyarakat dan realitas sosialnya berbeda, juga tradisi-tradisinya. </span></p>
<p><span class="postbody">Aljazair misalnya, merupakan negara modern yang westernised. Karena itu, mengalami guncangan hebat saat sebagian warganya menginginkan “negara Islam” versi mereka. Turki merupakan negara muslim tetapi juga memilih menjadi negara sekuler sejak revolusi nasional yang dipimpin oleh Kemal Pasha, 1924. Di antara negara-negara Arab seperti Tunisia dan Maroko juga telah melakukan modernisasi dan liberalisasi, meski secara empiris tidak dapat disebut sebagai negara sekuler. Islam tetap menjadi agama negara. Jordania juga merupakan negara moderat dengan sepuluh persen penduduknya beragama Kristen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody">Di sisi lain, Irak pada masa Saddam Husein dikuasai oleh Partai Baath yang berhaluan Sosialis-Nasionalis. Dengan demikian tampak jelas bahwa di negara-negara Islam tidak ada kesamaan dalam hal karakter politik dan keagamaannya. Terdapat perbedaan yang sangat mencolok dalam ragam corak karakter politik, dari karakter Islam yang rigid seperti Arab Saudi, liberal seperti Aljazair dan Malaysia, hinga sekuler seperti Turki. Tidak ada homogenitas, sejauh menyangkut ortodoksi, liberalisme atau sekularisme tergantung pada kecondongan penguasa (the rulling classes) di negara itu, selain kepentingan dan aliansi politik the rulling classes Mun’im A Sirry: 2001). </span></p>
<p><span class="postbody">Tidak adanya homogenitas dalam konsepsi negara Islam disebabkan karena Alquran tidak menjelaskan konsep negara atau nasionalisme teritorial. Tidak ada teks-teks keagaman yang menjelaskan kewajiban kaum muslimin membentuk negara agama atau teokrasi. Sebaliknya, Alquran amat menekankan masalah kebenaran, keadilan, kasih sayang, toleransi, dan solidaritas. Sepanjang memenuhi nilai-nilai tersebut seluruh warga </span><br />
<span class="postbody">negara dapat hidup bersama secara damai dan harmonis, tanpa membedakan agama yang dianutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody">Keberpihakan kepada kaum lemah (dhuafa dan mustadhafin) juga lebih ditekankan pada posisi sosial, ekonomi dan politik kaum yang marginal bukan pada penekanan agama apa yang dianutnya, sehingga konsep ini menunjukkan universalitas Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dengan demikiian konsepsi negara Islam yang dikenal dalam fiqh siyasah tidak lebih dari konstruksi historis yang dilakukan sejumlah fukaha (ahli hukum Islam) membuat dn merumuskan aturan-aturan Syariah dan bentuk konfigurasi negara Islam yang rigid dan eksklusif. Satu hal tidak dapat dibantah, penafsiran mereka amat dipengaruhi oleh situasi historis, etos sosial, dan realitas yang mengitarinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">Dengan kata lain, diperlukan pemikiran ulang dan reformulasi atas hak-hak non muslim. Konstruksi agama sebagai basis hak-hak politik rakyat seperti dikemukakan oleh ulama-ulama zaman pertengahan amat dimungkinkan untuk ditinjau kembali. Model yang dapat kita rujuk adalah Mitsaq al-Madinah (Piagam Madinah) yang tidak membedakan hak-hak politik warga masyarakat. Piagam itu — setidaknya dalam semangat — menyediakan petunjuk pemberian hak-hak politik kepada seluruh warga negara, tanpa membedakan agama. </span></p>
<p><span class="postbody">Dalam konteks Indonesia, negara kebangsaan yang dibangun oeh para pendiri republik memisahkan urusan agama dan negara, meskipun demikian tidak dapat juga dikatakan sebagai negara sekuler sebab negara masih menggunakan norma agama dalam sumber hukum negara, seperti adanya peradilan agama. Di samping itu negara menjamin kebebasan dan bahkan memfasilitasi hak-hak warga negaranya dalam beragama. </span></p>
<p><span class="postbody">Konsepsi negara bangsa (nation state) atau Nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit, melainkan nasionalisme yang universal. Dalam </span><br />
<span class="postbody">ungkapan Soekarno (Pidato 1 Juni 1945) dikatakan, kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua bahkan buat satu orang, bukan buat satu golongan, tetapi </span><br />
<span class="postbody">semua buat semua. Negara kebangsaan yang menghapuskan eksploitasi manusia oleh manusia dan eksploitasi banga oleh bangsa yang lain. Sehingga tidak dapat disamakan </span><br />
<span class="postbody">dengan liberalisme dan sekulerisme di negara Barat dan tidak dapat dipertentangkan dengan konsepsi filsafat politik Islam tentang negara. Islam tidak bertentangan </span><br />
<span class="postbody">dengan nasionalisme yang luhur, Islam hanyalah bertentangan dengan nasionalisme yang sempit yang membuat suatu bangsa membenci bangsa lain, nasionalisme yang bersifat chauvinisme. Assabiyah yang dikutuk oleh Allah adalah nasionalisme yang sempit dan </span><br />
<span class="postbody">memecah belah persaudaraan sesama muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">Nasionalisme kita adalah suatu nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai suatu wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai suatu bakti kepada sesama umat manusia dalam himpunan bangsa. Nilai profetis dari negara yang berdasarkan pada</span><br />
<span class="postbody">Ketuhanan Yang Maha Esa. Nasionalisme kita adalah nasionalisme ketimuran, dan sama sekali bukanlah nasionalisme yang berakar pada liberalisme Barat dan sekulerisme. Nasionalisme Indonesia adalah suatu nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan, dan membuat kita hidup dalam spiritualisme dan humanisme. q &#8211; d </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span class="postbody"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<span class="postbody">*) Ir Supriyanto, Sekretaris Balitbang PDI Perjuangan DIY. Alumnus UII..</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=23&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/islam-sekulerisme-dan-nasionalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajah Kelam Sekulerisme, Kapitalisme dan Demokrasi</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/wajah-kelam-sekulerisme-kapitalisme-dan-demokrasi/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/wajah-kelam-sekulerisme-kapitalisme-dan-demokrasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 19:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/wajah-kelam-sekulerisme-kapitalisme-dan-demokrasi/</guid>
		<description><![CDATA[Thursday, 13 March 2008
Oleh: Fadhli Yafas
Sekularisme jika diyakini dan diterapkan, akan dapat menghancurkan konsep Islam yang agung, yaitu Khilafah. Jadi sekularisme bertentangan dengan Khilafah. Sebab sekularisme melahirkan pemisahan agama dari politik dan negara.
Ujungnya, agama hanya mengatur secuil aspek kehidupan, dan tidak mengatur segala aspek kehidupan. Padahal Islam mewajibkan penerapan Syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=22&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:Georgia;">Thursday, 13 March 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Oleh: Fadhli Yafas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sekularisme jika diyakini dan diterapkan, akan dapat menghancurkan konsep Islam yang agung, yaitu Khilafah. Jadi sekularisme bertentangan dengan Khilafah. Sebab sekularisme melahirkan pemisahan agama dari politik dan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Ujungnya, agama hanya mengatur secuil aspek kehidupan, dan tidak mengatur segala aspek kehidupan. Padahal Islam mewajibkan penerapan Syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan, seperti aspek pemerintahan, ekonomi, hubungan internasional, muamalah dalam negeri, dan peradilan. Tak ada pemisahan agama dari kehidupan dan negara dalam Islam. Karenanya wajarlah bila dalam Islam ada kewajiban mendirikan negara Khilafah Islamiyah. Sabda Rasulullah SAW:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">“&#8230;dan barangsiapa mati sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah) maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” [HR. Muslim]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dari dalil yang seperti inilah, para imam mewajibkan eksistensi Khilafah. Abdurrahman Al Jaziri telah berkata: “Para imam (Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi&amp;rsquo;i, dan Ahmad) &amp;ndash;rahimahumulah( telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu, dan bahwa tidak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam (Khalifah)&#8230;” Maka, sekularisme jelas bertentangan dengan Khilafah. Siapa saja yang menganut sekularisme, pasti akan bersemangat untuk menghancurkan Khilafah. Jika sekularisme ini dianut oleh orang Islam, maka berarti dia telah memakai cara pandang musuh yang akan menyesatkannya. Inilah bunuh diri ideologis paling mengerikan yang banyak menimpa umat Islam sekarang. Padahal, Rasulullah SAW sebenarnya telah mewanti-wanti agar tidak terjadi pemisahan kekuasaan dari Islam, atau keruntuhan Khilafah itu sendiri. Sabda Rasulullah : “Ingatlah! Sesungguhnya Al Kitab (al-Qur`an) dan kekuasaan akan berpisah. Maka (jika hal itu terjadi) janganlah kalian berpisah dengan al Qur`an!” [HR. Ath Thabrani].</span><span id="more-22"></span><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sabda Rasulullah SAW: “Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu. Maka setiap kali satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan dengan simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah pemerintahan/kekuasaan. Sedang yang paling akhir adalah shalat.” [HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim]. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sekularisme dan Kerusakan Akibat Dominasinya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Usaha bangsa Eropa untuk menguasai wilayah-wilayah kaum muslimin baru terealisir setelah Perang Dunia 1. Perancis, Inggris, Italia dan Rusia mulai menduduki wilayah-wilayah kaum muslimin. Hingga tahun 1920 hanya empat wilayah kaum muslimin yang masih tetap medeka dari berbagai bentuk pemerintahan non-muslim yaitu Turki, Arab Saudi, Iran dan Afghanistan[45], walaupun memang pemerintahan-pemerintahan tersebut(dengan segala model koneksinya(tidak lepas dari pengaruh bangsa Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Penjajahan terhadap negeri-negeri muslim, sebenarnya adalah model dari respon bangsa Barat terhadap keberadaan Peradaban Islam. Islam, sebagaimana yang dinyatakan Huntington, adalah satu-satunya peradaban yang mampu membuat Barat selalu berada dalam keraguan antara hidup dan mati, dan ia (peradaban Islam-pen) telah melakukannya setidak-tidaknya dua kali[46]. Penjajahan ini merupakan sebuah bentuk dari upaya Barat untuk memenangkan kontestasi antar peradaban dan agama, peradaban dan agama Islam disatu sisi dan peradaban Barat dengan agama Kristennya di sisi lain. Kontestasi (atau konflik dalam bahasa Huntington) fundamental antara dua peradaban besar dan dua way of life ini akan terus terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana pernah terjadi empat belas abad yang lalu[47].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Adalah penting bagi Barat untuk memastikan kelumpuhan permanen kekuatan Islam. Penjajahan secara fisik hanyalah babak awal dari periode penguasaan Barat terhadap kaum muslimin. Tahap pertama penjajahan bangsa Eropa, setelah para tentara dan birokrat, masuklah kaum misionaris. Seperti yang dinyatakan Esposito, kolonialisme Eropa memberikan ancaman ganda, kekuasaan dan salib[48]. Hal berikut yang diinduksi penjajah Eropa adalah nasionalisme. Menurut Esposito nasionalisme adalah produk abad westernisasi[49]. Nasionalisme terutama diajarkan kepada para elitis yang belajar di negara-negara Barat. Esposito menyebutkan[50] :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Banyak diantara tokoh-tokoh yang memimpin gerakan nasionalis dan kemerdekaan hasil didikan Barat dan dipengaruhi oleh keyakinan dan ideal nasionalis liberal Revolusi Perancis dan khususnya lembaga-lembaga dan nilai-nilai politik Barat modern seperti demokrasi, pemerintahan konstitusional, peraturan parlemen, hak-hak individu dan nasionalisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Berbeda dengan ideal Islam tradisional yang mengajarkan loyalitas dan solidaritas politik dalam ummat Islam transnasional yang berdasarkan kepercayaan yang sama, nasionalisme modern mengajarkan gagasan komunitas nasional yang dasarnya bukan agama tetapi bahasa, wilayah, ikatan etnis dan sejarah yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Tokoh-tokoh ini yang kemudian menularkan ide-ide produk Barat ini ke tanah airnya. Mereka adalah orang-orang serupa Kemal Pasha Attaturk(salah seorang tokoh dibalik makar terhadap kekhilafahan Islam(yang memandang bahwa peradaban Barat adalah solusi untuk kebangkitan. Dari merekalah kemudian anak-anak di negerinya belajar ideide Barat seperti nasionalisme, sekularisme dan demokrasi. Seperti yang diungkapakan Soekarno, salah seorang tokoh pergerakan di Indonesia[51]:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Maka oleh karena itu, menurut pemimpin-peminpin Turki, justru buat kesuburan Islam itu, maka Islam dimerdekakan dari pemeliharaan pemerintah. Justru buat kesuburan Islam, maka khalifat dihapuskan, kantor komisariat syariat ditutup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Kode (Undang-undang) Swiss sama sekali diambil oper buat mengganti hukum famili yang tua, bahasa Arab dan huruf Arab yang tidak dimengerti oleh kebanyakan rakyat Turki diganti dengan bahasa Turki dan huruf latin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Secara sadar ataupun tidak mereka telah mengajarkan ide-ide yang telah mengganti identitas keislaman dengan identitas kebangsaan. Ini bisa terlihat dari pola perubahan perjuangan, dari jihad melawan orang-orang kafir, menjadi sekedar perlawanan melawan penjajah asing. Penguasaan bangsa Eropa terhadap kaum muslimin memasuki fase berikutnya, penguasaan secara ide-ide. Memang secara umum negeri-negeri Islam(yang kemudian Barat menarik diri dari sana(tidak memaklumkan sekularisme sebagai asas sebagaimana yang dilakukan di Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Namun secara efektif berbagai model struktur sistem Barat yang sekular diterapkan secara konsisten, seperti UU atau konstitusi yang sekuler, sistem pemerintahan parlementer, trias politica dan sebagainya. Apakah itu menghasilkan kemajuan sebagaimana yang diimpikan? Sejak pertengahan abad 20, ketika para elit penguasa mulai menerapkan produk ide Barat, hingga saat ini apakah ada yang betul berubah dari kondisi kaum muslimin? Secara jujur, gambaran yang lekat dalam kondisi muslimin adalah sebuah gambar yang lusuh. Inilah sebuah ironi kaum yang pernah menguasai dunia dan disegani semua negara di bumi ini, hidup dalam ketergantungan dan kepatuhan yang keterlaluan terhadap bangsa Barat. Negeri-negeri kaum muslimin identik dengan kemiskinan, keterbelakangan dan banyak hutang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Selama kurang lebih menerapkan sekularisme selama hampir dua abad, berbagai konsep dan ide Barat telah menancapkan kuku yang begitu dalam, dan berdampak begitu nyata dalam kondisi kaum muslimin. Dalam bidang politik, demokrasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari panggung politik di negeri kaum muslimin. Beberapa negeri masih berusaha menolak demokrasi(seperti beberapa negara di Timur Tengah(mendapat tekanan dari Amerika. Demi untuk menyenangkan Amerika, beberapa negara Teluk mulai membentuk parlemen dan mengadakan pemilihan umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Konsekwensi dari penerapan demokrasi adalah bahwa hukum dan undang-undang dibuat bukan merujuk kepada Al Quran dan As Sunnah, tapi kepada pendapat-pendapat manusia. Misalnya yang terjadi di Indonesia. Pada awal tahun 2006 ini ramai dibicarakan mengenai UU anti pornografi. Dan bahan-bahan untuk UU anti pornografi bukan digali(oleh parlemen(dari sumber-sumber hukum syara&amp;rsquo;, tapi dari pendapat para seniman, aktivis feminis, budayawan bahkan penyanyi dangdut yang sering tampil tidak senonoh. Sempurna, inilah wujud demokrasi yang sesungguhnya, pendapat manusia untuk hukum dan undang-undang. Demokrasi bagi beberapa kalangan(termasuk aktivis Islam(menjadi suatu realita yang tidak terubahkan, keagungannya bahkan melebihi ajaran Islam. Ketika beberapa kalangan merancang dan menyerukan perubahan hukum Islam, nyaris tidak ada yang menuntut untuk merubuhkan demokrasi. Demokrasi telah serupa ajaran suci dimana semua konsep lain(termasuk Islam(harus tunduk dan mengadaptasi diri. Demokrasi, dengan demikian, telah menjadi sebuah ide panutan (qiyadah fikriyah) bagi kebanyakan kaum muslimin saat ini. Dan bahkan secara keterlaluan beberapa kalangan aktivis Islam (?) dengan berani dan bangga mengatakan bahwa tidak ada dikotomi antara demokrasi dan Islam. Padahal kalau mau dipelajari lagi, sungguh terdapat perbedaan yang mendasar dan terlalu kasat mata antara demokrasi dan Islam, perbedaannya seperti langit dan bumi. Namun inilah kenyataan yang dialami oleh dunia Islam secara dominan saat ini. Atas pengaruh dan penyebaran demokrasi yang begitu luasnya dan tidak menyisakan ruang bagi konsep politik ideologi lain(termasuk Islam(tidak heran Francis Fukumaya menyebutkan masa depan politik dunia adalah kemenangan bagi demokrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Kondisi politik lain yang begitu mencolok saat ini adalah rendahnya posisi tawar kaum muslimin dihadapan negeri-negeri Barat. Banyak perilaku “kurang ajar” pihak Barat yang diterima secara “qanaah” oleh para penguasan di negeri kaum muslimin. Yang terbaru adalah berbagai kasus penghinaan terhadap beberapa nilai pangkal keimanan kaum muslimin, yaitu Al Quran dan Nabi Muhammad SAW. Pelecehan terhadap Al Quran terjadi di penjara Guantanamo Kuba, tempat dimana banyak muslim yang ditahan tanpa proses peradilan dengan dalih terorisme. Di tempat ini Al Quran dijejalkan kedalam WC oleh tentara Amerika. Sementara pelecehan terhadap Nabi Muhammad dilakukan oleh harian Denmark Jylland Posten Denmark, dimana sosok Rasulullah dikartunkan secara brutal oleh para kartunis Denmark, sebagai sosok yang bersorban bom dan beringas sebagai laiknya nenek moyang orang Denmark yang kejam, bangsa Viking. Namun segala penghinaan yang sangat prinsipil ini ditanggapi dengan respon laiknya para banci penakut oleh penguasa kaum muslimin. Mereka cuma bisa protes dan menghimbau, tidak lebih. Bahkan untuk sekedar memutus hubungan “silahturahmi” alias hubungan diplomatik dengan negara-negara kafir itu saja mereka tidak berani. Ketergantungan yang keterlaluan terhadap bangsa Barat(terutama dalam bidang perekonomian dan teknologi(yang bercampur dengan rasa inferioritas akut yang dialami para penguasa ini membuat mereka bersikap seperti ini. Bahkan seandainya massa kaum muslimin tidak bergolak terhadap penghinaan ini bisa jadi mereka juga ikut-ikutan membiarkan penghinaan terjadi dan kemudian berlalu seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara para penguasa di Eropa, justru mereka saling menguatkan dan semakin bersatu ketika massa kaum muslimin bereaksi keras terhadap penghinaan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Bukan hanya mempengaruhi kondisi sistem dan dan konsep kehidupan, demokrasi pun telah melahirkan personalpersonal dan kelompok pelaku politik yang pragmatis dan oportunis. Fokus perhatian dari golongan ini adalah kekuasaan. Demi kekuasaan apapun akan dilakukan, termasuk bersekutu dan berkoaliasi dengan kelompok yang berseberangan secara keyakinan visi ideologis. Bila diperhatikan gejala ini tidak hanya berlaku bagi partai dan kelompok yang sejak awal menyatakan diri sebagai kelompok sekular, tapi juga kelompok-kelompok yang diawal berdirinya menyatakan berasas Islam. Tengok saja yang terjadi di Indonesia. Beberapa partai yang mengaku berasas Islam(PKS, PBB, PPP(ikut dalam barisan pendukung SBY-Kalla, Presiden-Wapres usungan dari partai sekular, Partai Demokrat dan Golkar. Dan bahkan walaupun SBY-JK menetapkan keputusan yang menyengsarakan rakyat seperti menaikkan harga BBM, parta-partai ini tetap setia mendukung SBY-Kalla </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dalam bidang ekonomi, Identitas pembaratan secara nyata terlihat pula dalam bidang ekonomi. Ini sangat lumrah, mengingat(seperti yang telah nyinyir dibahas diatas(demokrasi dan aktivitas ekonomi kapitalisme (laissez faire namun lebih sering disebut ekonomi pasar bebas) merupakan suatu yang susah untuk dipisahkan. Mengembangkan demokrasi berarti bermakna pula mengembangkan ekonomi pasar bebas. Maka besar sekali kepentingan dari para pelaku ekonomi kapitalisme untuk mensponsori kegiatan demokratisasi. Para kapitalis ini misalnya mendirikan The Center for Democracy and Technology[52], perusahaan yang ada dibelakangnya antara lain American Online, Inc, American Association of Advertising Agencies, American Express, Association of National Advertiser, AT&amp;T, Bell Atlantic, Bussiness Software Alliance, Cellular Telecommunications Industry Association, Coalition for Encryption Reform, Deer Creek Foundation, Disney Worldwide Services, IBM Corporation, Interactive Digital Software Association, Lotus Development Corporation, Markle Foundation, MCA/Universal, MCI WorldCom, Microsoft Corporation, Mindspring, Newspaper Association of America, Novell, Open Society Institute, Time Warner dan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dengan demokrasi maka meluncurlah berbagai kebijakan yang sangat berpihak kepada para kapitalis. Dengan privatisasi, deregulasi dan liberalisasi perdagangan, semakin dalamlah menancapnya kuku-kuku kekuasaan kelompok kapitalis. Peran dominan mereka secara terselubung telah membuat terjadinya pergeseran kekuasaan. Secara de jure memang pemerintahlah yang berkuasa, namun secara de facto korporasilah yang menjadi tuannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dengan konsistensi yang tinggi, para penguasa negara menjaga kepentingan kelompok kapitalis. Kalau dulu sekali para penguasa adalah para pemimpin yang mempertahankan wilayah teritorial yang sifatnya fisik, maka saat ini para penguasa pemerintahan lebih banyak bertarung utnuk memperebutkan saham pasar. Salah satu pekerjaan mereka(menurut Noreena Hertz(berubah kearah penjaminan suatu lingungan yang mendukung untuk pengembangan bisnis dan ranah yang mampu menyedot aliran modal bisnis. Peranan negara saat ini lebih banyak bergeser menjadi semata-semata menyediakan barang-barang dan infrastruktur publik yang dibutuhkan oleh kehidupan bisnis denga ongkos semurah-murahnya sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia[53].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sayangnya kemudian, dengan segala pengorbanan konyol para penguasa ini yang dihasilkan adalah kerusakan yang masif. Sistem kapitalisme ternyata sangat signifikan menghasilkan ketimpangan sosial. Invisible hand-nya Adam Smith yang dipercaya dalam konsep ekonomi liberal akan menjaga level kesejahteraan pada titik equilibrium tidak berfungsi. Karena memang sejak semula tangan itu tidak pernah ada. Sebagaimana terdahulu telah dibahas, bahwa ide-ide Adam Smith banyak dipengaruhi oleh pengikut Francois Quesnay yang menganggap hukum &amp;ndash;hukum alam dapat diterapkan untuk menjelaskan berbagai kondisi sosial. Invisible hand ini sejatinya sangat dipengaruhi pemikiran Newtonian mengenai kesetimbangan mekanis. Yang terlupa oleh Smith adalah sekumpulan manusia berbeda dengan benda-benda pada percobaan mekanis. Benda-benda tersebut tidak memiliki apa yang dimiliki oleh sekumpulan manusia : kemampuan berfikir dan kehendak. Maka yang terjadi kemudian adalah ketimpangan yang keterlaluan. Bayangkan penjualan General Motor dan Ford ternyata melebihi GDP seluruh sub-sahara Afrika. Dan Exxon dapat disamakan tingkat ekonominya dengan kemampuan ekonomi Chili dan Pakistan[54]. Sementara di Indonesia sendiri, geliat ekonomi yang semakin liberal(dengan privatisasi BUMN, liberalisasi pengelolaan sumber daya alam dan berbagai deregulasi yang pro korporat global(ternyata semakin menaikkan tingkat kemiskinan, 36,17 juta jiwa pada 2003 menjadi 40 juta jiwa pada 2005 (BPS 2005). Inilah faktanya, kapitalisme semakin berjaya, akan tetapi hasil rampasannya tidak dinikmati oleh semua orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Selain di bidang politik dan ekonomi jejak suram dari sekulerisme juga akan kita dapati pada bidang kehidupan yang lain. Dalam bidang pendidikan, sekulerisme telah menghasilkan manusia didik yang cenderung materialistik dan dangkal secara pemahaman agama. Epistimologi keilmuan yang mengakar pada empirisme membuat anak didik cenderung berfikir pragmatis-materialis dan memiliki orientasi yang sangat lemah terhadap maksud penciptaan manusia; penghambaan kepada Allah. Terbiasa dengan kehidupan yang pragmatis-materialis, maka individualistik menjadi kecenderungan berikutnya dari masyarakat yang mengadopsi sekulerisme. Karakter individualistik merupakan salah satu cacat bawaan dari masyakat sekuler, karena sejak awalnya sekulerisme turut dibangun oleh filsafat individualisme[55]. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Ketika empirisme, materialisme dan pragmatisme mempengaruhi bidang pendidikan dan kemudian individualisme membentuk karakter sosial masyarakat, maka dalam pola kehidupan kultural masyarakat sekulerisme dibentuk oleh konsep hedonisme. Hedonisme telah mengarahkan manusia-manusia sekuler untuk menjadikan kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai poros kehidupan. Maka tidak mengherankan dalam masyarakat sekuler berbagai “hal yang menyenangkan” seperti seks bebas, judi dan mabuk-mabukan merupakan hal yang biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Exploitasi dunia hedonisme bahkan telah menjadikan praktek hedonis sebagai sumber perputaran uang yang tidak sedikit jumlahnya melalui prostitusi, pub dan nite club, casino dan industri minuman keras. Demikanlah wajah suram nan kelam dari sekulerisme beserta ide-ide filialnya. Padanya terkumpul kerusakan, kebobrokan, keharaman dan ancaman kehancuran ketika diadopsi oleh kaum muslimin. Maka adalah kewajiban dari kita bersama untuk melancarkan upaya dekonstruksi terhadap sekulerisme. Dekonstruksi permanen yang membuatnya tidak akan pernah bangun lagi dari kuburnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Footnote:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[1] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 24, Grolier Incorporated, 1983, hal.510</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[2] Ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[3] Lihat www.newadvent.org/cathen/136a.htm</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[4] Lihat www.newadvent.org/cathen/136a.htm</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[5] Ahmad Suhelmi,Pemikiran Politik Barat,Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[6] ibid, hal. 115-116</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[7] Deisme adalah sebuah ide yang menetapkan bahwa Tuhan yang menciptakan alam dan kemudian memberkati alam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">tersebut dengan hukum yang abadi setelah itu alam tersebut berjalan tanpa intervensi dari Tuhan. Lihat The</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.644</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[8] Empirisme merupakan ide yang menetapkan pengetahuan langsung berakar dalam data yang kita alami, yang tidak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">kita alami tidak ada, sekurang-kurangnya tidak dikenal (lihat Dick Hartoko, Kamus Populer Lengkap,1986, Rajawali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Pers). Dengan paham ini sebuah keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib seperti malaikat, surga, neraka bisa dikatakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">tidak ada. Inilah kesesatan paham ini menurut Iman Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[9] Skeptisme secara umum ragu dengan apakah pengetahuan itu mungkin. Skeptisme dapat mengambil beberapa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">bentuk, sehingga seorang yang skeptis dapat meragukan apakah pengalaman inderawi itu bisa menghasilkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">pengetahuan, atau apakah Tuhan, dunia eksternal dan pikiran-pikiran lain ada (lihat Diane Collinson, Lima Puluh Filosof</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dunia yang Menggerakkan,2001, RajaGrafindo Persada)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[10] Aliran filsafat yang mengajarkan kenikmatan merupakan nilai tertinggi serta tujuan segala perbuatan moral. Dirintis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">oleh Aristipos dari Kyrene dan pada abad 18 oleh Lamettrie (lihat Dick Hartoko, op.cit).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[11] Encyclopedi yang disusun beberapa orang filosof perancis pada abad 18 seperi Mostesquieu, D&amp;rsquo;Alembert,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Voltaire, Rosseau, Buffon, Quesnay dan Diderot. Rosseau sendiri kemudian keluar dari proyek ini kemudian.Lihat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Filsafat Untuk Pemula, Richard Osborne, Penerbit Kanisius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[12] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.644</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[13] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal.684</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[14] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 206</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[15] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 690</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[16] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 691</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[17] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol. 8, Grolier Incorporated, 1983, hal. 690</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[18] ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[19] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal.316. Dalam bukunya Ahmad Suhelmi menyebutnya prinsip-prinsip demokrasi barat. Tapi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">kalau kita pahami lebih dalam lagi penggunaan kata-kata barat setelah demokrasi sebenarnya tidak diperlukan lagi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">karena sudah dimafhumi bahwa demokrasi berasal dari barat (dan sangat khas barat) dan berakar pada filsafat dan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">pemikiran barat. Adapun dipakainya demokrasi di beberapa negara bukan barat(dan bahkan di negeri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Islam(tidak kemudian menghilangkan ide-ide yang inherent dengan demokrasi (barat) seperti kontrak sosial,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">kebebasan individu dan kedaulatan (pembuatan hukum) di tentukan orang banyak, bukannya Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[20] The Encyclopedia Americana, International Edition, Vol.5, Grolier Incorporated, 1983, hal. 600</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[21] Aplikasinya misalnya terlihat dari kepercayaan ekomomi liberal bahwa dinamika masyarakat selalu menuju</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">kesetimbangan, ini serupa dengan terori kesetimbangan mekanis pada teori Newton. Dalam ilmu biologi mereka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">mengadopsi pemikiran Darwin tentang seleksi alam (survival the fittest), dimana yang terkuatlah yang akan bertahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">dalam kegiatan ekonomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[22] ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[23] ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[24] Utilitarianisme menetapkan bahwa yang berguna juga dihalalkan, secara moral dapat dibenarkan. Kegunaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">merupakan tolok ukur bagi moralitas perbuatan manusia. Bagi beberapa kritikus utilarianisme tidak lain adalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">empirisme yang di reproduksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[25] Lihat Filsafat Untuk Pemula, Richard Osborne, Penerbit Kanisius</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[26] Desacralizing Secularism, www.algonet.se/~pmanzoor/Des-Sec.htm</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[27] Secularism, www.newadvent.org/cathen/136a.htm</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[28] Niccolo Machiavelli (1469-1527), pemikir politik asal Italia, salah seorang penggerak zaman Renaisance. Merupakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">perintis yang menjauhkan politik dari pengaruh agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[29] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 139</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[30] William Ebenstein dan Edwin Fogelman, Isme-Isme Dewasa Ini , edisi sembilan, Penerbit Erlangga, 1994, hal.148</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[31] Joel Andreas, Nafsu Perang-Sejarah Militerisme Amerika di Dunia, Penerbit Profetik, 2004, hal. 5</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[32]Joel Andreas, ibid. Hal. 9</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[33] John L. Esposito dan John O. Voll, Demokrasi di Negara-Negara Muslim, Penerbit Mizan, 1999, hal. 22</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[34] Ahmad Suhelmi, op.cit, hal. 315</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[35] Jean Baechler, Demokrasi, Sebuah Tinjauan Analitis, Penerbit Kanisius, 2001, hal.272</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[36] Paul Treanor, Kebohongan Demokrasi, Penerbit Istawa-Wacana, 2001, hal. 71</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[37] Paul Treanor, ibid, hal. 79</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">khilafah centre</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">http://khilafah-centre.com _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 21 March, 2008, 01:50</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[38] DR. Muhammad &amp;rsquo;Imarah, Perang Terminologi Islam Versus Barat, Robbani Press, 1998</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[39] DR. Muhammad &amp;rsquo;Imarah, ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[40] Dalam kamus Arab-Indonesia Al Munawwir &amp;rsquo;ilmaniyah diterjemahkan sebagai faham yang memisahkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">negara dari pengaruh agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[41] John L. Esposito, Ancaman Islam, Mitos atau Realitas?, Penerbit Mizan, 1995, hal. 66</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[42] ibid</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[43] Lihat Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyyah, Penerbit Al-Izzah, 1991</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[44] Lihat Wajah Peradaban Barat oleh Adian Husaini, MA. Penerbit Gema Insani Pers, 2005</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[45] Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penerbit Qalam, 2001 , hal. 392</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[46] Samuel P. Huntington, ibid, hal. 391</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[47] Samuel P, Huntington, ibid, hal. 395</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[48] John L. Esposito, op.cit, hal. 64</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[49] John L. Esposito, ibid, hal. 75</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[50] John L. Esposito, ibid, hal. 75</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[51] Adian Husaini, op.cit, hal. 276</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[52] Paul Treanor, Kebohongan Demokrasi, penerbit ISTAWA-WACANA, 2001, hal.34</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[53] Noreena Hertz, Membunuh Atas Nama Kebebasan, Penerbit Nuansa, 2004, hal. 18</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[54] Noreena Hertz, Ibid, hal. 16</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">[55] Individualisme adalah suatu filsafat yang berpandangan bahwa sifat khusus tiap-tiap orang hendaknya diperhatikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Tiap-tiap orang orang mempunyai watak dan sifat yang khas yang dibentuk oleh kemauannya sendiri yang bebas. Ind.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">menyangkal keterikatan manusia dan masyarakat. Untuk masalah transendensi, indv. Percaya tiap orang langsung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">bertanggung jawab terhadap Tuhannya, maka adalah hak tiap orang utnuk menentukan bagaimana dia berhubungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">dengan Tuhannya, dan menolak intervensi atas individu.</span><span style="font-family:Georgia;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=22&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/wajah-kelam-sekulerisme-kapitalisme-dan-demokrasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Turki antara Islam dan Sekulerisme</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/turki-antara-islam-dan-sekulerisme/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/turki-antara-islam-dan-sekulerisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 18:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/turki-antara-islam-dan-sekulerisme/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Harian Kompas(Kamis, 10 Mei 2007)
Penulis: Ayang Utriza NWAY (Mahasiswa PhD Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris)
Menjelang pemilihan presiden di Turki 2007, ada pemandangan luar biasa, yaitu bertemunya dua kekuatan pendukung: Islam dan sekulerisme. Ini mengingatkan kita hubungan negara, Islam, dan sekulerisme.
Bagaimanakah hubungan Islam dan sekulerisme? Harus diakui ini merupakan pertanyaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=21&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><i><span style="color:#ff9966;">Sumber : <a href="http://kompas.com/" target="_blank">Harian Kompas(Kamis, 10 Mei 2007)</a></span></i><i><span style="color:#ff9966;"><br />
<i>Penulis: Ayang Utriza NWAY (Mahasiswa PhD Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris)</i></span></i></p>
<p>Menjelang pemilihan presiden di Turki 2007, ada pemandangan luar biasa, yaitu bertemunya dua kekuatan pendukung: Islam dan sekulerisme. Ini mengingatkan kita hubungan negara, Islam, dan sekulerisme.</p>
<p>Bagaimanakah hubungan Islam dan sekulerisme? Harus diakui ini merupakan pertanyaan anakronik karena sekulerisme adalah istilah dan fenomena modern. Sementara umur Islam lebih tua ketimbang sekulerisme.</p>
<p>Menghadapi masalah ini, kata Daryush Shayegan, mantan Profesor Studi India dan Filsafat Perbandingan di Universitas Teheran, Iran, dalam buku Le Regard Mutilé, Pays Traditionnels Face à la Modernité, (Paris, L’Aube, 1996, khususnya Bab II), kita mencoba untuk tidak melakukan, yang dalam istilah Perancis disebut, placage, yaitu upaya yang sering tak-disadari, di mana kita menyambungkan dua dunia (Islam dan sekulerisme).</p>
<p>Dua kata ini, Islam dan sekulerisme, ialah contoh konotasi semantik dua istilah yang saling bertentangan. Dari dua kata itu—Islam dan sekulerisme—mana yang lebih aktif dan menentukan? Apakah agama yang menciptakan sekulerisme dan mensakralkannya? Atau, sebaliknya, sekulerisme yang memengaruhi dan membuat sejarah agama menjadi sekuler sehingga agama terlibat proses sekulerisme? Jika demikian, agama menjadi ideologi sekulerisme?</p>
<p>Kita bisa terjebak upaya placage yang beroperasi dalam dua hal berbeda, tetapi hasilnya sama: kita bisa meletakkan wacana modern (sekulerisme) di atas latar lama (Islam), atau sebaliknya, mengambil wacana lama (Islam) diletakkan di atas latar baru (sekulerisme). Jika demikian, kita akan mengalami fenomena distorsi, karena latar yang ditanamkan di atasnya apakah wacana baru atau lama, tetapi merupakan campuran. Ini disebut un regard mutilé, cara pandang terpotong- potong, cacat, dan tak utuh.</p>
<p>Islam tidak pernah mengalami proses sekulerisasi. Islam berbeda dengan sejarah Kristen. Kristen mengalami reformasi internal yang terjadi di Eropa. Sekulerisme adalah hasil dari gugatan terhadap dominasi gereja yang luar biasa. Gereja pada Abad Pertengahan ingin memaksakan kekuasaannya terhadap kekuasaan sipil. Masyarakat sipil menolak kekuasaan absolut gereja. Dalam pandangan mereka, wewenang gereja telah terlampau jauh.<span id="more-21"></span></p>
<p>Mereka menemukan pembenaran &#8220;sekulerisme&#8221; di dalam ajaran Kristianisme yang memiliki dasar kuat dalam Al Kitab &#8220;Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan Berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.&#8221; Inilah yang dituntut orang-orang Abad Pertengahan. Jadi, sekulerisme merupakan fajar akal budi yang merupakan soko guru modernisme di Eropa. Sekulerisme adalah anak kandung modernitas. Sekulerisme, kata sejarawan Perancis Jacques Le Goff, adalah motor penggerak sejarah Eropa/Barat.</p>
<p><b>Turki dan sekulerisme</b></p>
<p>Istilah sekulerisme di Turki adalah laiklik. Sebelumnya diusulkan oleh Ziya Gokalp sebagai lâ-dînî (non-religion), tetapi ini dituduh sebagai without religion atau ateis.</p>
<p>Menurut François Georgeon dalam artikelnya, Les Combats d’Atatürk (L’Histoire No 289 Juli-Agustus 2004, halaman 74-77), sekulerisasi di Turki yang dimulai oleh Musthafa Kemal Attaturk terinspirasi oleh model sekulerisasi Perancis. Banyak anak muda Turki yang belajar di Perancis tahun 1900-an awal. Mereka menyaksikan proses UU sekulerisme Perancis tahun 1905. Attaturk adalah pengagum Revolusi Perancis, dan ia suka terhadap filsafat pencerahan. Ia banyak terpengaruh oleh ide-ide pemikir Perancis, seperti Ernest Renan. Attaturk juga antiklerikal yang memperlihatkan dengan jelas pengaruh Perancis dalam dirinya.</p>
<p>Setelah membubarkan khilafah pada 1924, Attaturk langsung menghapuskan sistem pendidikan Islam (madrasa), membebaskan hukum dari pengaruh hukum Islam, pengadilan agama ditutup, poligami dilarang, hukum pernikahan Islam diganti dengan hukum positif Swedia, Islam sebagai agama resmi Turki dihapus dari konstitusi hasil perubahan. Pada tahun 1925, Attaturk melarang tarekat, ziarah, dan haji karena revolusi Syeikh Said Kurdi dari Tarekat Naqsyabandiyyah. Pada tahun ini juga dihapuskan dan dilarang pemakaian sorban dan sebagai gantinya orang Turki wajib memakai topi gaya Barat. Tahun 1928 dan 1932, Attaturk menghapuskan bahasa dan tulisan Arab dan diganti dengan huruf Latin; ia mengembangkan bahasa Turki, mengganti bacaan Al Quran, azan, shalat dengan bahasa Turki, dan masuk masjid boleh dengan sepatu.</p>
<p>Masalahnya, kata Georgeon, apakah sekulerisme Turki merupakan fotokopi sekulerisme Perancis? Sebuah adopsi atau adaptasi? Apakah sekulerisme Turki merupakan produk impor Barat atau memiliki akar sejarah yang sudah tua? Dan apakah sekulerisme muncul untuk menghancurkan Islam atau versi modern agama Islam?</p>
<p>Sekulerisme di Turki adalah versi Islam Turki. Orang-orang Turki menyatakan bahwa mereka menciptakan sekulerisme dan bukan memfotokopi karena ada landasan sejarahnya, yaitu sejak tanzimat dilakukan tahun 1830 kecenderungan kepada sekulerisasi sudah tampak dan terasa. Sultan sudah lama mengeluarkan kanun, undang-undang sekuler yang diambil dari adat dan kebiasaan setempat.</p>
<p>Jika dilihat lebih jauh, terutama dari sejarah hukum, ternyata khilafah Turki-Usmaniyyah mempraktikkan hukuman yang berasal dari hukum adat dan sama sekali bukan hukum Islam. Potensi sekulerisme di Turki sudah ada sejak lama dan mereka tidak pernah benar-benar menerapkan hukum Islam, tidak seperti yang selalu dibayangkan oleh Islam radikal.</p>
<p><b>Punya kekuatan hukum</b></p>
<p>Oleh karena itu, sekulerisme di Turki mempunyai kekuatan hukum dan prinsip dasar di dalam konstitusi. Di dalam Pasal 2 UU Turki (no 334, 9 Juli 1961) dijelaskan bahwa &#8220;The Turkish Republic is a nationalistic, democratic, secular, and social state governed by the rule of law, based on human rights and the fundamental tenets set forth in the preamble&#8221;.</p>
<p>Bahkan, Turki merupakan salah satu negara Muslim yang menjamin kebebasan beragama, Pasal 19: &#8220;Every individual is entitled to follow freely the dictates of his conscience to chose his own religious faith and to have his own opinions…&#8221;, dan kebebasan berpikir, Pasal 20: &#8220;every individual is entitled to acquire to have his own opinions and to think freely…&#8221;. Menurut Nilufer Göle, konstitusi dan UU sipil (dari tahun 1926) merupakan faktor keberhasilan sekulerisasi.</p>
<p>Dengan demikian, kekuatan manakah yang akan menang dalam percaturan pemilihan Presiden Turki yang akan datang? Kelompok Islam atau sekuler? Dengan melihat landasan konstitusi Turki dan sejarah Turki, sulit rasanya kelompok Islam memenangi pemilu, apalagi memaksakan Islam sebagai ideologi negara.</p>
<p>Masih segar dalam ingatan kita ketika pemerintah, melalui militer, pada tahun 1997 membubarkan Partai Refah pimpinan Necmettin Erbakan ketika partainya terlalu memperjuangkan &#8220;Islam&#8221;. Sebenarnya mereka dapat bermain cantik seperti Recep Tayyip Erdogan dengan partainya, Justice and Development Party (Adalet ve Kalkinma Paritisi), tetapi mereka pun dicurigai sebagai partai yang membawa misi Islam.</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Militer di Turki adalah l’avant-garde penjaga nilai-nilai sekulerisme Turki. Siapa pun yang mencoba menggantikannya dengan ideologi lain, militer akan turun tangan.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=21&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/turki-antara-islam-dan-sekulerisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkah Sekularisme</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/berkah-sekularisme/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/berkah-sekularisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 18:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/berkah-sekularisme/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Luthfi Assyaukanie
11/04/2005
Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak. Sekularisme sesungguhnya adalah berkah bagi agama-agama.

Sekularisme sebetulnya adalah sebuah istilah netral untuk merujuk konsep tentang pemisahan agama dan negara. Istilah ini pertamakali diperkenalkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=20&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Luthfi Assyaukanie</p>
<h6>11/04/2005</h6>
<p class="excerpt" style="text-align:justify;">Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak. Sekularisme sesungguhnya adalah berkah bagi agama-agama.</p>
<p><!-- EXTENDED MENUS --></p>
<p style="text-align:justify;">Sekularisme sebetulnya adalah sebuah istilah netral untuk merujuk konsep tentang pemisahan agama dan negara. Istilah ini pertamakali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906), seorang sarjana Inggris, sebagai sebuah gagasan alternatif untuk mengatasi ketegangan panjang antara otoritas agama dan otoritas negara di Eropa. Dengan sekularisme, masing-masing agama dan negara memiliki otoritasnya sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perkembangannya, sekularisme menjadi konsep yang sangat efektif, bukan hanya dalam meredam konflik dan ketegangan antara kuasa agama dan negara, tapi juga dalam memberikan landasan pada demokrasi dan persamaan hak.<span id="more-20"></span> </p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah demokrasi yang baik hanya bisa berjalan jika ia mampu menerapkan prinsip-prinsip sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah demokrasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Negara-negara Islam, seperti Turki, Mesir, dan Irak pada masa Saddam Husein, adalah contoh negara yang berusaha mengadopsi sekularisme tapi menerapkannya secara salah. Kesalahan dalam mempersepsi dan menerapkan konsep ini berakibat fatal, karena bukan saja ia gagal dalam mewujudkan sistem politik yang demokratis, tapi juga mencemari konsep sekularisme yang luhur.</p>
<p style="text-align:justify;">Penolakan sebagian kaum Muslim terhadap sekularisme selama ini karena mereka merujuk pada pengalaman negara-negara yang gagal menerapkan prinsip ini, seperti yang disebut di atas. Sekularisme di Turki, misalnya, diidentikkan dengan serial pelarangan terhadap atribut dan praktek-praktek keagamaan. Sekularisme berarti pelarangan jilbab, penutupan institusi pengajaran al-Qur’an, dan penangkapan terhadap aktivis Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Mesir, sekularisme identik dengan diktatorisme. Bagi sebagian besar aktivis Islam di sana, Presiden Husni Mubarak adalah penjelmaan dari sekularisme yang buruk. Sementara di Irak pada masa Saddam Husein dulu, sekularisme identik dengan despotisme dan anti-Tuhan, khususnya karena rezim penguasa adalah partai Ba’ath yang sosialis.</p>
<p style="text-align:justify;">Para pencemar sekularisme bukan hanya datang dari negara Islam. Di Eropa, Perancis kerap dikecam sebagai negara yang menerapkan sekularisme secara salah. Persis seperti di Turki (atau Turki memang meniru model Perancis), sekularisme di Perancis dipahami sebagai kewaspadaan terhadap “ancaman” agama. Memakai jilbab, karenanya, dianggap sebagai ancaman bagi sekularisme. Menarik untuk dicatat bahwa Perancis adalah salah satu dari negara-negara Barat yang paling lambat dalam menerima demokrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Negara-negara yang relatif sukses dalam menerapkan demokrasi adalah negara-negara yang secara baik menempatkan hubungan agama dan negara; mereka adalah negara-negara yang mampu menjalankan prinsip sekularisme dengan benar. Di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara demokratis lainnya, sekularisme tidak dipahami sebagai musuh agama, tapi justru dijadikan sebagai pelindung agama. </p>
<p style="text-align:justify;">Di Inggris, perlindungan sekularisme terhadap agama itu bahkan disimbolisasikan dengan menjadikan Ratu Inggris sebagai Kepala Gereja Anglikan. Meskipun sekilas tampak bertentangan dengan prinsip sekularisme &#8211;yakni pemisahan agama dan negara&#8211; tapi Ratu Inggris sendiri, secara <i>de facto </i>sesungguhnya tak punya kekuatan apa-apa alias sudah terpisah dengan sendirinya dari negara (pemerintahan).</p>
<p style="text-align:justify;">Sekularisme sesungguhnya adalah berkah bagi agama-agama. Di Turki, para aktivis Islam yang tergabung dalam Partai Kebajikan yang berorientasi Islam, menuntut negara agar menerapkan sekularisme secara <i>fair</i>. Merve Kavacki, anggota parlemen Turki berjilbab yang pernah membuat heboh pada tahun 2000 dengan tegas mengatakan bahwa dia dan partainya tak pernah ada masalah dengan sekularisme. “Yang kita inginkan adalah penerapan sekularisme secara adil dan benar, seperti negara-negara Barat melaksanakannya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sama seperti di Turki, di India, kaum Muslim menginginkan sekularisme dan mencemaskan kalau-kalau BJP, partai fundamentalis Hindu, mengganti sekularisme dengan Hindutva, syariah-nya orang-orang Hindu. Buat kaum Muslim di sana, sekularisme adalah berkah yang tak ternilai harganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah tidak <i>fair </i>jika kita mengecam sekularisme semata-mata karena kita merujuk pada praktik sekularisme yang salah. Kita tentu saja tak menginginkan model sekularisme Turki, atau Mesir, atau Perancis. Lagi pula, mengapa kita terobsesi dengan negara-negara yang gagal ini? Mengapa tak berkaca pada pengalaman yang jelas-jelas terbukti sukses? (Luthfi Assyaukanie)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=20&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/berkah-sekularisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pilih Khilafah Ala Manhajir Rasul atau Sekulerisme Ala Amerika</title>
		<link>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/pilih-khilafah-ala-manhajir-rasul-atau-sekulerisme-ala-amerika/</link>
		<comments>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/pilih-khilafah-ala-manhajir-rasul-atau-sekulerisme-ala-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 18:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islamsaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/pilih-khilafah-ala-manhajir-rasul-atau-sekulerisme-ala-amerika/</guid>
		<description><![CDATA[Contributed by Suara Islam
Saturday, 17 November 2007
Jum&#38;rsquo;at siang (16/10) sejumlah tokoh Islam dari berbagai ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI), berkumpul di Aula Al Azhar, memperbincangkan apakah masa depan kepemimpinan umat: Khilafah ala manhajir rasul atau sekularisme ala Amerika. Tokoh Islam yang menjadi pembicara dalam acara halal bihalal dan sarasehan Forum Umat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=19&subd=islamsaja&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Contributed by Suara Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Saturday, 17 November 2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Jum&amp;rsquo;at siang (16/10) sejumlah tokoh Islam dari berbagai ormas Islam yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI), berkumpul di Aula Al Azhar, memperbincangkan apakah masa depan kepemimpinan umat: Khilafah ala manhajir rasul atau sekularisme ala Amerika. Tokoh Islam yang menjadi pembicara dalam acara halal bihalal dan sarasehan Forum Umat Islam ini adalah Rusdy Hamka (YPI Al-Azhar), H Nazri Adlani (Ketua Umum DPP Al Ittihadiyah), KH</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Amrullah Ahmad (Ketua DPP Syarikat Islam), Ust Abu Bakar Basyir ( Amir MMI), KH A Cholil Ridwan (Ketua MUI), Ust Ismail Yusanto (jubir HTI), Ust Mashadi (Ketua FUI) dan host KH M Alkhaththat (Sekjen FUI). Sekitar seribu peserta hadir memadati ruangan Aula Al Azhar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Tokoh Islam lainnya yang hadir sebagai peserta antara lain KH Muhammad Makmun (Pesantren Darul Dalah, Pandeglang), KH Amin Noer (Pesantren Attaqwa), Ust Abu Jibril (MMI), Ust Ja&amp;rsquo;far Shodiq (FPI), Dr Bambang Setyo (Masyarakat Peduli Syariah), Ust Zaaf Fadzlan Al Garamatan (Dai Papua), Alfian Tanjung dan banyak tokoh Islam lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Rusdy Hamka mengatakan bahwa perjuangan penegakan syariat Islam di Indonesia itu sebenarnya sudah dilakukan sejak awal kemerdekaan. Menurutnya keberadaan partai Islam saat itu adalah untuk memperjuangkan agar negara ini diatur dengan syariat Islam. Sayang, kata putra Buya Hamka ini, di era Suharto tidak dibicarakan lagi negara Islam itu oleh partai Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sekarang pun demikian, meski ada partai Islam, namun ternyata tak tegas untuk mendirikan negara Islam.”Lalu untuk apa keberadaan mereka itu,” ujarnya. Menurut beliau bila partai Islam yang ada sekarang ini tidak tegas berjuang untuk menegakkan syariat Islam, maka wajar bila muncul kelompok-kelompok yang berjuang untuk tegaknya syariat Islam.</span><span id="more-19"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Sementara itu H Nazri Adlani, menyerukan kepada umat Islam untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Karena itupula yang dilakukan para sahabat sesaat setelah wafatnya rasululullah SAW. Para sahabat saat itu bukannya segera memakamkan jenazah rasulullah, malah bermusyarah untuk menunjuk siapa pengganti rasulullah. Akhirnya Abu Bakar lah yang terpilih sebagai khalifah saat itu. Berangkat dari cerita tersebut, maka umat Islam memang harus memiliki khalifah atau pemimpin.”Sekarang juga kepemimpinan itu harus ada,” tegasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Kepemimpinan yang dimaksud tentu adalah kepemimpinan yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, yakni yang menjalankan syariah Islam. “Taat kepada Allah dan rasul-Nya itu harus di bawah ulil amri,” ujar ustadz Abu Bakar Basyir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Adalah haram hukumnya, lanjut pimpinan ponpes Ngruki ini bila umat Islam tidak memiliki ulil amri seperti itu, yakni taat kepada Allah dan rasul-Nya. Karena itu saat ini umat Islam harus berusaha untuk hidup di bawah ulil amri yaitu dalam daulah Islam untuk lokal dan Khilafah untuk internasional. Kalau daulah Islam itu sudah ada, maka umat Islam wajib hijrah ke negara Islam itu. Namun, kalau belum ada wajib mengadakannya. “Karena itulah Indonesia ini harus dirubah sistemnya menjadi negara Islam, sebab ini adalah karena perintah Allah,” tegasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Setidaknya dengan adanya negara yang menjalankan syariat Islam, kata ustadz Abu Bakar Basyir, ada tiga manfaat yang dirasakan umat Islam. Pertama, Allah akan memantapkan kedudukan Islam, sehingga tidak diobok-obok musuhmusuh Islam. Sekarang ini Islam diobok-obok karena tidak ada khilafah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Manfaat kedua adalah umat Islam menjadi aman dan tentram. Itu semua terwujud karena negara mengatasi kriminalitas dengan hukum yang paling modern, yakni Islam, Bukan dengan hukum jahiliyah seperti sekarang, yang tak pernah menyelesaikan masalah. Adapun manfaat ketiga, umat Islam itu ibadahnya murni tauhidnya, sehingga tidak ada kemusyrikan. Sekarang ini karena tidak diterapkannya syariah, ada 1001 kesyirikan yang berkembang di negeri ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">“Mengamalkan Islam itu harus dalam bentuk kekuasaan. Maka siapa yang berani membantahnya maka berarti membantah Allah,” tegasnya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Hal senada disampaikan Ahmad Sumargono. Menurut ketua Gerakan Persaudaran Muslim Indonesia ini, kita memang memerlukan kekuasaan atau kekhilafahan. Namun untuk menuju kesana perlu ada top manajemennya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Demokrasi Inheren dengan Sekularisme</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Ketua umum Syarikat Islam, KH Amrullah Ahmad menjelaskan bahwa dunia saat ini dibentuk oleh pendapat mayoritas, sehingga dari situlah sebuah system dibangun. Padahal kata Allah, sembari mengutip sebuah ayat Alquran, barang siapa kita mengikuti mayoritas penduduk bumi, maka niscaya mereka itu akan menyesatkan kita. Sekarang ini, pendapat terbanyak umat manusia di bumi meyakini bahwa demokrasi itu system yang terbaik. Dan dengan demokrasi itu lah mereka menolak syariat Islam. Itu wajar, menurut sekretaris MUI ini, sebab di dalam demokrasi yang berdaulat adalah manusia atau keinginan nafsu manusia. Makanya tak aneh bila demokrasi itu inheren dengan sekulerisme. “Jika umat Islam mengikuti demokrasi maka kita pasti akan tersesat,” ujarnya. Seharusnya kata KH Amrullah, umat Islam kembali kepada system syura. “Maka tak ada jalan jalan lain bagi umat Islam untuk kembali kepada system syura sehingga keputusan tertingginya adalah berdasar Alquran dan Assunnah,” paparnya. Sistemnya bisa saja dengan daulah atau khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">KH Kholid Ridwan setuju bila system demokrasi itu diganti dengan system Islam. “Saya sangat setuju,” tegasnya. Namun saat ini khilafah masih sebuah mimpi, dan kita hidup di alam demokrasi. Karena itu kata ketua MUI, sambil menunggu datangnya khilafah kita bisa memanfaatkan demokrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Gencarkan Sosialisasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Saat ini kita hidup dalam tatanan sekuler. Ketika umat menginginkan kehidupannya diatur dengan Islam maka otomatis umat Islam memerlukan kekuasaan yang didasarkan pada Islam.. “Ketika berbicara tentang kekuasaan itulah, maka kita bicara tentang perubahan, karena system sekarang ini bukan Islam,” ujar Ahmad Sumargono. Untuk merubah system bukan Islam dengan system Islam itu maka menurut Ahmad Sumargono, bisa dilakukan dengan cara revolusi atau reformasi. Selain itu juga perlu meningkatkan rekrutmen kepemimpinan melalui ormas-ormas dan dakwah serta sosialaisai di tengah-tengah umah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia menjelaskan bahwa sosialisasi itu perlu dilakukan oleh semua pihak. Kita harus sebarkan terus ide khilafah ini,” ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Selain itu, Ismail juga menyampaikan bahwa perjuangan menegakkan syariah Islam dan khilafah adalah perjuangan politik. Sebab itulah dibutuhkan adanya partai politik yang tujuannya adalah untuk meraih kekuasaan dan merubah system sekuler ini menjadi system Islam. Sependapat dengan Ahmad Sumargono ada dua cara yang bisa dilakukan untuk melakukan perubahan itu, yaitu dengan jalan revolusi melalui jalan umat atau masuk melalui parlemen. Namun kata Ismail, karena ini perubahan system maka mutlak harus dilakukan dengan revolusi. Itupula yang terjadi di sejumlah negara terkait dengan perubahan system. Termasuk juga yang dilakukan rasulullah SAW. “Namun, revolusi itu akan terjadi kalau kita punya kekuatan umat,” ujarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Jalan kedua memang bisa melalui parlemen. Tapi tugas partai masuk ke parlemen adalah untuk menghentikan sekulerisme dan berjuang menegakkan syariah. “Bukan sebaliknya malah mengokohkan sekulerisme, karena itu adalah kemungkaran terbesar”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Terkait penyiapan pemimpin umat ke depan, munurut Ismail tidak mesti menunggu sampai tahun 2009. Upaya itu bisa dilakukan sejak sekarang. Tapi yang lebih penting adalah apakah umat itu paham atau tidak. “ Dan juga harus diingatkan bahwa perjuangan penegakkan itu tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh Indonesia,” ujarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Dalam ceramah sebelumnya Ismail Yusanto menjelaskan perbedaan antara system khilafah dengan sekuler. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Diantaranya dalam hal penegakan syariah, bahwa dengan tegaknya system khilafah maka syariat Islam akan tegak, karena syariat Islam adalah satu-satunya pilihan. Sementara dalam system sekuler syariat tidak akan tegak, sebab itu adalah salah satu pilihan. Dalam penataan kehidupan, tatanan kehidupan dalam system khilafah jelas, karena berdasar pada syariat. Sedang dalam system sekuler, tidak jelas bahkan penangannya banyak menghasilkan persoalan baru.</span><span style="font-family:Georgia;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamsaja.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamsaja.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamsaja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamsaja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamsaja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamsaja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamsaja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamsaja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamsaja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamsaja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamsaja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamsaja.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamsaja.wordpress.com&blog=3221526&post=19&subd=islamsaja&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamsaja.wordpress.com/2008/03/20/pilih-khilafah-ala-manhajir-rasul-atau-sekulerisme-ala-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/295d963ad31cd7a9d2888cdaf444fbd0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Islam Saja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>